Skip to main content

sudah lunas ya, 2019




Tahun lalu aku mempertanyakan diriku. Di mana ketajaman yang selalu sinonim denganku, di mana keberanian, di mana kejernihan niat yang berkali-kali membuatku bisa sampai di garis final dari apapun. Aku duduk di Sebastian Coffee dan menulis di balik kwitansi fisioterapi. "Do we already use all of our mind capacity? I feel some kind of cavity."

Karies mental. Tidak berani menulis satu halaman pun. Seperti pendaki amatir yang tersesat di hutan, terpisah dari teman-temannya dan tidak tau arah, tidak bisa turun dan puncak terlalu berbahaya. Kemudian aku membuka-buka tulisan lama, usia 22, sebagai usaha menelusuri jejak bagaimana aku dulu,kata temanku,menerjang hidup.

"Kamu orang yang menerjang hidup", kata Nanindra.

Bahkan penelusuran itu tidak membantu banyak. Pertolongan akhirnya datang, menghampiri seperti tim SAR. Sejak itu kemudian aku kerja keras. Rasanya seperti pendaki yang tersesat itu, diberitau kalau peta yang kupunya itu peta wisata, bukan peta pendaki. Aku selalu pulang dari Serpong dengan senyum yang tipis, hampir tidak terlihat, tapi senyum itu benar-benar ada. Badanku kurus dan berkeringat dingin, karena kurang asupan dan istirahat.

But remember when I moved in you

And the holy dove was moving too
And every breath we drew was Hallelujah

Kurang tidur dan semua rasa sakit itu tidak seberapa dibanding perasaan tertolong, perasaan bahwa perjalanan akhirnya bisa diselesaikan. Hallelujah selalu kuulang-ulang di telingaku sepanjang perjalanan pulang. Itu lagu cinta, dimana Jeff Buckley menyanyikan bahwa cinta bukan kemenangan, cinta itu dingin dan bagaikan Hallelujah yang patah.

“Harus lebih fokus,”

“Apa ini? Nggak progress!”

“Kamu tau nggak kenapa Cezanne melukis apel yang sama sampai 99 kali dan yang masuk galeri cuma satu? Makanya baca! Belajar!”

Aku merasa disayang, dicintai, ditolong, atau mungkin lebih tepat kukatakan pada hari-hari itu aku merasakan kasih sayang, cinta, dan pertolongan, dari banyak arah, kecuali rumah.

Di perjuanganku yang sebelum-sebelumnya aku selalu merasa tajam, kuat, dan siap menerjang. Kali ini aku tanpa pedang tanpa perisai, dan aku belajar bahwa berserah juga manifestasi dari kekuatan. Bahwa berjalan pelan tidak lebih lemah dari yang berlari dan melompat, bahwa membutuhkan pertolongan itu tidak apa-apa.

Hampir setiap Kamis dan Sabtu aku menggantikan guruku mengajar kelas tari. Dari pesan yang seringnya mendadak dan terdengar semena-mena, naif kalau aku bilang itu cinta. Tapi nyatanya aku memang menunggu Kamis dan Sabtu itu setiap minggunya. Aku menumpahkan banyak di kelas-kelas itu. Aku mendapat banyak dari berkumpul dengan anak-anak kecil dan teman-teman yang lebih muda. Ketika menari di tengah mereka aku merasa sedang hidup dengan sebaik-baiknya. Ketika mereka menarikan rangkaianku aku merasa hidupku terlalu beruntung, berlimpah sampai rasanya tidak adil. Tidak adil bahwa aku begitu bahagia, begitu diberi ruang.

Ada orangtua siswa yang kemudian jadi teman. Dia minta untuk menari denganku, dan kemudia selalu berulang-ulang mengucapkan terima kasih. Itu adalah hari-hari yang gila. Aku bukan lagi diriku yang berperisai baja. Aku merasa bukan siapa-siapa tapi orang-orang di sekelilingku merasa begitu bahagia dengan apa yang kulakukan. Kelas hari Kamis selalu mundur sampai jam tujuh malam karena salah satu penari ingin mengulang-ulang tarianku sampai sempurna. Aku penuh, tumpah ruah dan sekaligus patah.

