Skip to main content

stronger than your monster

 Hello blog,

Kali ini aku mau cerita tentang pergulatanku dengan body image dan bagaimana orang-orang (nggak mau pakai kata masyarakat atau society karena terdengar jauh) punya andil di masalah itu. Ini cerita tidak ditambahkan bumbu penyedap, asli apa adanya. 

Dari kecil aku bertubuh gemuk lucu, bahkan aku nggak rela dilabeli begitu. Emang chubby tapi I looked just fine. Lucu, sehat, menggemaskan. Dari SD sering dikatain gendut sama teman-teman sekolah (soalnya mereka kurus kering kurang gizi, mungkin miskin, sementara aku makannya daging. mereka juga bisa kumakan). Cewek-cewek nggak mau temenan sama aku alasannya karena tubuhku besar (secara tinggi badan juga beda jauh, mereka kuntet. Beneran stunting kali ya). Aku baru punya teman itu kelas 5 atau kelas 6, namanya Anggia. Badannya juga besar. Hahahah menurutku kami temenan bukan karena kemiripan perawakan sih, tapi sama-sama lebih dewasa aja. Kami berdua udah dengerin musik anak2 SMA dan fan-girling boybands jadi cocok aja. Kemudian masa akhir SMP menuju SMA itu memang makanku tidak terkontrol sehingga jadi gendut (Kalau ini beneran, rela aku dibilang gendut). Tetap cantik sih wkwkwk. Nah aku masuk ke SMA orang-orang tajir jadi yang gendut itu banyak, bahkan lebih-lebih gendutnya, bener2 yang tumpeh-tumpeh gitu lemaknya. Aku lagi-lagi dibully tapi bukan karena gendut, karena apes aja ketemu pembully, dan aku minoritas secara ras, agama, latar belakang jadi sasaran empuk lah buat dibully. I got over it, I even won the war.

Tahun berikutnya, kelas 2, karena aku sudah menang dari pembully, aku diterima di pertemanan (terbukti kalau di sekolah ini gendut gak jadi masalah dan nggak mengundang orang untuk membully. seperti yang kuceritakan tadi, itu lebih ke masalah jadi minoritas). Terus aku deket sama seorang lelaki wkwkwkw, temen sekelas. Deket sebagai teman, tapi aku naksir dia. Dia manggil aku "Ndut" dan ini tidak ada intensi mem-bully. Tapi karena aku naksir ya sis, jatuh cinta gitu, jadi aku niat menurunkan berat badan. Pokoknya aku mau lebih cantik. Aku diet dengan sehat, tanpa konsultasi pada siapapun dan tanpa ngeluarin duit, malah jadi hemat. Berangkat dan pulang sekolah yang biasanya naik becak (dari kos), aku jalan kaki. Tidak jajan sama sekali. Makan berat aja tiga kali sehari dan seporsi normal. Minum air putih aja. Olahraga juga. Penampilanku pun berubah secara signifikan. Cowok ini juga notice dan bilang sekarang aku langsing (Ihiiiiiiyyy hahahaha inget banget rasa berbunganya kayak gimana, melebihi bunga bank). Long story short, I didn't get that boy, but I stick to my diet and got even prettier. Things really changed. Untuk pertama kalinya, cewek-cewek ingin jadi temanku, boys came to my house, etc. Aku jadi "Oooh..gini toh rasanya jadi remaja normal yang punya teman".

Then I went to college, jauh dari orang tua, dengan sedikit uang secara alami aku semakin kurus (tanpa usaha. By poverty). 160 cm 54-55 kg. Bagi kalian yang terbiasa kurus dari kecil mungkin segitu nggak terlalu kurus ya, tapi buatku itu masa-masa terlangsing. Then I had a boyfriend. Things started to get harsh from here. Dia sering becandain aku gendut (just because I had NORMAL tummy rolls). Di lingkaran pertemanan juga ada satu cewek yang mantan model. Berat badannya se-aku tapi terkadang dia lebih gendut (sekali lagi, aku saat itu kurus by poverty dan dia tinggal dengan orang tua, berlimpah makanan). Nah si mantan model ini, bicaranya soal body image terus. Kayak ga ada bahasan lain. Temanku bukan cuma dia but she's in my circle. Teman kami yang sedikit lebih chubby selalu dia becandain yang menurutku, kadang keterlaluan becandanya. Aku juga kalau menggendut dikit jadi sasaran. So this friend + my ex (porsinya lebih banyak di mantan tentu saja) messed up my mind. I was really sick of being fat-shamed (when I wasn't even fat). So I did extreme diet. I reached 48-49 kg. And still insecure.

