Skip to main content

Kensington Garden

Apakah hidup dapat diekstraksi pada setiap dini hari dimana aku duduk dengan secangkir kopi hitam menghisap rokok di hadapan layar laptop?

Peter Pan lari ke Kensington Garden setelah ia tahu bahwa ia tidak akan selamanya sama. Lalu kutanya muridku, "Do you know that you will not stay the same forever?"




Guruku, apa kabarmu?

Perubahan-perubahan kecil yang kubuat dalam hidupku, ini ilmu darimu. Kudengarkan semua cara yang kau ajarkan untuk menyelinap keluar dari permainan simulasi. Kucatat pasal-pasal agar tidak menjadi Peter Pan.

Adakah penanda zaman selain angka?

Pujangga Jawa membagi zaman menurut tahun Surya. Yang paling awal dinamakan Kali Swara, zaman penuh dengan suara alam. Membayangkannya saja aku merinding. Betapa indahnya.

Apakah hidup dapat diesktraksi pada satu momen ketika aku berbaring di atap rumah menatap langit biru dan membuat nama sendiri untuk diriku? 

Begitu takjubnya aku dengan atap bumi: biru dan bergerak, sama dengan samudera. Aku melihat samudera di atasku. Momen itu memberiku harapan bahwa hidup ini luas dan aku adalah bagian dari keluasan itu.

Membaca ensiklopedia, meninggalkannya di atas pipa. Bersepeda ke rumah sahabat, menikmati hujan deras di jendela kamarnya.

Beberapa tahun kemudian di kota yang asing, ia terengah-engah di tangga kampus, gemetar karena lapar. Dan ia sekali lagi tersenyum menatap langit biru, seolah selama masih bisa melihatnya, ia bisa menghadapi apapun. 

Betapa liarnya permainan hidup, sehingga simbol optimisme berubah menjadi simbol pertahanan hidup.

Kini aku mengerti. Kelaparan, kesepian dan kota asing itu bagian dari keluasan hidup.

Mungkin sekarang dengan gemetar aku bisa menulis bahwa aku berhasil menjadi manusia yang berbeda, aku lari memasuki belantara eksistensi dengan segala risikonya. Aku bukan Peter Pan.

Comments

Popular posts from this blog

It Has Been A Lot!

Wow, where should I start? So my comeback to dance class after a month break (sebulan aje dibahas...gimana lebih? Udah jadi buku keleus :D) had been a wild ride. Right away rehearsal for a performance and coordinating an event at the same time. Berto gave me this job from IDF, where I worked as P.I.C for Dance Writing Workshop. My girl IKAN said why am I taking the job if I am so busy? The answer is clear: I need to pay college. Ikan said she can just lend me money and I can focus on my thesis. God, bless this human that is my best friend. That's very kind and thoughtful of her. Anyway, I took the job so I was running 2 events at the same time. One in Cikini, Central Jakarta and one in SOM, South Tangerang. I became an adept Commuter Line user. I no longer mistaken peron 1 with peron 2 and silly things like that, like not knowing which gate I should enter after scanning my card to enter the peron. Duh. Duh 100x. I wasn't particularly on diet but I really didn't want to ea...

What is happiness? It sounds like a snack.

I would, like usually, open this post by saying "Things are crazy". Yes, I don't know are things really crazy or is it just me. I think it's the latter. Life appears as surprises to me. And I act like a door, opening this tunnel, closing another one. I don't feel dull, and I can't say my days have been dull for they are full with challenges. But I have been so alone. This also sounds weird. Since when that I'm not alone? I always pull myself back from any social event. I hang out alone. I guess the last time I had a good time outside the house/office/campus with another human being was the last Saturday in January, so it's a month ago. It is true that if I just ask, I will get people willing to go with me. But I am the pickiest picky pick ever because most of the times when I don't pick, I get bored with dull conversations, or a view of someone watching his/her phone like there's nothing else to see. So all this time I hang out alone. Mos...

yang hilang dan jadi debu

ada sesuatu yang diam-diam kupercaya walau ia hilang ditelan bisingnya Jakarta: Islam ada cara hidup yang sederhana, menawarkan kesadaran untuk mampu mengendalikan kecepatan, dengan disiplin lima kali dalam sehari, dan tidak lebih lama dari basa-basi ada cara bertutur yang tegas dan disetujui tubuh, istighfar membuatku sadar, bahwa yang sakit bisa pulih tasbih menunduk-daguku, bahwa seniman itu sebuah entitas hamdalah hangatkan bahuku, ada yang Maha kendali di atas kendaliku