Halo lembar digital,
Seperti yang sudah seharusnya terjadi, baru beberapa hari yang lalu saya akhirnya menyelesaikan tiga hari performans berturut-turut yang puncaknya adalah pada hari Selasa, 27 September 2013. Hari yang begitu saya tunggu-tunggu. Saya memang menyukai performans, saya suka ide "menghadirkan sesuatu secara hidup pada saat itu juga dan tidak bisa direvisi", namun hari itu lebih membuat saya stres dari performans manapun yang pernah saya lakukan. Karena menari di ujian akhir mahasiswa jurusan tari adalah khayalan saya di masa lalu, salah satu khayalan paling absurd. Seorang gadis kurus, rambut acak-acakan, dengan tugas paper analisa film yang berkejaran, duduk di beranda fakultas film dan memandang ujian tari yang sedang berlangsung di DPR (Di bawah Pohon Rindang). Tidak ada alasan untuk menginginkan ikut menari di situ, tidak ada pengetahuan tentang seni pertunjukan, pula tidak tahu apa yang sedang mereka hadirkan di situ, pokoknya saya ingin, dan berhari-hari kemudian, saya sering berkhayal menari dengan mereka. Pada malam hari di kampus saya sering mendongakkan kepala, melihat tubuh-tubuh bergerak begitu hidupnya di antara bingkai jendela Ruang Tari. No reason. Tidak ada alasan, setidaknya yang dapat diilhami di alam sadar.
Beberapa kali saya iseng menonton ujian mereka di Ruang C, Fakultas Seni Pertunjukan. Tentu saja, sendiri. Saya tidak selalu mengerti ceritanya, namun saya rasakan nyata ada yang hadir, yang tidak hadir di film, film Bunuel sekalipun. Tarian itu bisa membuat berdiri bulu-bulu halus di bawah kepala. Setelah itu mereka kembali terlihat seperti orang normal pada umumnya, mereka berdiri, memberi hormat pada penonton, lalu dosen-dosen mereka memberi selamat pada mereka. Hanya itu yang dapat kuingat. Melihat manusia yang sejenak menjadi terlihat lebih dari sekedar manusia, kemudian menjadi biasa-biasa lagi, kemudian mereka memberi hormat dan diberi selamat oleh para pendidiknya.
Saat kejadian yang sama terjadi pada 27 September lalu, saya mempertanyakan keabsahan realita. Saya genggam tangan-tangan yang menyalami, saya dengar "Keisha Aozora" pada saat nama penari dibacakan pada curtain call. Mata saya berbinar seperti anak kecil. Bukan, ini bukan tentang betapa saya suka menari, atau betapa bahagia saya saat itu, tapi ini tentang mengulang memori.
Realita ini layaknya permainan kepala saya. Saya terheran, dalam hati saya menatap perangkat kesadaran saya sendiri, "So this is how you play?" Semua ini seperti skenario. Semuanya, apalagi latar belakang jendela dan tangga-tangga. Tangga-tangga bersilangan di ruangan gelap itu sudah berulang kali muncul di mimpi saya. Saya sering bermimpi terjebak di sebuah rumah berhantu, atau berisi psychopat yang ingin membunuh saya, dan karena sudah berulang kali mimpi itu terjadi, saya jadi mengenal betul rumah dalam mimpi itu, dan tangga-tangga di balik jendela di mana saya menari di depan jendela itu -- adalah blueprint dari lokasi tangga daam mimpi. Entah blueprint, atau justru verbatim. Mana yang nyata mana yang mimpi? Semua jadi blur!
Seperti yang sudah seharusnya terjadi, baru beberapa hari yang lalu saya akhirnya menyelesaikan tiga hari performans berturut-turut yang puncaknya adalah pada hari Selasa, 27 September 2013. Hari yang begitu saya tunggu-tunggu. Saya memang menyukai performans, saya suka ide "menghadirkan sesuatu secara hidup pada saat itu juga dan tidak bisa direvisi", namun hari itu lebih membuat saya stres dari performans manapun yang pernah saya lakukan. Karena menari di ujian akhir mahasiswa jurusan tari adalah khayalan saya di masa lalu, salah satu khayalan paling absurd. Seorang gadis kurus, rambut acak-acakan, dengan tugas paper analisa film yang berkejaran, duduk di beranda fakultas film dan memandang ujian tari yang sedang berlangsung di DPR (Di bawah Pohon Rindang). Tidak ada alasan untuk menginginkan ikut menari di situ, tidak ada pengetahuan tentang seni pertunjukan, pula tidak tahu apa yang sedang mereka hadirkan di situ, pokoknya saya ingin, dan berhari-hari kemudian, saya sering berkhayal menari dengan mereka. Pada malam hari di kampus saya sering mendongakkan kepala, melihat tubuh-tubuh bergerak begitu hidupnya di antara bingkai jendela Ruang Tari. No reason. Tidak ada alasan, setidaknya yang dapat diilhami di alam sadar.
