Tidak perlu kaya raya untuk menyumbang dana,
seperti cerita Bai Fang Li, yang menyumbangkan hampir seluruh uang dari menarik becak untuk pendidikan anak-anak yatim piatu.
Begitu pula, tidak perlu cerdas untuk punya tempat di masyarakat. Sekarang yang langka adalah dedikasi, bukan bakat.
Tanteku yang keterbelakangan mental bisa lebih berguna untuk keluarganya, terutama untuk ibunya, dibandingkan saudara-saudaranya. Semua pekerjaan rumah tangga dikerjakannya.
Tidak perlu ahli untuk menyumbang kebaikan pada lingkungan ini, dan kontribusi kita pada lingkungan yang terdekat, yang paling bersinggungan dengan kita sehari-hari, di bawah atap di mana kita tinggal, menggambarkan peran kita sebagai kontributor di lingkungan yang lebih luas.
Seorang filosof pernah menulis, impian para cendikiawan itu rendah dan hina, semata-mata hanya ingin akreditasi bagi dirinya sendiri. Tentu saja tidak semua cendikiawan seperti itu, namun hal ini adalah paradoks yang kuperhatikan dalam kenyataan sehari-hari seperti kedua tanteku yang keterbelakangan mental dan yang satu lagi hanya lulusan SMA, betapa mereka berdua bekerja keras untuk ketentraman hidup ibundanya, dan masih bisa menyumbang tenaga untuk saudara-saudaranya yang berpendidikan tinggi dari kalangan intelektual. Tentunya tanteku yang lulusan SMA ini hanya cakap menyetir mobil, sementara kakak-kakaknya punya lebih banyak keahlian dan pengalaman kerja. Namun saat beranjak tua, itulah saat di mana kebiasaan yang kita pupuk selama ini terlihat hasilnya. Yang biasa memerintah akan hanya bisa memerintah, dan yang biasa melayani, akan terus melayani.
Comments