Hidup jadi seru lagi ketika tidak main instagram. hari-hari terasa lebih santai sejak tidak tau orang lagi sibuk apa. Emosi terasa lebih sehat karena tidak ada lagi gratifikasi instan. Sesekali masih update di x, Kadang ada rasa penyesalan setelah update kehidupan di sana walau hanya satu-dua baris. Makin ke sini makin nggak ingin hidup ditonton. Kopi ini enak sekali dan menikmatinya jam 00:43 enggak bijaksana. Memang siapa yang bilang kalau jadi sarjana filsafat pasti bijaksana? FIlsuf itu, kata Deleuze, teman kebijaksanaan. Dia bukan kebijaksanaan, cuma temannya. 😄
Walau paparan pada media sosial semakin berkurang, yang kubenci masih sama: aku benci gendut. Aku nggak biasa lihat diriku nggak enak dilihat. Dan yang kucintai masih sama. Bukan, bukan kecantikan, tapi berkarya, menciptakan sesuatu.
Salah satu perasaan paling romantis adalah jatuh cinta. Namun ketika kamu sudah berkeluarga, jatuh itu sudah tidak ada. Hanya cinta, yang tidak romantis. Cinta yang membuatku banyak bertanya, oh itu mungkin karena aku teman kebijaksanaan. 😆
Kemarin sepulang kerja, aku ke Indomaret. Ketika aku sudah selesai transaksi, ada cewek kira-kira usia 27, tanya ke kasir "Mau rokok menthol yang nggak terlalu kenceng apa ya mas?". Mas nya bingung, ya jelas karena dia cuma kasir, bukan barista apalagi anak skena tembakau. "L.A Ice," jawabku. "Oh iya ya kak?" "Aku pakai itu.". "Ada manis-manisnya nggak?" "A mild menthol kalau mau yang ada manis-manisnya," aku jawab terus keluar. Aku jalan ke depan bangunan lain samping indomaret, nunggu ojek online. Eh mbaknya tadi lewat, "Makasih ya kak, aku beli camel akhirnya" dan aku merespon dengan tertawa.
Senin kemarin aku ketemu Daru lagi setelah sangat lama tidak. Aku beli bawang goreng jualannya dan dia menawarkan untuk COD alias dia jalan kaki dong dari rumahnya ke area tempat tinggalku. Ada 3 kiloan kayaknya. Kita ketemu pagi jam 8 di burjo terdekat. Malamnya aku baru tidur jam stngh 3 an.
Selama aku tinggal di sini baru kali itu aku nongkrong di burjo itu. Area tempat tinggalku ini bikin stress, nggak yang gimana-gimana sih tapi beda lah sama area rumah ortu yang kuhidupi jaman gadis dulu wkwkwk. Di sini di pinggir-pinggir jalan penuh sampah, kayak sampah jajanan gitu, enggak bau sih tapi tetep merusak pemandangan. Jadi jalan kaki meski dekat, kayak dari rumah ke indomaret itu dekat, tapi beban mentalnya lumayan. Oleh karena itu aku tidak nongkrong2 di sekitar sini. Kayak warung burjo itu, dilihat dari luar kesannya sumpek, gersang, kayak di tengah padang pasir. Pas duduk di dalam ternyata nggak seburuk itu, artinya ya lingkungan sekitarnya yang kek ASU. 😖


Comments