Hi blog,
Kenapa ya sekarang tu nggak se-lepas dulu kalau mau nulis di sini. Ada perasaan apa masih pantes nulis2 kayak gini, ada perasaan "bukannya ngerjain naskah lo", banyak deh. Ah, dasar manusia urban yang teralienasi dari diri sendiri.
Perempuan tidak waras itu masih terlihat di halte intrans Bintaro Plaza, sejak 2020 hingga hari ini. Awalnya aku selalu melihat dia jalan kaki sambil bicara dan tertawa sendiri, mengenakan baju-baju yang bagus. Wajahnya juga sebenarnya cantik. Di sepanjang sektor 3A aku biasa melihatnya di sisi kanan atau kiri trotoar (kalau kanan dan kiri doppleganger dong anjir?)
Kemudian mulai tahun lalu dia selalu terlihat duduk diam, kadang selonjoran, di halte intrans. Orang gila ini menjadi alegori untuk ketidakmampuanku melepas kenangan-kehidupan sebelum pandemi. Kehadiran dia tepat sekali bagaikan monumen kemelekatanku pada masa lalu.
Aku sering mengingatkan diriku ketika melihat mbak itu: "Ayo jalani hari-hari sebagaimana adanya, lama-lama kau stuck di sepanjang jalan ini, seperti wanita itu yang tidak bisa berhenti datang dan menghabiskan harinya di halte intrans."
Kurasa aku perlahan melepaskan. Aku mungkin lambat tapi tidak bebal.
Aku ingat suatu sore yang acak di hari Minggu, mataku tiba-tiba basah ketika sedang di atas motor, seperti biasa di belakang supir ojek online, dengan "Stop Crying Your Heart Out" nya OASIS melantun di earphone. Bahkan sampai awal 2022, setiap Minggu sore itu rasanya nggak enak, kayak mellow gitu.
Aku mungkin lambat, tapi hal itupun perlu disyukuri. Artinya aku memberi nilai yang berharga pada pengalaman, pada hal-hal yang kuusahakan. Artinya aku menjalani hari-hari tersebut
Comments