Things I should let go, or in other words, stop doing it again: 1. Potong rambut di Guzelle just because it's slightly cheaper than the salon next to Sehidup Sekopi (RIP). Mereka tuh B aja, ada potongan yang nggak rata. Nggak jelek, tapi kurang aja untuk harga segitu mending di yang lebih mahal aja tapi puas. Potong rambut kan juga jarang-jarang. 2) Nongkrong di Kopiwriter, maybe. Why? Their foods and drinks are bland. They literally serve nothing than internet connection and a decent room to pray. Tapi lantai 2 nya itu asik sih untuk bersantai sore-sore kalau lagi nggak panas. Tapi sekali lagi, nggak ada menu nya yang enak, bahkan french fries nya aja gagal menurutku. 3) Penting ini, baru terpikir detik ini. Berhenti mendistrak diri dengan social media pas lagi overwhelm/overexcited dengan filsafat. Mending keluar ke teras bakar rokok, atau tutup mata sebentar. Distraksi ke sosmed itu sangat, sangat merugikan. Aku nggak bisa berhenti scrolling padahal nggak ada yang menarik.
Aku punya masalah dengan fokus, dan adiksi pada social media yang semakin memperparah masalah pertama. Aku harus cari cara dan mendisiplinkan diri soal media sosial. Twitter, terutama. Dan selalu pas aku lagi nulis/baca filsafat. I feel so bad right now... aku kan diliburkan seminggu dari kerjaan yang baru. Aku berencana menggunakan libur itu untuk fokus menulis. Ini sudah hari ke-empat dan aku belum nambah satu huruf pun. Taeeek. Aku baca terus sih. Ayo dong, please, kamu bisa. Kamu udah pernah ngelewatin ini. Perfeksionis mu dikontrol. Mau sempurna jadinya nggak menyelesaikan apapun.
Wow, where should I start? So my comeback to dance class after a month break (sebulan aje dibahas...gimana lebih? Udah jadi buku keleus :D) had been a wild ride. Right away rehearsal for a performance and coordinating an event at the same time. Berto gave me this job from IDF, where I worked as P.I.C for Dance Writing Workshop. My girl IKAN said why am I taking the job if I am so busy? The answer is clear: I need to pay college. Ikan said she can just lend me money and I can focus on my thesis. God, bless this human that is my best friend. That's very kind and thoughtful of her. Anyway, I took the job so I was running 2 events at the same time. One in Cikini, Central Jakarta and one in SOM, South Tangerang. I became an adept Commuter Line user. I no longer mistaken peron 1 with peron 2 and silly things like that, like not knowing which gate I should enter after scanning my card to enter the peron. Duh. Duh 100x. I wasn't particularly on diet but I really didn't want to ea...
Comments