Aku boleh bangga dengan diriku sendiri karena telah mengubah sesuatu, yaitu bagaimana otakku bekerja. Hanya dengan satu minggu tidak membuka Instagram/x/Facebook/Tiktok, aku merasakan perubahan yang signifikan. Sekarang aku masih menggunakan media sosial namun efek adiktif itu tidak terlalu mencengkeram. Aku tidak merasa perlu mengunggah sesuatu hanya untuk eksis. Aku tidak menonton story orang-orang dan distraksi berkurang jauh. Orang tidak perlu tahu perasaanku dan aku semakin sadar bahwa mereka hanya penonton, mereka bukan teman yang sebenarnya. Ini semua bisa kutulis setelah beberapa lama ya, bukan hanya seminggu puasa sosmed lalu menulis seperti ini.
Dulu aku suka membagikan perasaan-perasaanku di Instagram. Namun karena followers Instagram adalah orang-orang yang juga berinteraksi di kehidupan nyata, lebih bagus kalau tidak ada yang tahu apa yang kurasakan. Karena sekali lagi, mereka semua tidak peduli. Percayalah, semua orang sibuk dengan pikirannya masing-masing. Akhirnya impuls-impuls itu berubah jalur sesuai dengan yang kuinginkan: menulis, berkarya.
Cek tulisan terbaruku di: Terra Incognita dan Pengetahuan Ketiga
Seperti yang pernah kuceritakan di sini sebelumnya, eksperimen ini diawali dari hati yang kacau karena rasa tersinggung. Singkat cerita, biasanya kalau lagi ada perasaan yang berat gitu aku doom-scrolling kan untuk menganastesi emosi, berharap nemu konten yang bisa bikin ngakak atau mikirin hal lain. Tetapi kita semua tau coping mechanism kayak gitu nggak terlalu efektif. Coping lainnya yang dulu juga sering kulakukan adalah menumpahkan unek-unek di story lalu banyak yang engage, entah sekadar merasa relate atau ngasih saran. Nah, dua cara ini kutinggalkan. Aku uninstall Instagram + Tiktok dan kebisingan itupun hilang. Efek lainnya adalah aku "dipaksa" untuk duduk dengan perasaan-perasaan nggak enak itu.
Sampai beberapa lama, rasanyak kayak balik ke era nineties sih ketika aku SD dulu, atau SMA di mana internet tidak kuakses 24 jam, maksimal hanya 5 jam dalam sehari. Banyak peningkatan yang kurasakan dan jujur nih, sekarang kalau buka Instagram itu perasaanku nggak enak, ada rasa berdebar, anxiety ringan gitu kali ya. Terutama kalau scrolling reels. Dopamine hit tetap dapet, kalau ada reels lucu tetep ngakak, tapi anxiety itu tetap terasa. Ih ternyata seburuk itu ya IG. Udah paling bener buat naruh karya aja sih.
Di hari-hari awal "puasa" itu aku juga mendengarkan dan mencatat podcast seorang psikolog tentang sistem yang memang dirancang untuk membuat Instagram adiktif dan efeknya pada orak kita. Ntar deh kapan-kapan kubagikan.
Comments