Tahun lalu aku mempertanyakan diriku. Di mana ketajaman yang selalu sinonim denganku, di mana keberanian, di mana kejernihan niat yang berkali-kali membuatku bisa sampai di garis final dari apapun. Aku duduk di Sebastian Coffee dan menulis di balik kwitansi fisioterapi. "Do we already use all of our mind capacity? I feel some kind of cavity." Karies mental. Tidak berani menulis satu halaman pun. Seperti pendaki amatir yang tersesat di hutan, terpisah dari teman-temannya dan tidak tau arah, tidak bisa turun dan puncak terlalu berbahaya . Kemudian aku membuka-buka tulisan lama, usia 22, sebagai usaha menelusuri jejak bagaimana aku dulu,kata temanku,menerjang hidup. "Kamu orang yang menerjang hidup", kata Nanindra. Bahkan penelusuran itu tidak membantu banyak. Pertolongan akhirnya datang, menghampiri seperti tim SAR. Sejak itu kemudian aku kerja keras. Rasanya seperti pendaki yang tersesat itu, diberitau kalau peta yang kupunya itu peta wisata, bukan peta penda...
live real. dream big.