Aku tidak
pernah begitu bersemangat menjalani hari-hari di sekolah seperti ketika
permulaan SMA. Melanjutkan pendidikan ke sekolah itu kurencanakan dan
kuperjuangkan. Aku datang sendiri untuk mengurus proses pendaftaran sebagai
anak kelas 3 SMP. Aku memilih sekolah
itu karena menginginkan suasana yang baru, lingkungan yang benar-benar di luar
horizon pengalamanku. Dan tepat karena alasan yang sama, keluarga awalnya tidak
mengizinkan. Singkat cerita, keberuntungan berpihak pada remaja bau matahari
ini.
Setiap hari
begitu menyenangkan. Selalu ada hal baru yang bisa kuceritakan di rumah. Rasanya
seperti adegan dalam film saja. Koridor yang lebar, bangunan tua yang
kokoh, teropong bintang , dan nama-nama
yang terdengar asing. Tidak seperti nama teman-temanku sebelumnya. Hingga suatu
hari, persis seperti di film-film, kegembiraan itu berhenti.
Siang itu
aku diundang Pak Har untuk menemuinya pada
jam istirahat. Beliau mengajar Fisika, pelajaran yang bukan keahlianku namun kutekuni
demi tidak tinggal kelas. Beliau saat
itu sudah berusia lanjut dengan rambut perak namun berpostur tegap, terlihat
kuat dan terlatih layaknya seorang petarung. Entah masalah apa yang kubuat di
kelasnya. Mungkin nilaiku buruk dan akan direkomendasikan untuk mengambil jam
tambahan sepulang sekolah. Atau mungkin karena tempo hari beliau menemukanku
menggumamkan lagu di tengah pelajarannya.
Di ruangan
itu kami duduk berdua saja. “Ada apa denganmu?” “Eh.. ada apa ya Pak?” “Kamu
tidak terlihat semangat seperti dulu, tidak pernah lagi inisiatif untuk
menjawab pertanyaan di kelas saya.”
Aku terhenyak. Sudah cukup lama aku berada dalam mode bertahan hidup sehingga
aku lupa dulu se-percaya diri itu ya aku, bisa-bisanya mencoba menyelesaikan
soal fisika di depan kelas. Hahaha.
Pertemuan itu berakhir tanpa beliau berhasil mendapat jawaban apa yang
mengubahku menjadi seperti siswa kebanyakan. Datar, apatis, redup.
“Baikah, jika kamu tidak mau cerita, begini saja,”
Sebuah buku diserahkan ke tanganku. A Child Called ‘It’. “Saya ingin kamu baca
buku ini. Ketika selesai, temui saya lagi.
Buku itu
kuselesaikan cepat, hanya dalam satu atau dua hari. Bukan karena menarik. Jujur
saja, buku itu memberikan shock mental atau dalam istilah sekarang, traumatizing. Aku hanya ingin segera
bertemu dan berbincang dengan Pak Har lagi.
Pertemuan
yang dinantikan itu pun terjadi. Aku sudah siap jika Pak Har ingin membentuk
klub membaca denganku atau apakah pertemuan itu akan menjadi acara bedah buku
dengan segelas teh dan kue – karena bagaimanapun beliau mengambil jam
istirahatku.
Pertanyaan
pertama Pak Har: “Bagaimana? Siapa yang lebih menderita? Kamu atau anak ini?”
Aku menahan
genangan di mataku. Tidak. Air mata ini tidak akan jatuh. Aku melihat beliau
seperti seorang petarung dan terlihat rapuh adalah hal terakhir yang ingin
kutunjukkan di hadapan seseorang sepertinya.
Aku tidak
menjawab dan diam cukup lama, mengatur emosi, kemudian mulai membuka cerita
ketika suaraku sudah tidak bergetar.
Setelah
hari itu, perundungan yang kualami masih berlanjut namun aku mendapat kekuatan
yang feral. Liar dan segar, seperti
bukan dari kepribadianku. Aku ingin cari masalah duluan dengan lelaki kurus
kecil brengsek itu. Pagi yang damai itu, aku menunggunya di kelas. Jika biasanya aku duduk dan berharap tidak
terlihat, kini aku berdiri di depan, agar berpapasan. Ketika ia melewatiku,
kubisikkan di telinganya dengan kasar, “Jancok!”
Mafia kecil itu melotot tidak percaya dengan apa yang kulakukan. Ketika kepalan
tangannya ia ayunkan, aku memang menunggu momen ini. Aku akan dipukulnya. Kasus
ini akan jadi perhatian seisi sekolah dan aku tidak akan berperang sendirian
lagi. Itu maksud dan tujuanku. Hari itu akan jadi kali pertama aku dihantam
seorang lelaki. Mataku terpejam. Sakitnya tidak akan lama. Namun pemukulan itu
tidak terjadi karena anak-anak lain menahannya. Jancok.
Hari-hari
berikutnya bisa kau bayangkan perundungan darinya makin menggila. Ia dendam
kesumat. Namun sikap teman-teman padaku berubah. Mereka tidak lagi ikut
mengucilkanku. Beberapa siswi lain datang kepadaku dan mengadu bahwa mereka
juga dirundung si jancok kerempeng yang sama. Masalah itu kemudian jadi
perhatian sekolah dan diselesaikan dengan kemenangan telak pada pihak yours truly.
Berani
ketika kamu punya teman itu satu hal. Namun berani ketika seluruh dunia
memusuhimu itu satu hal yang benar-benar baru kualami. Pak Har tidak menjanjikan
apapun. Beliau bahkan bukan wali kelasku. Namun dua pertemuan yang membuatku
tidak bisa jajan di kantin itu begitu berarti. Di antara begitu banyaknya siswa
dengan nilai yang lebih cemerlang, yang lebih pantas jika diberi perhatian,
beliau menyempatkan diri untuk memilihkan bacaan, mengajak bicara dan bertanya.
Dari beliau
aku belajar bahwa menjadi guru itu titik beratnya ada di empati. Sedikit saja
cinta yang kita tumpahkan pada gelas seorang siswa bisa mengubah dunianya. Saat
menulis ini aku berusaha menggambar sosokmu dari ingatanku yang sudah penuh
dengan wajah siswa-siswaku, Pak. Selamat Hari Guru, Pak Har. Setiap 25
November, hanya itu yang ada di hatiku, “Selamat Hari Guru, Pak Har.”
Comments