Skip to main content

studio bawah sadar 2

 Ada banyak hal yang baru kusadari akhir-akhir ini. Salah satunya, adalah bahwa tubuhku berjuang untuk merasa aman. Satu dekade yang brutal. Kesadaran diinisiasi oleh rasa kantuk yang dulu jarang bisa kurasakan. Semenjak keluar dari rumah dan tinggal di kontrakan, mekanisme ngantuk ku jadi seperti orang-orang kebanyakan. Setelah jam makan siang, misalnya, dan malam yang tidak perlu menunggu sampai puncaknya.

 Apa ini tanda penuaan? Begitu awalnya kukira. Aku tau common people in the street akan langsung menyetujuinya. Tapi orang-orang di sekelilingku sudah seperti itu mekanisme tubuhnya sejak mereka jauh lebih muda. Aku yang baru saja masuk ke mekanisme tersebut.

Petunjuk berikutnya yang lebih terang, adalah untuk terlelap saja aku harus mengelabui pikiranku. Aku harus mengatakan pada kepalaku bahwa aku letih, letih sekali, sudah tidak ada tenaga. Tanpa imajinasi itu -- yang mungkin sebenarnya nyata -- aku akan menyerah, bangkit dan membakar rokok, berkegiatan lagi sampai sedikit hilang keseimbangan dan pandangan berbayang. Bayangkan! Biasanya aku harus sampai pada titik kerusakan itu baru aku merasa bahwa itu artinya ngantuk.

Untuk yang terakhir itu, masih kulakukan. Cara lainnya untuk mengantuk adalah membaca buku, dan berolahraga yang cukup berat. 

Aku sedang menterapi diriku sendiri. Menulis ini rasanya melegakan. Pagi ini aku terbangun dari mimpi yang tipikal -- aku sedang diinterogasi atau diprotes oleh seseorang, tetapi aku terlalu lelah hingga terjatuh. Itu salah satu komposisi koreo di studio bawah sadarku. Aku akrab dengan koreo itu.

Satu dekade, mungkin lebih, aku ingin diakui bahwa aku juga bisa lelah, bahwa aku boleh beristirahat. Bukan hanya kakakku yang bisa lelah karena ia budak korporat. Aku tidak perlu sampai sakit dulu baru dibiarkan untuk istirahat.

Badanku bingung, kenapa sekarang hidup temponya melambat. Ia sekarang punya waktu untuk menikmati menit demi menit, ia punya waktu untuk menikmati malam tanpa harus menunggu semua orang terlelap. Wow. Begitu mewahnya.

Tubuhku mengkalibrasi untuk masuk ke masa yang baru ini. Sudah tiga tahun namun ia masih beradaptasi, karena trauma yang berkerak, yang terbentuk lebih lama.

Comments

Popular posts from this blog

It Has Been A Lot!

Wow, where should I start? So my comeback to dance class after a month break (sebulan aje dibahas...gimana lebih? Udah jadi buku keleus :D) had been a wild ride. Right away rehearsal for a performance and coordinating an event at the same time. Berto gave me this job from IDF, where I worked as P.I.C for Dance Writing Workshop. My girl IKAN said why am I taking the job if I am so busy? The answer is clear: I need to pay college. Ikan said she can just lend me money and I can focus on my thesis. God, bless this human that is my best friend. That's very kind and thoughtful of her. Anyway, I took the job so I was running 2 events at the same time. One in Cikini, Central Jakarta and one in SOM, South Tangerang. I became an adept Commuter Line user. I no longer mistaken peron 1 with peron 2 and silly things like that, like not knowing which gate I should enter after scanning my card to enter the peron. Duh. Duh 100x. I wasn't particularly on diet but I really didn't want to ea...

What is happiness? It sounds like a snack.

I would, like usually, open this post by saying "Things are crazy". Yes, I don't know are things really crazy or is it just me. I think it's the latter. Life appears as surprises to me. And I act like a door, opening this tunnel, closing another one. I don't feel dull, and I can't say my days have been dull for they are full with challenges. But I have been so alone. This also sounds weird. Since when that I'm not alone? I always pull myself back from any social event. I hang out alone. I guess the last time I had a good time outside the house/office/campus with another human being was the last Saturday in January, so it's a month ago. It is true that if I just ask, I will get people willing to go with me. But I am the pickiest picky pick ever because most of the times when I don't pick, I get bored with dull conversations, or a view of someone watching his/her phone like there's nothing else to see. So all this time I hang out alone. Mos...

yang hilang dan jadi debu

ada sesuatu yang diam-diam kupercaya walau ia hilang ditelan bisingnya Jakarta: Islam ada cara hidup yang sederhana, menawarkan kesadaran untuk mampu mengendalikan kecepatan, dengan disiplin lima kali dalam sehari, dan tidak lebih lama dari basa-basi ada cara bertutur yang tegas dan disetujui tubuh, istighfar membuatku sadar, bahwa yang sakit bisa pulih tasbih menunduk-daguku, bahwa seniman itu sebuah entitas hamdalah hangatkan bahuku, ada yang Maha kendali di atas kendaliku