Skip to main content

doktrin bahagia

 Aku tidak  lagi fasih dalam menelanjangi luka. Usia, mungkin, dan tekanan sosial membuatku merasa malu atau tidak nyaman membahas tentang hal-hal yang membuatku berdarah. Seniman, kata mereka, menutup dan menyingkap.

Menulis adalah latihanku untuk tidak jadi semakin normatif, untuk tidak jadi semakin menua dan tumpul. Insensitif. Puasa media sosial juga usahaku untuk tujuan yang sama. Bahwa kita tidak harus selalu terlihat bahagia. Palestina digenosida, Indonesia pun fasis pada rakyatnya sendiri. Aneh kalau kau tetap memaksakan doktrin The Secret untuk tidak membicarakan apapun yang menyakitkan.

Nikma, sahabatku, bercerita pada suatu siang terik di Bali, ia meneteskan air mata ketika mendengarkan Jeff Buckley menyanyikan "Hallelujah". Tidak seperti belasan tahun lalu di mana aku dengan bebas menuliskan semua yang kurasakan, membagikannya di Facebook, orang-orang merasa terhubung dengannya - mereka berkomentar dan mengirim pesan -- kini aku tidak berani -- jangankan untuk membagikannya, menulis untuk diriku saja aku urung. 

Tidak ada energi untuk terluka.

Tidak ada waktu untuk menyeka darahnya.

Aku bermain di air dangkal. Perasaan yang ringan, namun tiba-tiba bercucuran air mata ketika Cayman Island diputar oleh stasiun radio yang kudengarkan. "Kenapa?" tanya suamiku. Walau ia orang yang sangat pengertian, aku tidak suka menjelaskan banyak hal yang meruntuhkan tembokku, tembok kolam dangkal itu.

"Aku hafal seitap kata dari lagu ini"

Satu album itu, sebagian besar aku bisa menyanyikan liriknya karena  kuputar berulang kali di Boombox ku, kujaga dengan penuh kehati-hatian karena CD itu milik teman. Harganya pasti mahal. Aku tidak meminjamnya, ia yang ingin meminjamkan kepadaku, dan CD itu berada di kos ku selama lebih dari setahun.

Cayman Island adalah lagu kedua di Side A, diawali dengan lagu yang lebih anjing lagi: Homesick. Pada masa itu aku tidak menangis.  Lagu-lagu itu nyaman di telinga dan di hatiku. Namun setelah era brutal itu lewat, aku tidak mau ada satupun lagu dari album itu di gawai, terutama Homesick dan Cayman Island.

Ketika aku memutuskan untuk mengembalikan CD tersebut, aku seolah berkata, "Ini kukembalikan, karena kamu yang membelinya. Namun album itu sudah jadi milikku."

Pada hari-hari yang abrasif itu aku tidak menangis. Aku marah, dan di dadaku selalu berdesir perasaan kehilangan, seperti sesuatu direnggut dengan paksa dariku. Aku tidak tahu harus bagaimana, apakah aku berada dalam sebuah film apokaliptik?

Teman-temanku tidak mengerti, karena mereka bukan perantau. Atau mungkin karena mereka dangkal saja. Mereka punya rumah untuk berpulang dan merasa nyaman. Amarah itu nyeri sekali sehingga aku melampiaskannya untuk mengurangi nyeri.

Lagu akustik dengan petikan gitar yang syahdu, namun aku brutal. Apa yang kulakukan, yang terjadi padaku, dan kecamuk yang sesuai dengan hymne kampusku saat itu - debur ombak pecahkan karang, langit bara di cakarawala.

Comments

Popular posts from this blog

It Has Been A Lot!

Wow, where should I start? So my comeback to dance class after a month break (sebulan aje dibahas...gimana lebih? Udah jadi buku keleus :D) had been a wild ride. Right away rehearsal for a performance and coordinating an event at the same time. Berto gave me this job from IDF, where I worked as P.I.C for Dance Writing Workshop. My girl IKAN said why am I taking the job if I am so busy? The answer is clear: I need to pay college. Ikan said she can just lend me money and I can focus on my thesis. God, bless this human that is my best friend. That's very kind and thoughtful of her. Anyway, I took the job so I was running 2 events at the same time. One in Cikini, Central Jakarta and one in SOM, South Tangerang. I became an adept Commuter Line user. I no longer mistaken peron 1 with peron 2 and silly things like that, like not knowing which gate I should enter after scanning my card to enter the peron. Duh. Duh 100x. I wasn't particularly on diet but I really didn't want to ea...

What is happiness? It sounds like a snack.

I would, like usually, open this post by saying "Things are crazy". Yes, I don't know are things really crazy or is it just me. I think it's the latter. Life appears as surprises to me. And I act like a door, opening this tunnel, closing another one. I don't feel dull, and I can't say my days have been dull for they are full with challenges. But I have been so alone. This also sounds weird. Since when that I'm not alone? I always pull myself back from any social event. I hang out alone. I guess the last time I had a good time outside the house/office/campus with another human being was the last Saturday in January, so it's a month ago. It is true that if I just ask, I will get people willing to go with me. But I am the pickiest picky pick ever because most of the times when I don't pick, I get bored with dull conversations, or a view of someone watching his/her phone like there's nothing else to see. So all this time I hang out alone. Mos...

sehat

Aku masih sakit, nih, blog.. padahal besok udah hari Kamis, harus bekerja di Pingu's. Semoga hari ini sembuh dong, yuk yaaaa...yuuk cepet sehat. Cepet mandi terus ke kampus. Lah kapan istirahatnya? Akakakaka... harus mengejar Armantono nih ik. Come on warrior!!!!!!! Ik merasa hampir gilaaaaaaaaaaaaa aaaaaaaaghhhhhhhhhhhhhhh lontooooooooooooong please, please, ik mau lulus semester ini. Please sehat wal afiat, dan sexy walafeksi... (gila)