Tahun lalu aku mempertanyakan
diriku. Di mana ketajaman yang selalu sinonim denganku, di mana keberanian, di
mana kejernihan niat yang berkali-kali membuatku bisa sampai di garis final
dari apapun. Aku duduk di Sebastian Coffee dan menulis di balik kwitansi
fisioterapi. "Do we already use all of our mind capacity? I feel some kind
of cavity."
Karies mental. Tidak berani menulis satu halaman pun. Seperti
pendaki amatir yang tersesat di hutan, terpisah dari teman-temannya dan tidak
tau arah, tidak bisa turun dan puncak terlalu berbahaya. Kemudian aku membuka-buka tulisan lama, usia
22, sebagai usaha menelusuri jejak bagaimana aku dulu,kata temanku,menerjang
hidup.
"Kamu orang yang menerjang
hidup", kata Nanindra.
Bahkan penelusuran itu tidak membantu
banyak. Pertolongan akhirnya datang, menghampiri seperti tim SAR. Sejak itu
kemudian aku kerja keras. Rasanya
seperti pendaki yang tersesat itu, diberitau kalau peta yang kupunya itu peta
wisata, bukan peta pendaki. Aku selalu pulang dari Serpong dengan senyum yang
tipis, hampir tidak terlihat, tapi senyum itu benar-benar ada. Badanku kurus dan berkeringat dingin, karena kurang asupan dan istirahat.
But remember when I moved in you
And the holy dove was moving too
And every breath we drew was Hallelujah
Kurang tidur dan semua rasa sakit itu tidak seberapa dibanding perasaan
tertolong, perasaan bahwa perjalanan akhirnya bisa diselesaikan. Hallelujah
selalu kuulang-ulang di telingaku sepanjang perjalanan pulang. Itu lagu cinta,
dimana Jeff Buckley menyanyikan bahwa cinta bukan kemenangan, cinta itu dingin
dan bagaikan Hallelujah yang patah.
“Harus lebih fokus,”
“Apa ini? Nggak progress!”
“Kamu tau nggak kenapa Cezanne melukis apel yang sama sampai 99 kali dan
yang masuk galeri cuma satu? Makanya baca! Belajar!”
Aku merasa disayang, dicintai, ditolong, atau mungkin lebih tepat
kukatakan pada hari-hari itu aku merasakan kasih sayang, cinta, dan
pertolongan, dari banyak arah, kecuali rumah.
Di perjuanganku yang sebelum-sebelumnya aku selalu merasa tajam, kuat,
dan siap menerjang. Kali ini aku tanpa pedang tanpa perisai, dan aku belajar
bahwa berserah juga manifestasi dari kekuatan. Bahwa berjalan pelan tidak lebih
lemah dari yang berlari dan melompat, bahwa membutuhkan pertolongan itu tidak
apa-apa.
Hampir setiap Kamis dan Sabtu aku menggantikan guruku mengajar kelas tari. Dari pesan yang seringnya mendadak dan terdengar semena-mena, naif kalau aku bilang itu cinta. Tapi nyatanya aku memang menunggu Kamis dan Sabtu itu setiap minggunya. Aku menumpahkan banyak di kelas-kelas itu. Aku mendapat banyak dari berkumpul dengan anak-anak kecil dan teman-teman yang lebih muda. Ketika menari di tengah mereka aku merasa sedang hidup dengan sebaik-baiknya. Ketika mereka menarikan rangkaianku aku merasa hidupku terlalu beruntung, berlimpah sampai rasanya tidak adil. Tidak adil bahwa aku begitu bahagia, begitu diberi ruang.
Ada orangtua siswa yang kemudian jadi teman. Dia minta untuk menari denganku, dan kemudia selalu berulang-ulang mengucapkan terima kasih. Itu adalah hari-hari yang gila. Aku bukan lagi diriku yang berperisai baja. Aku merasa bukan siapa-siapa tapi orang-orang di sekelilingku merasa begitu bahagia dengan apa yang kulakukan. Kelas hari Kamis selalu mundur sampai jam tujuh malam karena salah satu penari ingin mengulang-ulang tarianku sampai sempurna. Aku penuh, tumpah ruah dan sekaligus patah.
You know, I used to live alone before I knew ya
And I've seen your flag on the marble arch
And love is not a victory march

Comments