Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2013

percikan pagi

Tidak perlu kaya raya untuk menyumbang dana, seperti cerita Bai Fang Li, yang menyumbangkan hampir seluruh uang dari menarik becak untuk pendidikan anak-anak yatim piatu. Begitu pula, tidak perlu cerdas untuk punya tempat di masyarakat. Sekarang yang langka adalah dedikasi, bukan bakat. Tanteku yang keterbelakangan mental bisa lebih berguna untuk keluarganya, terutama untuk ibunya, dibandingkan saudara-saudaranya. Semua pekerjaan rumah tangga dikerjakannya. Tidak perlu ahli untuk menyumbang kebaikan pada lingkungan ini, dan kontribusi kita pada lingkungan yang terdekat, yang paling bersinggungan dengan kita sehari-hari, di bawah atap di mana kita tinggal, menggambarkan peran kita sebagai kontributor di lingkungan yang lebih luas. Seorang filosof pernah menulis, impian para cendikiawan itu rendah dan hina, semata-mata hanya ingin akreditasi bagi dirinya sendiri. Tentu saja tidak semua cendikiawan seperti itu, namun hal ini adalah paradoks yang kuperhatikan dalam kenyataan sehari-hari se...

Desakan Untuk Bongkar Muat

Halo lembar digital, Seperti yang sudah seharusnya terjadi, baru beberapa hari yang lalu saya akhirnya menyelesaikan tiga hari performans berturut-turut yang puncaknya adalah pada hari Selasa, 27 September 2013. Hari yang begitu saya tunggu-tunggu. Saya memang menyukai performans, saya suka ide "menghadirkan sesuatu secara hidup pada saat itu juga dan tidak bisa direvisi", namun hari itu lebih membuat saya stres dari performans manapun yang pernah saya lakukan. Karena menari di ujian akhir mahasiswa jurusan tari adalah khayalan saya di masa lalu, salah satu khayalan paling absurd. Seorang gadis kurus, rambut acak-acakan, dengan tugas paper analisa film yang berkejaran, duduk di beranda fakultas film dan memandang ujian tari yang sedang berlangsung di DPR (Di bawah Pohon Rindang). Tidak ada alasan untuk menginginkan ikut menari di situ, tidak ada pengetahuan tentang seni pertunjukan, pula tidak tahu apa yang sedang mereka hadirkan di situ, pokoknya saya ingin, dan berhari-har...

dream report September 1, 2013

Aku di sebuah kelas Sekolah Dasar, nama gurunya Konidln, cowok usia 28 tahun, kira-kira. Sekolah itu sangat sederhana, dan berada di desa. Rp20.000 rasanya sudah seperti Rp200.000, tapi aku anak kota, dan Pak Konidln ini menganggap aku dan teman sebangku ku anak orang kaya. Cara dia menjelaskan pelajaran sama sekali nggak mengalir, dan membuat murid-murid nggak paham. Tidak lama kemudian dia menjual buku diktat yang harus kita beli, tapi ke masing-masing anak dia jual harganya beda-beda, ke aku dan teman sebangku ku dia jual mahal, Rp26.000. Aku melongok ke tas ku, dan kulihat uang 10ribuan berserakan, beberapa ada yang 100ribuan. Aku berusaha memberikan uang pas Rp26.000, dan entah kenapa Pak Konidln ini marah-marah ke aku, aku bertanya, "Dua puluh enam ribu kan?? Apa yang salah?" tapi dia terus marah-marah. Aku yang sedang jadi anak SD akhirnya marah juga, keluarlah kepribadian usia 25 tahun ku ini. "Udah ngajar gak jelas, jual diktat mahal banget!" Pak Konidln ma...