Skip to main content

does it pay off?

 Dear blog,
Aku tuh kemarin mikir...udah lama sih kepikiran di usiaku yang usia produktif ini, 30an, kok aku nggak kerja normatif ya, kantoran gitu yang gajinya dua digit atau mendekati dua digit. Aku masih aja kerja serabutan. Kepikiran ini karena akhir-akhir ini lagi rajin apply2 kerjaan, tapi yang aku apply tetap di bidang Bahasa Inggris, nulis, seputar itu aja. Rasa insecure itu walau sedikit ya ada, ngelihat yang lebih muda dari aku dan income nya berkali-kali lipat.

Sekarang ini penghasilan terbesar ku dari ngajar nari. Dan kuhitung-hitung, sebenarnya total income ku cukup kok untuk hidup, dan masih ada sisa untuk bersenang-senang. Untungnya, alhamdulillah aku juga nggak doyan shopping yang nggak penting, sampai usia 30an ini masih belum tergiur dengan barang-barang branded. Aku kalau main kayak ngafe gitu juga pakai uangku sendiri, nggak pakai uang suami. It leads to this realization: ternyata berjuta-juta uang yang kubelanjakan untuk dance training sejak 2011 pay off juga ya? 😊

Kuceritakan ya timeline training tari ku.

Waktu aku kecil banget, balita lah aku udah les nari. Ini mungkin gak usah dihitung karena it's my parents' will. Mereka manggil guru Tari Jawa ke rumah, namanya Mbak Esti. Mbak Esti mengajar aku dan kakak. Kakak saat itu udah SD dan dia niat, sementara aku.. ya what do you expect, aku balita gitu loh. Yang ada aku lari2an, malas, dan sebagainya. Anehnya, Mbak Esti ini bilang nariku lebih bagus dari kakak, tepatnya ukel-nya. Ukel itu gerakan tangan melengkung yang sangat umum di tari Jawa. Terus gedean dikit, pas TK B, Mbak Esti minta izin ke mama untuk mengajakku latihan di sanggarnya. Uwaaww 😍. Di situlah aku keluar dari Menara Gading Batujajar wkwkkw dan bergabung dengan rakyat jelata. Tentu aku canggung dan gak biasa dengan cara mereka bercanda/ ngajak main. Di situ aku bertemu dengan sahabatku Uqie. Sebenarnya bukan di situ pertama kali ketemu, tapi di situ dia melindungi aku lah intinya. Sayangnya latihan di sanggar, Mbak Esti ini tidak berlangsung lama. Kami bertemu lagi pas aku SMP kelas 1. Mom hired her to choreograph my performance in MTsN Graduation. Itu sekaligus performance bye bye ku karena kemudian aku pindah sekolah. Aku perform sama Anggi dan Ongga 😆😘. Tapi sebelum acara ini, pas SD aku perform juga sama anak-anak les ngaji wkwkwk. Koreografernya si guru ngaji 😄. Nari Saman gitu, seru deh. Perform di kampung, di Batujajar my luv. 

SMP kelas 3 aku les nari Bali sama orang Bali asli, di Malang di Jl.Karya Timur, rumah doi. Awalnya aku bisa kenal orang itu lupa gimana. Setelah itu tidak ada pendidikan tari menari lagi sampai late 2010/ early 2011 dimana aku daftar di Gigi Art of Dance. From there it gets real, and intense. From there I realized that dance is more than a hobby for me. It is something I care, I want to learn deeply, I see something more than just moving out body rhytmically in it.

Comments

Popular posts from this blog

It Has Been A Lot!

Wow, where should I start? So my comeback to dance class after a month break (sebulan aje dibahas...gimana lebih? Udah jadi buku keleus :D) had been a wild ride. Right away rehearsal for a performance and coordinating an event at the same time. Berto gave me this job from IDF, where I worked as P.I.C for Dance Writing Workshop. My girl IKAN said why am I taking the job if I am so busy? The answer is clear: I need to pay college. Ikan said she can just lend me money and I can focus on my thesis. God, bless this human that is my best friend. That's very kind and thoughtful of her. Anyway, I took the job so I was running 2 events at the same time. One in Cikini, Central Jakarta and one in SOM, South Tangerang. I became an adept Commuter Line user. I no longer mistaken peron 1 with peron 2 and silly things like that, like not knowing which gate I should enter after scanning my card to enter the peron. Duh. Duh 100x. I wasn't particularly on diet but I really didn't want to ea...

What is happiness? It sounds like a snack.

I would, like usually, open this post by saying "Things are crazy". Yes, I don't know are things really crazy or is it just me. I think it's the latter. Life appears as surprises to me. And I act like a door, opening this tunnel, closing another one. I don't feel dull, and I can't say my days have been dull for they are full with challenges. But I have been so alone. This also sounds weird. Since when that I'm not alone? I always pull myself back from any social event. I hang out alone. I guess the last time I had a good time outside the house/office/campus with another human being was the last Saturday in January, so it's a month ago. It is true that if I just ask, I will get people willing to go with me. But I am the pickiest picky pick ever because most of the times when I don't pick, I get bored with dull conversations, or a view of someone watching his/her phone like there's nothing else to see. So all this time I hang out alone. Mos...

sehat

Aku masih sakit, nih, blog.. padahal besok udah hari Kamis, harus bekerja di Pingu's. Semoga hari ini sembuh dong, yuk yaaaa...yuuk cepet sehat. Cepet mandi terus ke kampus. Lah kapan istirahatnya? Akakakaka... harus mengejar Armantono nih ik. Come on warrior!!!!!!! Ik merasa hampir gilaaaaaaaaaaaaa aaaaaaaaghhhhhhhhhhhhhhh lontooooooooooooong please, please, ik mau lulus semester ini. Please sehat wal afiat, dan sexy walafeksi... (gila)