Skip to main content

studio bawah sadar

Beberapa malam yang lalu aku bermimpi sedang duduk di tengah jalan raya yang sibuk lalu lalang orang dan kendaraan. Suasananya seperti di daerah Bank Indonesia, Jakarta Pusat. Aku ditemui seorang perempuan (dalam kehidupan nyata orang ini adalah seorang pelukis, istri teman Herda). Dia menanyakan usiaku. Kujawab "27," kemudian aku termenung, sepertinya bukan 27. "Maaf salah, aku umur 30," aku meralat. Sesaat kemudian aku baru ingat usiaku 35 atau 36. 

"Ingatanku terhenti di usia 27."

"Sudah berapa lama ya waktu berlalu sejak aku 27?"

Lalu perempuan itu berjalan pergi dan aku mengikutinya. Dia seperti menari. Ternyata dia mau latihan teater dengan kelompoknya, di suatu sudut seperti di bawah fly over. Kemudian suaminya datang. Kami menonton perempuan itu latihan.

Aku terbangun.

Pada kenyataannya ingatanku tidak terhenti di usia 27. Namun hidup memang terasa aneh selepas tahun 2021. Aku berusaha menciptakan dunia tariku sendiri. Semakin lama, semakin terseok. Dulu pada 2021 aku membuka kelas tari kontemporer di Upstairs Studio. Walau tertatih namun kelas itu berjalan. Ada Ibu-ibu usia 50an yang terus datang sampai beberapa kali. Anya, teman di sekolah yang dulu, Savi juga beberapa kali ikut kelas. Namun pada akhirnya berhenti juga. Tahun berikutnya, Bian, disusul Latina minta aku untuk mengajar. Kemudian selesai. 

Beberapa kali aku latihan sendiri. Rasanya berat menghadapi kanvas kosong, berusaha untuk tidak menorehkan garis-garis klise hasil dari kebiasaan. Disuapin enak -- disuapin koreo. Tantangannya jelas: mengeksekusinya dengan sebaik mungkin. Beda dengan datang ke studio kosong, hanya ada kamu dan badanmu yang berat :)

Tapi mungkin itulah jalan penyembuhan dari kehilangan yang pahit ini.

Comments

Popular posts from this blog

It Has Been A Lot!

Wow, where should I start? So my comeback to dance class after a month break (sebulan aje dibahas...gimana lebih? Udah jadi buku keleus :D) had been a wild ride. Right away rehearsal for a performance and coordinating an event at the same time. Berto gave me this job from IDF, where I worked as P.I.C for Dance Writing Workshop. My girl IKAN said why am I taking the job if I am so busy? The answer is clear: I need to pay college. Ikan said she can just lend me money and I can focus on my thesis. God, bless this human that is my best friend. That's very kind and thoughtful of her. Anyway, I took the job so I was running 2 events at the same time. One in Cikini, Central Jakarta and one in SOM, South Tangerang. I became an adept Commuter Line user. I no longer mistaken peron 1 with peron 2 and silly things like that, like not knowing which gate I should enter after scanning my card to enter the peron. Duh. Duh 100x. I wasn't particularly on diet but I really didn't want to ea...

What is happiness? It sounds like a snack.

I would, like usually, open this post by saying "Things are crazy". Yes, I don't know are things really crazy or is it just me. I think it's the latter. Life appears as surprises to me. And I act like a door, opening this tunnel, closing another one. I don't feel dull, and I can't say my days have been dull for they are full with challenges. But I have been so alone. This also sounds weird. Since when that I'm not alone? I always pull myself back from any social event. I hang out alone. I guess the last time I had a good time outside the house/office/campus with another human being was the last Saturday in January, so it's a month ago. It is true that if I just ask, I will get people willing to go with me. But I am the pickiest picky pick ever because most of the times when I don't pick, I get bored with dull conversations, or a view of someone watching his/her phone like there's nothing else to see. So all this time I hang out alone. Mos...

yang hilang dan jadi debu

ada sesuatu yang diam-diam kupercaya walau ia hilang ditelan bisingnya Jakarta: Islam ada cara hidup yang sederhana, menawarkan kesadaran untuk mampu mengendalikan kecepatan, dengan disiplin lima kali dalam sehari, dan tidak lebih lama dari basa-basi ada cara bertutur yang tegas dan disetujui tubuh, istighfar membuatku sadar, bahwa yang sakit bisa pulih tasbih menunduk-daguku, bahwa seniman itu sebuah entitas hamdalah hangatkan bahuku, ada yang Maha kendali di atas kendaliku