Sampai hari ini rasanya gimanaa gitu kalau lewat Sehidup Sekopi dan lihat tempat itu tertutup, hitam, gelap dan jadi gudang. Kemarin aku makan di Bakmi Buncit sama Herda setelah ngajar. Beberapa kali juga aku makan di Bakmi Buncit sendirian sebagai hadiah untuk diriku, biasanya kalau abis ngajar nari yang cukup menghabiskan energi.
Sehidup Sekopi mungkin adalah kehilangan kedua paling besar setelah hilangnya SOM sebagai sebuah tempat fisik, di Emerald Boulevard. Di postingan kali ini aku akan bercerita dari awal bagaimana aku punya keterikatan dengan Sehidup Sekopi.
Sehidup Sekopi mungkin adalah kehilangan kedua paling besar setelah hilangnya SOM sebagai sebuah tempat fisik, di Emerald Boulevard. Di postingan kali ini aku akan bercerita dari awal bagaimana aku punya keterikatan dengan Sehidup Sekopi.
2016 punya teman baru di SOM yang akhirnya cocok denganku. Artsy, dan nakal 😏. Sepulang nari dia ngajakin aku nongkrong, dan dia membawaku ke tempat bernama Pop Hari Ini. Namanya aneh ya. Dia nyebutnya "Backyard" kalau nggak salah. Dan aku bilang oh iya pernah google "Backyard" ini dan kucari tapi nggak ketemu. Si "Backyard" ini saat itu sangat sempit, bisa dibilang hanya ada 2 seating set. Indoor, AC, dan boleh merokok. Ada etalase berisi pastry juga. Berlampu kuning. Kesannya kayak European waiting room? Atau European cafe tapi kecil banget. Di situ si Artsy ini memperkenalkanku pada Marina Abramovic. Dia cerita dan nunjukin video. Aku beneran hepi banget nemu teman kayak gini di SOM. SOM itu isinya anak-anak lugu yang tidak menambah wawasanku sama sekali masalah kesenian.
Karena tempatnya sekecil itu (dan cenderung lifeless, pada saat itu) aku nggak ke sana lagi. Bayangin cuma ada 2 spot duduk. Besar kemungkinan nggak kebagian tempat.
Setahun kemudian, mau ketemuan dengan Nique dan Daru. Daru kan Tangsel-tangsel sini juga, dan Nique saat itu tinggal di perumahan masih satu area dengan SOM (gila, mewah banget kehidupan dia waktu itu). Iseng, kuajaklah ke Backyard itu. Ternyata udah berubah, jadi lebih besar, dan suasana nya itu warm banget. Kayak cafe komunitas sih, dimana setiap orang saling sapa. Itulah awal mula Sehidup Sekopi. Aku juga sedang dengan teman-teman terdekatku malam itu. Malam itu ada acara yang diselenggarakan EMT Network. Ini nanti kepanjangan ceritanya kalau dijelasin detil. Seru juga cerita ini tapi next lah ya... intinya malam itu sangat menyenangkan. Nique nyanyi diiringi gitar. Si penyanyi cafe nya sampe minder sama Nique hahahaha. Malam itu aku langsung dapat dua teman baru, Eddy, dan his wife at that time, Citra. What a night for an introvert like me.
Karena tempatnya sekecil itu (dan cenderung lifeless, pada saat itu) aku nggak ke sana lagi. Bayangin cuma ada 2 spot duduk. Besar kemungkinan nggak kebagian tempat.
Setahun kemudian, mau ketemuan dengan Nique dan Daru. Daru kan Tangsel-tangsel sini juga, dan Nique saat itu tinggal di perumahan masih satu area dengan SOM (gila, mewah banget kehidupan dia waktu itu). Iseng, kuajaklah ke Backyard itu. Ternyata udah berubah, jadi lebih besar, dan suasana nya itu warm banget. Kayak cafe komunitas sih, dimana setiap orang saling sapa. Itulah awal mula Sehidup Sekopi. Aku juga sedang dengan teman-teman terdekatku malam itu. Malam itu ada acara yang diselenggarakan EMT Network. Ini nanti kepanjangan ceritanya kalau dijelasin detil. Seru juga cerita ini tapi next lah ya... intinya malam itu sangat menyenangkan. Nique nyanyi diiringi gitar. Si penyanyi cafe nya sampe minder sama Nique hahahaha. Malam itu aku langsung dapat dua teman baru, Eddy, dan his wife at that time, Citra. What a night for an introvert like me.
Sejak saat itu, Sehidup Sekopi is my go to. Kebetulan juga tiap Selasa pagi aku ngajar di Feel Good Space (saat itu di basement Hotel Aviary). Selesai ngajar, jam 12, jalan kaki nyebrang ke Sehidup. Ngopi dulu di sana, abis itu ke Snowy, kerja. Khusus hari Selasa biasanya sepulang Snowy aku menahan diri untuk nggak ke Sehidup lagi 😅. Bagi-bagi duit lah sama cafe lain, asek 😜. Yang jelas sangat jarang aku pulang kerja langsung rumah.
Apalagi pas SOM banyak event dan aku terlibat. Sebelum atau setelah latihan biasanya aku mendinginkan badan dan pikiran dulu di Sehidup. Ini penting banget.
So it's safe to say 2017-2019 akhir itu aku menghabiskan sore hari di Sehidup. Perkecualian-perkecualiannya adalah ketika aku terlibat project Candodance yang latihannya di Manggarai, atau kalau aku di kampus. Aku sampe minta no.WA salah satu waitress dan dari SOM aku WA dia dulu nanya ada tempat nggak. Kalau nggak ada, ya nggak ke sana. Se-kooperatif itu waitress nya 😚
Waitress itu juga hafal pesananku. Aku baru buka pintu, dia di counter teriak "Es kopi gebetan less ice kan! Udah kak Keisha langusng duduk aja!" Feeling special banget. Pada akhirnya waitress baik ini keluar, begitu juga Citra dan Eddy tidak pernah kelihatan lagi. Mereka memindahkan program-program ke sebuah cafe di BSD, ceritanya begitu. Nggak ada lagi yang nyapa ataupun ngajak ngobrol aku. Tapi tempat itu tetap tempatku berteduh, memproses perasaan-perasaan yang berat. Kalau mau nangis, nangis dulu di sana karena sampe rumah harus kuat disuruh-suruh dan diinvalidasi emosi-emosinya.
Riset-riset untuk tesis juga banyak dilakukan di sini. Aku jadi sadar kalau warm-colored lights and wooden furnitures work well with me. Mungkin itu kenapa aku memilih tempat ini padahal semakin lama kopinya tuh semakin nggak ada rasanya. Barista-baristanya makin males dan kerjaannya main game aja.
Jujur aku nyimpen foto-foto lama ini karena ngelihatnya aja senang, kayak bisa inget banget suasananya dimana cafe mulai sepi, karena orang beralih ke tempat2 yang lebih gaul mungkin, dan aku sendirian ngerjain tesis, ditemani barista/staff yang terus main game dan nggak peduli aku bayar atau nggak (iya, separah itu. orang pernah aku kasih duit 40rb malah dikasih kembalian 50rb).





Comments