Aku nggak tau cerita ini masih relevan nggak ya di jaman sekarang, karena sekarang aku lihat anak-anak muda badannya besar, dan gerakan body positivity sudah berjalan. Dulu, tahun 2006-2009, berat badanku segitu itu dipuji cantik. Hanya keluargaku yang tidak memuji dan mulai khawatir. Semua orang di kampus (teman-teman, senior) really liked my skinny look

Setelah itu, tentu saja aku sakit. Karena sakit, harus pemulihan. Harus makan dengan benar dan minum obat. Otomatis berat badan naik, kembali ke angka 50an. And you know what? My ex was dissapointed with that. Aku ingat, salah satu teman cowok ku, seorang punk, yang sangat cuek, sampe mengungkapkan concern ke aku dengan bilang gini: "Bilangin ke cowok lo, dia yang kekurusan bukan lo yang gendut". That time, he was my only idea of love (maklum, aku ini jarang pacaran, sekalinya pacaran ya bucin) so I felt that I didn't deserve to be loved anymore because I was fat again. Things were really bad, I felt terrible most of the time in my mind. I was self-destroying. I would rather be ill than be fat. In fact I looked great but didn't feel like that because people kept reminding me how pretty I was when I was skinnier.

Life goes on and I entered dance world. As you can guess, this world is no better than the past. It is as if no matter how talented or skillful I get, the only obstacle that blocked me is because I wasn't thin enough. I really wanna say fuck you, people, really, fuck you. They can kiss my feet because I still got the chances diluar lingkaran "keluarga tari"ku. Aku dapat kesempatan jadi main dancer dan asisten koreografer di sebuah karya bikinan koreografer Jerman. Sama sekali dia nggak ada nyebut soal badanku, malah pas audisi, dimana semua peserta bareng-bareng improvisasi, dia datang ke aku dan tanya "How long have you been dancing?" 

"Give her longer time we wanna see her solo"

Gila, baru kali ini aku ngerasa dihargai kepenarianku dan bukan BADANKU. Terima kasih Mirjam Gurtner, itu akan selalu kukenang.

Pengalaman-pengalaman yang indah ini membantuku membangun kepercayaan diri lagi, tapi tidak bisa dipungkiri body issue itu membekas cukup dalam dan sampai sekarang aku masih punya perasaan kalau aku akan lebih disukai jika aku lebih kurus.

Circa 2019 aku diet lagi dan berhasil. Turun 10 kilo-an dan saat itu aku intens banget nari jadi bagus, nggak kayak dulu. It was significant, I literally looked skinnier dan suatu hari yang random, satu orang rese ini (bukan guru, tapi orang penting lah pokoknya di dance school) menyapaku "Eh, gendutan ya?" When I literally lost 10 kilograms. Gimana gue nggak ketawa :))

Comments

Popular posts from this blog

It Has Been A Lot!

Wow, where should I start? So my comeback to dance class after a month break (sebulan aje dibahas...gimana lebih? Udah jadi buku keleus :D) had been a wild ride. Right away rehearsal for a performance and coordinating an event at the same time. Berto gave me this job from IDF, where I worked as P.I.C for Dance Writing Workshop. My girl IKAN said why am I taking the job if I am so busy? The answer is clear: I need to pay college. Ikan said she can just lend me money and I can focus on my thesis. God, bless this human that is my best friend. That's very kind and thoughtful of her. Anyway, I took the job so I was running 2 events at the same time. One in Cikini, Central Jakarta and one in SOM, South Tangerang. I became an adept Commuter Line user. I no longer mistaken peron 1 with peron 2 and silly things like that, like not knowing which gate I should enter after scanning my card to enter the peron. Duh. Duh 100x. I wasn't particularly on diet but I really didn't want to ea...

What is happiness? It sounds like a snack.

I would, like usually, open this post by saying "Things are crazy". Yes, I don't know are things really crazy or is it just me. I think it's the latter. Life appears as surprises to me. And I act like a door, opening this tunnel, closing another one. I don't feel dull, and I can't say my days have been dull for they are full with challenges. But I have been so alone. This also sounds weird. Since when that I'm not alone? I always pull myself back from any social event. I hang out alone. I guess the last time I had a good time outside the house/office/campus with another human being was the last Saturday in January, so it's a month ago. It is true that if I just ask, I will get people willing to go with me. But I am the pickiest picky pick ever because most of the times when I don't pick, I get bored with dull conversations, or a view of someone watching his/her phone like there's nothing else to see. So all this time I hang out alone. Mos...

sehat

Aku masih sakit, nih, blog.. padahal besok udah hari Kamis, harus bekerja di Pingu's. Semoga hari ini sembuh dong, yuk yaaaa...yuuk cepet sehat. Cepet mandi terus ke kampus. Lah kapan istirahatnya? Akakakaka... harus mengejar Armantono nih ik. Come on warrior!!!!!!! Ik merasa hampir gilaaaaaaaaaaaaa aaaaaaaaghhhhhhhhhhhhhhh lontooooooooooooong please, please, ik mau lulus semester ini. Please sehat wal afiat, dan sexy walafeksi... (gila)