Beberapa kali saya iseng menonton ujian mereka di Ruang C, Fakultas Seni Pertunjukan. Tentu saja, sendiri. Saya tidak selalu mengerti ceritanya, namun saya rasakan nyata ada yang hadir, yang tidak hadir di film, film Bunuel sekalipun. Tarian itu bisa membuat berdiri bulu-bulu halus di bawah kepala. Setelah itu mereka kembali terlihat seperti orang normal pada umumnya, mereka berdiri, memberi hormat pada penonton, lalu dosen-dosen mereka memberi selamat pada mereka. Hanya itu yang dapat kuingat. Melihat manusia yang sejenak menjadi terlihat lebih dari sekedar manusia, kemudian menjadi biasa-biasa lagi, kemudian mereka memberi hormat dan diberi selamat oleh para pendidiknya.
Saat kejadian yang sama terjadi pada 27 September lalu, saya mempertanyakan keabsahan realita. Saya genggam tangan-tangan yang menyalami, saya dengar "Keisha Aozora" pada saat nama penari dibacakan pada curtain call. Mata saya berbinar seperti anak kecil. Bukan, ini bukan tentang betapa saya suka menari, atau betapa bahagia saya saat itu, tapi ini tentang mengulang memori.
Realita ini layaknya permainan kepala saya. Saya terheran, dalam hati saya menatap perangkat kesadaran saya sendiri, "So this is how you play?" Semua ini seperti skenario. Semuanya, apalagi latar belakang jendela dan tangga-tangga. Tangga-tangga bersilangan di ruangan gelap itu sudah berulang kali muncul di mimpi saya. Saya sering bermimpi terjebak di sebuah rumah berhantu, atau berisi psychopat yang ingin membunuh saya, dan karena sudah berulang kali mimpi itu terjadi, saya jadi mengenal betul rumah dalam mimpi itu, dan tangga-tangga di balik jendela di mana saya menari di depan jendela itu -- adalah blueprint dari lokasi tangga daam mimpi. Entah blueprint, atau justru verbatim. Mana yang nyata mana yang mimpi? Semua jadi blur!
Setelah pertunjukan selesai kami menunggu di rooftop, ruang pertunjukan dikosongkan karena koreografer hendak segera sidang kelulusan di tempat.
Saya merekam pemandangan malam itu setelah impian menari di karya ujian selesai, agar saya ingat apa yang disuguhkan alam setelah itu.

Karena khayalan saya hanya sampai curtain call, momen di rooftop ini barulah terasa seperti realita. Ini lanjutan nya, ini adalah scene berikutnya di dalam lembar skenario yang ada di mikrokosmos saya. Saya ini sebuah alam.
Setelah kira-kira satu jam menunggu di rooftop -- mendengarkan riuhnya suara tawa dari sebuah meja, beralih ke perbincangan tentang set panggung di antara mereka yang duduk di pinggiran fence, dan ditutup oleh curhat percintaan di meja yang kini lebih senyap -- kami menuju ke Upstairs Bar.
Setelah sekian lama, saya mabuk -- yang benar-benar mabuk, malam itu. Saya senang, malam itu begitu bahagianya, ada perasaan sedih, menang, dan haru, yang lebur dalam lagu "I Will Survive" yang saya teriak-teriakkan di microphone, malam itu.
I will survive
As long as I know how to love I know I'll be alive
I've got all my life to live
I've got all my love to give
I will survive
As long as I know how to love I know I'll be alive
I've got all my life to live
I've got all my love to give
I will survive
Betapa senangnya melihat orang lain senang, betapa bahagianya sesuatu yang diusahakan betul-betul, akhirnya berhasil. Selama berproses, saya sering berbincang dengan diri sendiri, seperti kulit telur berbicara pada isinya, dan didengar oleh seisi kulkas. Begitu analoginya...
Setiap kali rasa lelah menyerang, saya bilang, "Hey, ini yang kamu minta lho..ingat?" Tak jarang rasa malas hinggap ketika saya berusaha untuk hadir secara penuh, namun saya ingatkan pada yang di dalam, "Kalau udah nyebur, sekalian menyelam!"
![]() | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| dari Arlin Putri, untuk saya dan Meitha (24,25 Mei 2013) |
![]() |
| dari Jakarta Art Movement |



Comments