Skip to main content

P3K di Malam Idul Adha

Selalu mengejutkan bagaimana yang bisa meredakan lukaku adalah aku sendiri. Suamiku yang sangat baik, selalu memeluk dan menenangkan pun tidak mampu meredakan amarah atau rasa sakit. Tiga harian ini aku agak murung, dan tadi dia nanya lagi kenapa. Kukatakan bahwa aku tidak mau cerita karena malu. Aku malu kenapa masih murung atau masih terbebani oleh hal yang sudah kuceritakan, hal yang bukan masalah besar. Dia tetap merespon dengan sangat baik, mengatakan kalau aku tidak perlu malu karena latar belakang orang berbeda-beda sehingga hal yang sepele bagi satu orang bisa begitu menyakiti bagi orang yang lain.

Lalu tengah malam ini, jam 12 malam Idul Adha, aku membaca tulisan di blog ini tentang bagaimana ada orang yang menulis kalau kelas tariku membantunya untuk lebih menyayangi diri sendiri. Wah. Iya, kenangan itu. Aku tertegun. Dia atau siapapun yang mengatakan hal buruk tentangku, yang merundungku, kau mungkin lebih dalam satu atau lain hal tapi bisa kupastikan tidak ada yang merasa lebih menyayangi diri sendiri di kelas tarimu. Hahahahaha!!

Kenapa? Karena energimu kayak duri. 

Tertawaku barusan mungkin terdengar sangat tidak dewasa, tapi peduli setan. Kita harus bisa mengobati luka hati, memberi setidaknya pertolongan pertama pada jiwa kita. Murung sampai berhari-hari itu membuatku malu, jujur itu. 

Sumpah memanggil lagi ingatan yang nyakitin itu enggak enak. Nah, yang namanya trigger itu, kayak satu tarikan pelatuk yang fatal, langsung tembus dada. Anjing ya luka masa lalu itu bisa segitu ngaruhnya. Aku maju mundur sih mau ke psikolog/psikiater itu, karena apa? Nggak percaya wkwkwk. Cuma dokter ku di Malang aja yang kupercaya beneran menangani. Di luar dari itu, trigger yang aku omongin ini, nggak aku maafin sih di dalam hati. 

Comments

Popular posts from this blog

It Has Been A Lot!

Wow, where should I start? So my comeback to dance class after a month break (sebulan aje dibahas...gimana lebih? Udah jadi buku keleus :D) had been a wild ride. Right away rehearsal for a performance and coordinating an event at the same time. Berto gave me this job from IDF, where I worked as P.I.C for Dance Writing Workshop. My girl IKAN said why am I taking the job if I am so busy? The answer is clear: I need to pay college. Ikan said she can just lend me money and I can focus on my thesis. God, bless this human that is my best friend. That's very kind and thoughtful of her. Anyway, I took the job so I was running 2 events at the same time. One in Cikini, Central Jakarta and one in SOM, South Tangerang. I became an adept Commuter Line user. I no longer mistaken peron 1 with peron 2 and silly things like that, like not knowing which gate I should enter after scanning my card to enter the peron. Duh. Duh 100x. I wasn't particularly on diet but I really didn't want to ea...

What is happiness? It sounds like a snack.

I would, like usually, open this post by saying "Things are crazy". Yes, I don't know are things really crazy or is it just me. I think it's the latter. Life appears as surprises to me. And I act like a door, opening this tunnel, closing another one. I don't feel dull, and I can't say my days have been dull for they are full with challenges. But I have been so alone. This also sounds weird. Since when that I'm not alone? I always pull myself back from any social event. I hang out alone. I guess the last time I had a good time outside the house/office/campus with another human being was the last Saturday in January, so it's a month ago. It is true that if I just ask, I will get people willing to go with me. But I am the pickiest picky pick ever because most of the times when I don't pick, I get bored with dull conversations, or a view of someone watching his/her phone like there's nothing else to see. So all this time I hang out alone. Mos...

yang hilang dan jadi debu

ada sesuatu yang diam-diam kupercaya walau ia hilang ditelan bisingnya Jakarta: Islam ada cara hidup yang sederhana, menawarkan kesadaran untuk mampu mengendalikan kecepatan, dengan disiplin lima kali dalam sehari, dan tidak lebih lama dari basa-basi ada cara bertutur yang tegas dan disetujui tubuh, istighfar membuatku sadar, bahwa yang sakit bisa pulih tasbih menunduk-daguku, bahwa seniman itu sebuah entitas hamdalah hangatkan bahuku, ada yang Maha kendali di atas kendaliku