Dua ribu sembilan belas aku belajar bahwa kekuatan ada pada keterbukaan, kemauan untuk menerima sisi rapuh dan justru kesadaran akan rapuh itu yang membuat segala hal yang kutemui seperti ingin menguatkanku, memberiku tempat berlindung. Memang ketajamanku di tahun-tahun sebelumnya tidak bisa membantuku kali ini, karena transformasi besar-besaran sedang terjadi.

Untuk setiap malam yang kulewati sampai lewat jam 5 pagi, untuk setiap palpitasi dan teks yang menjadi gua untuk ditelusuri, aku berterima kasih. Terima kasih ya, Keisha, kamu nggak menyerah.

Untuk setiap Kamis dan Sabtu, teriakan anak-anak yang main kejar-kejaran saat aku sedang ngajar, kemudian ingin menari dengan sebaik-baiknya, untuk studio yang menjadi rumah, untuk pesan-pesan WA tengah malam yang menguatkan, kalian ada dalam perjalananku selamanya. Karena kalian aku bisa melewati Kilimanjaro yang terlalu tinggi dan berbahaya.

I've seen this room and I've walked this floor
You know, I used to live alone before I knew ya
And I've seen your flag on the marble arch
And love is not a victory march

It's a cold and it's a broken Hallelujah 


Comments

Popular posts from this blog

It Has Been A Lot!

Wow, where should I start? So my comeback to dance class after a month break (sebulan aje dibahas...gimana lebih? Udah jadi buku keleus :D) had been a wild ride. Right away rehearsal for a performance and coordinating an event at the same time. Berto gave me this job from IDF, where I worked as P.I.C for Dance Writing Workshop. My girl IKAN said why am I taking the job if I am so busy? The answer is clear: I need to pay college. Ikan said she can just lend me money and I can focus on my thesis. God, bless this human that is my best friend. That's very kind and thoughtful of her. Anyway, I took the job so I was running 2 events at the same time. One in Cikini, Central Jakarta and one in SOM, South Tangerang. I became an adept Commuter Line user. I no longer mistaken peron 1 with peron 2 and silly things like that, like not knowing which gate I should enter after scanning my card to enter the peron. Duh. Duh 100x. I wasn't particularly on diet but I really didn't want to ea...

What is happiness? It sounds like a snack.

I would, like usually, open this post by saying "Things are crazy". Yes, I don't know are things really crazy or is it just me. I think it's the latter. Life appears as surprises to me. And I act like a door, opening this tunnel, closing another one. I don't feel dull, and I can't say my days have been dull for they are full with challenges. But I have been so alone. This also sounds weird. Since when that I'm not alone? I always pull myself back from any social event. I hang out alone. I guess the last time I had a good time outside the house/office/campus with another human being was the last Saturday in January, so it's a month ago. It is true that if I just ask, I will get people willing to go with me. But I am the pickiest picky pick ever because most of the times when I don't pick, I get bored with dull conversations, or a view of someone watching his/her phone like there's nothing else to see. So all this time I hang out alone. Mos...

sehat

Aku masih sakit, nih, blog.. padahal besok udah hari Kamis, harus bekerja di Pingu's. Semoga hari ini sembuh dong, yuk yaaaa...yuuk cepet sehat. Cepet mandi terus ke kampus. Lah kapan istirahatnya? Akakakaka... harus mengejar Armantono nih ik. Come on warrior!!!!!!! Ik merasa hampir gilaaaaaaaaaaaaa aaaaaaaaghhhhhhhhhhhhhhh lontooooooooooooong please, please, ik mau lulus semester ini. Please sehat wal afiat, dan sexy walafeksi... (gila)