Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2025

Keasyikan Pagi Hari

Bangun jam setengah delapan pagi tanpa rasa bersalah karena memang sedang nggak sholat, ditambah lagi enggak jadi training di Pluit. Herda masih tidur dan aku nongkrong di ruang depan, ruangannya. Dengan secangkir kopi hitam panas, setelah sarapan 1 telur rebus dan 1 sosis kanzler single. Jendela kubuka dan sinar matahari menghangatkanku yang duduk di lantai, tidak seperti di ruanganku dimana aku duduk di kursi. Ruangan Herda sudah pasti kotor. Abu rokok berhamburan, asbak penuh, mejanya berserak tembakau. Sambil ngopi ditemani siaran radio, kubersihkan perlahan ruangan itu. Awalnya hanya lantai di bawah mejanya, pada akhirnya sampai temboknya pun kubersihkan. Tumpukan buku kami di lantai yang ditutup taplak meja murahan, sekadar agar tidak terlihat -- juga kususun ulang, kubersihkan lantainya. Tanpa bersungut. Aku menikmati pagi itu. Ini rasanya merdeka. Ternyata koleksi buku kami keren-keren, sayang kami tidak pandai merawatnya sehingga kertasnya menguning.  Kekerasan Budaya Pasc...

doktrin bahagia

 Aku tidak  lagi fasih dalam menelanjangi luka. Usia, mungkin, dan tekanan sosial membuatku merasa malu atau tidak nyaman membahas tentang hal-hal yang membuatku berdarah. Seniman, kata mereka, menutup dan menyingkap. Menulis adalah latihanku untuk tidak jadi semakin normatif, untuk tidak jadi semakin menua dan tumpul. Insensitif. Puasa media sosial juga usahaku untuk tujuan yang sama. Bahwa kita tidak harus selalu terlihat bahagia. Palestina digenosida, Indonesia pun fasis pada rakyatnya sendiri. Aneh kalau kau tetap memaksakan doktrin The Secret untuk tidak membicarakan apapun yang menyakitkan. Nikma, sahabatku, bercerita pada suatu siang terik di Bali, ia meneteskan air mata ketika mendengarkan Jeff Buckley menyanyikan "Hallelujah". Tidak seperti belasan tahun lalu di mana aku dengan bebas menuliskan semua yang kurasakan, membagikannya di Facebook, orang-orang merasa terhubung dengannya - mereka berkomentar dan mengirim pesan -- kini aku tidak berani -- jangankan untuk mem...

a distracted post

Dear Blog, This must be a quick recap. But I wanna listen to music first. It's 6:29 in the morning, September 7th, 2025. This is the first laptop I bought fully with my own money. Ingat, dalam hartamu ada harta orang lain. Zakat, kata agama. Pajak, kata Sri Mulyani. Thirty seven is fuckin young, I shouldn't feel weird or guilty for still feeling young. It's foolish to be willingly get entrapped in society's narration. So yesterdayyy was Saturday and I worked. Jam 9-10 aku PTC. Yang datang mamanya Meru, lalu papanya Kiano dan terakhir mamanya Rafka. Sisanya 3 parent tidak datang. Itu report2 baru kukerjakan malamnya, dengan bolpen. Mama Meru terlihat bahagia sekali dengan hasilnya.  By now it's 3:01 PM I'm somewhere nice but dark. Akhirnya lampunya dinyalain. Today was quite an adventure. Aku kebangun jam 4:23 karena suara ngorok yang bagaikan alarm kebakaran. Sekuat tenaga kuangkat badan dia kusuruh pindah keluar karena sudah mengganggu stabilitas keamanan nasio...