Aku tidak pernah merindukan masa kecil. Bukan karena tidak indah, namun ia cukup sampai di situ. Lagipula pada masa itu, pikiran dan perasaan-perasaanku seperti tidak cocok dengan usiaku. Teman imajinasi, sosok yang kuciptakan sendiri, sebagai kompensasi dari rasa terasing dan bersalah karena mengharapkan kehangatan yang tidak tiba-tiba berubah jadi letusan gunung berapi.
Aku tidak betah berlama-lama main denga teman imajinasi, mungkin takut gila. Hahaha.
Internet kemudian menjadi tempat anak-anak kesepian. Membangun persona dan menuliskan perasaan-perasaanku di buku harian publik.
Rasa sepi dan asing itu juga yang membuatku menulis cerita ketika masih menjadi siswa sekolah dasar. Aku menulis cerita yang terus kulanjutkan hingga episode 500. Setiap cerita adalah imajinasi tentang bagaimana aku ingin diperlakukan, bagaimana aku diinginkan dan disayang, kebutuhan dasar manusia tampaknya. Pada episode ke-500 aku terpaksa membuat semua tokoh menemui ajalnya karena aku tidak punya ide lain bagaimana harus mengakhiri tulisan itu.
Menulis menjadi ruang virtual yang terasa lebih aman dari rumah, lebih intim dari kamar. Jika mengingat hal ini, sulit menerima kenyataan di usia setua ini aku belum menerbitkan satu novelpun. Ketika Ramadhan datang, aku bermain sampai malam dengan anak-anak kampung. Pulang tarawih di masjid, kami duduk mengobrol atau jalan mengelilingi kampung. Ramadhan begitu romantis dan aku harus menuliskannya. Maka aku menulis fiksi lagi di lembar-lembar belakang buku sekolahku. Tulisan yang ini ketahuan dan dibaca kakakku. Kukira akan ditertawakan, namun dia bilang tulisan itu bagus. Padahal hanya romansa bodoh dalam pikiran anak SD, tentang bagaimana lampu jalanan yang kuning menyinari aspal yang basah selepas hujan, berjalan melewati rumah orang yang kusukai, dan hal-hal menggelikan lainnya.
Dalam menulis aku belajar untuk tidak terlalu jahat pada diriku sendiri, untuk mengizinkan emosi menemukan nama-namanya walau hal itu bisa sangat menyakitkan.
Mungkin aku tidak menginginkan rumah masa kecilku kembali. Aku hanya menginginkan perasaan dimana kita bisa pulang, merebah, melepas persona, dan aku membangunnya dalam tulisan. Aku menemukan kemerdekaan itu dalam kata-kata.
Usaha untuk menjadi berkesan adalah tempat wisata yang dibangun di atas tanah kuburan. Ketika Hemmingway mengatakan bahwa menulis adalah "duduk di hadapan mesin tik dan berdarah", saat ini jemariku gemetar. Menulis, jika jujur, membawamu ke tempat-tempat yang tidak pernah kau temukan sebelumnya. Ia membuka sumbatan-sumbatan syarafmu. Sungguh bukan sesuatu yang ingin kulakukan setiap hari. 3

Comments