Bangun jam setengah delapan pagi tanpa rasa bersalah karena memang sedang nggak sholat, ditambah lagi enggak jadi training di Pluit. Herda masih tidur dan aku nongkrong di ruang depan, ruangannya. Dengan secangkir kopi hitam panas, setelah sarapan 1 telur rebus dan 1 sosis kanzler single. Jendela kubuka dan sinar matahari menghangatkanku yang duduk di lantai, tidak seperti di ruanganku dimana aku duduk di kursi. Ruangan Herda sudah pasti kotor. Abu rokok berhamburan, asbak penuh, mejanya berserak tembakau. Sambil ngopi ditemani siaran radio, kubersihkan perlahan ruangan itu. Awalnya hanya lantai di bawah mejanya, pada akhirnya sampai temboknya pun kubersihkan. Tumpukan buku kami di lantai yang ditutup taplak meja murahan, sekadar agar tidak terlihat -- juga kususun ulang, kubersihkan lantainya. Tanpa bersungut. Aku menikmati pagi itu. Ini rasanya merdeka. Ternyata koleksi buku kami keren-keren, sayang kami tidak pandai merawatnya sehingga kertasnya menguning.
Kekerasan Budaya Pasca 1965, buku-buku yang ditulis oleh dan membahas Deleuze, novel Castaneda jilid 2, itu harta karunku. Buku tentang fine art dan arsip skena musik koleksi Herda. Beberapa buku saku bertema anarki juga kutemukan di situ, pemberian teman-temannya.
Pagi itu sangat membangunkan ingatan akan masa belasan tahun lalu di kos. Duduk bersila di lantai menghadap meja, menikmati pagi dengan kopi hitam. Menulis diary sambil mendengarkan Trax FM. Tanpa media sosial. Hari ini aku membuka Instagram karena ingin melihat daftar harga buku yang dulu kami jual. Membuka Instagram sungguh merusak keasyikan hari ini. Tapi aku cukup pintar untuk tidak merusak pagi itu. Aku menginstall Instagram ketika sudah tidak di rumah.
Comments