Entah kenapa akhir-akhir ini masa awal kuliah seliweran di pikiran. Padahal itu kan kayak....udah ratusan tahun lalu, hahaha. Aku inget sih trigger awalnya. Aku mimpi berusia segitu lagi, 19-20, dengan rambut nanggungku yang ikal dan tulang dada yang menonjol, skinny jeans yang ada robekan bulat di salah satu sisi di bagian lutut.
Masa itu memang menyenangkan untuk diingat, tapi tidak untuk diulang. Ini yang menyenangkan untuk diingat: kurus, banyak yang naksir. Enggak enaknya lebih banyak. Itu kurus in the first place karena kurang makan, karena krisis keuangan. Kesepian. Depresi karena nggak punya rumah, kehilangan kampung halaman. Banyak deh nggak enaknya.
Kata suami masa itu memahatku dan itu betul. Sejauh ini aku masih ingat rasa lapar yang membuatku pucat dan pusing setiap saat. Mataku cekung, dan ketika hujan deras aku sampai berpikir apa gue jadi ojek payung ya biar dapat duit.
My collar bones were literally protruding yet I was still afraid of gaining weight. Jadi aku kurus karena kelaperan, tapi juga kayak itu pertama kalinya dalam hidup merasakan langsing, with all the attention I received. Skinny equals beauty queen. Sejujurnya enggak juga sih wkwkkw. Kalau nggak cakep ya enggak. Kalau aku kan permasalahannya sejak kecil sampai SMA gendut, bukan jelek.
Kalau ditanya apa mau kembali ke kamar kos trapezium itu, sendirian? Ya enggak mau. Walau demikian, memang ada keindahan di cerita survival. Cerita ini tidak kutemukan di teman-temanku sampai aku usia sekarang. Iya, aku berteman dengan anak-anak yang usianya jauh di bawahku. Mereka rata-rata orang kaya. Mereka nggak pernah tau rasanya sampe kepikiran untuk ngojek payung, mereka nggak pernah naik metromini/kopaja apalagi ngamen karena nggak punya ongkos.
Ketika aku berada di kondisi itu, tidak ada sedikitpun cerita kelaparanku yan kuceritakan kepada orang tua. Nggak tega. Mereka kira 250.000 per bulan itu cukup di Jakarta.
Masa itu lebih dari sekadar pendewasaan. Semua sakit mental berlomba muncul juga di masa itu wkwkw. Sorry with the "wkwkw" because I am literally grinning while writing this. Aku ingin menjungkirbalikkan semua bully-an yang kuterima di masa kecil - SMA dengan semua admiration yang kuterima di masa awal kuliah. Never enough. Itu ternyata luka lebar yang berdarah. Mau lo tutup pake hansaplast sebanyak apapun tetep rembes darahnya. Perasaanku seperti valid untuk pertama kalinya.
Selain segelintir cewek-cewek yang kuundang ke pernikahanku, apakah pada masa itu aku punya teman cewek lain? Tentu tidak. Girls hate pretty girls. That's true. Apalagi senior-senior cewek, buset, nggak suka banget kayaknya aku datang menjadi bagian dari komunitas kecil itu.
Oke segitu dulu nostalgianya kembali ke filsafat.
Comments