Aku di sebuah kelas Sekolah Dasar, nama gurunya Konidln, cowok usia 28 tahun, kira-kira. Sekolah itu sangat sederhana, dan berada di desa. Rp20.000 rasanya sudah seperti Rp200.000, tapi aku anak kota, dan Pak Konidln ini menganggap aku dan teman sebangku ku anak orang kaya. Cara dia menjelaskan pelajaran sama sekali nggak mengalir, dan membuat murid-murid nggak paham. Tidak lama kemudian dia menjual buku diktat yang harus kita beli, tapi ke masing-masing anak dia jual harganya beda-beda, ke aku dan teman sebangku ku dia jual mahal, Rp26.000. Aku melongok ke tas ku, dan kulihat uang 10ribuan berserakan, beberapa ada yang 100ribuan. Aku berusaha memberikan uang pas Rp26.000, dan entah kenapa Pak Konidln ini marah-marah ke aku, aku bertanya, "Dua puluh enam ribu kan?? Apa yang salah?" tapi dia terus marah-marah. Aku yang sedang jadi anak SD akhirnya marah juga, keluarlah kepribadian usia 25 tahun ku ini. "Udah ngajar gak jelas, jual diktat mahal banget!" Pak Konidln makin marah setelah menerima serangan balik dari murid SD nya. Kalau nggak salah ingat dia melempar kertas kepadaku saking marahnya, tapi ga kena. Kubalas dengan ngelempar segenggam crayon ke mukanya, dan kena! Hahahaa!!
Wow, where should I start? So my comeback to dance class after a month break (sebulan aje dibahas...gimana lebih? Udah jadi buku keleus :D) had been a wild ride. Right away rehearsal for a performance and coordinating an event at the same time. Berto gave me this job from IDF, where I worked as P.I.C for Dance Writing Workshop. My girl IKAN said why am I taking the job if I am so busy? The answer is clear: I need to pay college. Ikan said she can just lend me money and I can focus on my thesis. God, bless this human that is my best friend. That's very kind and thoughtful of her. Anyway, I took the job so I was running 2 events at the same time. One in Cikini, Central Jakarta and one in SOM, South Tangerang. I became an adept Commuter Line user. I no longer mistaken peron 1 with peron 2 and silly things like that, like not knowing which gate I should enter after scanning my card to enter the peron. Duh. Duh 100x. I wasn't particularly on diet but I really didn't want to ea...
Comments