Tuntutan sosial makin tua makin ngadi-ngadi aja. Misal pas masa sekolah SD-SMA, dituntut untuk nilai rapor bagus. Oke, bisa diusahain dengan belajar, nyontek, dari cara halal sampe haram bisa. Toh yang diminta hasil akhir, nggak peduli prosesnya kan. Jadi kalau aku nggak berhasil, boleh deh dibilang emang nggak mau atau nggak ngusahain. Masa kuliah, dituntut lulus dalam 4 tahun, gagal, mundur setahun karena tipe kuliahnya kolaboratif dan kalau partner kelompok mengacau, kita ikutan terhambat kecuali kick dia dari kelompok dan ujian sendirian (yang mana biayanya akan menggila). Lulus kuliah, harus jadi perempuan produktif, oke dengan senang hati. Sampe bisa beli ipad terus jalan2 ke Lombok saking produktifnya -- kerja di 3 website.
Menikah untungnya nggak dituntut, karena kalau salah pilih pasangan bisa fatal. Cuma didoakan dan dijampi-jampi aja, nggak dituntut. Udah nikah, dituntut punya anak. Buset, itu ngusahainnya apa kayak ujian matematika gitu? Ada rumus yang bisa dihafalkan kah?
Aku penasaran, orang-orang yang punya anak itu merasa lebih baik, lebih unggulkah dibanding yang tidak punya anak?
Kentuntutan ini ada-ada aja, seolah semua ada dalam kendali kita aja.
Comments