Dalam perjalanan ke luar kota berkali-kali dalam seminggu itu, seorang gadis kecil usia 9 tahun menemukan cara menghibur dirinya. Di jok belakang mobil, di tengah kemacetan, ia mencatat semua nama salon yang dilewatinya, lengkap dengan alamat jika tercantum dan sempat terbaca olehnya. Citanya adalah memecahkan rekor MURI sebagai orang yang mendatangi salon paling banyak. Hahaha! Anak kecil itu adalah aku dengan impian anehku. Walau aneh, itu adalah kemampuan yang langka pada anak-anak masa kini. Otak mereka tidak bisa memproduksi dopamin yang cukup tanpa permainan dan tontonan dari layar. Kami dulu sudah melayang ke angkasa hanya dengan alunan musik dan memandangi jendela.
Impianku memecahkan rekor MURI itu baru kuceritakan pada Herda dalam perjalanan motor ke Depok. Ia sampai memukul-mukul helmnya karena rasa geli.
Tulisan ini kutulis di Dua Sendok, sebuah rumah makan di Depok, di bawah pohon rindang menunggu kedatangan Nikma. Dia memilih tempat ini karena perjalanannya gratis menggunakan Jaklingko. Hari itu aku tidak puasa dan sudah sampai di sini jam 16.00. Sangat sepi dan menyenangkan, walau meja-meja di area selasar semua terpasang penanda 'dipesan'. Langit mendung dan angin bertiup sejuk. Aku sudah memperkirakan, ini kalau turun hujan, kita akan berdiri di dalam, tidak dapat kursi.
Dari rumah aku sudah berbekal My Baby Minyak Telon + agar nyamuk tidak bisa menggigit tubuhku yang lucu. What a well-prepared queen 💛. Aku sudah pesan dan menghabiskan setengah nasi goreng aceh karena lapar, kemudian menutupnya dengan tissue untuk dilanjutkan nanti ketika Nique makan. Untuk diketahui, porsi nasi goreng di sini besar dan bumbunya berani.
Nik datang jam 5, dia tanya apa aku tadi ngajar karena bawa laptop. Ada rasa bangga ketika menyadari aku masih menulis blog di manapun, bahwa menulis masih merupakan sesuatu yang menyenangkan dibanding doom scrolling. Kujawab, "Nggak inget waktu kamu punya Macbook, kamu bawa ke manapun?"
Baru datang, dia sudah pamit untuk cari takjil di luar. Balik-balik, hujan. Aku sudah neduh di dalam membawa nasi gorengku, mie acehnya Nique dan tas ku. Untungnya hujan kemudian reda dan kami bisa duduk dengan nyaman lagi di outdoor. Kami memesan segelas es kopi berdua di tengah obrolan yang semakin seru.
Tidak terasa kami ngobrol sampai jam 9 malam, tentang bagaimana ia ingin menyatukan perjalanan spiritual kesenian dengan jualan/mode cari uang dan aku mengajukan antitesisnya. Ngobrol dengan dia selalu seru karena tidak terbatas pada hal-hal personal, apalagi soal laki-laki.

Comments