Selalu mengejutkan bagaimana yang bisa meredakan lukaku adalah aku sendiri. Suamiku yang sangat baik, selalu memeluk dan menenangkan pun tidak mampu meredakan amarah atau rasa sakit. Tiga harian ini aku agak murung, dan tadi dia nanya lagi kenapa. Kukatakan bahwa aku tidak mau cerita karena malu. Aku malu kenapa masih murung atau masih terbebani oleh hal yang sudah kuceritakan, hal yang bukan masalah besar. Dia tetap merespon dengan sangat baik, mengatakan kalau aku tidak perlu malu karena latar belakang orang berbeda-beda sehingga hal yang sepele bagi satu orang bisa begitu menyakiti bagi orang yang lain.
Lalu tengah malam ini, jam 12 malam Idul Adha, aku membaca tulisan di blog ini tentang bagaimana ada orang yang menulis kalau kelas tariku membantunya untuk lebih menyayangi diri sendiri. Wah. Iya, kenangan itu. Aku tertegun. Dia atau siapapun yang mengatakan hal buruk tentangku, yang merundungku, kau mungkin lebih dalam satu atau lain hal tapi bisa kupastikan tidak ada yang merasa lebih menyayangi diri sendiri di kelas tarimu. Hahahahaha!!
Kenapa? Karena energimu kayak duri.
Tertawaku barusan mungkin terdengar sangat tidak dewasa, tapi peduli setan. Kita harus bisa mengobati luka hati, memberi setidaknya pertolongan pertama pada jiwa kita. Murung sampai berhari-hari itu membuatku malu, jujur itu.
Sumpah memanggil lagi ingatan yang nyakitin itu enggak enak. Nah, yang namanya trigger itu, kayak satu tarikan pelatuk yang fatal, langsung tembus dada. Anjing ya luka masa lalu itu bisa segitu ngaruhnya. Aku maju mundur sih mau ke psikolog/psikiater itu, karena apa? Nggak percaya wkwkwk. Cuma dokter ku di Malang aja yang kupercaya beneran menangani. Di luar dari itu, trigger yang aku omongin ini, nggak aku maafin sih di dalam hati.
Comments