Skip to main content

banjir kecil-kecilan

 

Dalam perjalanan ke Pati, aku melewati suatu area dalam satu garis lurus yang panjang, antara Semarang dan Kudus. Area itu sangat jelas tampak terendam air. Jalan utama yang dilalui kendaraan memang kering, namun di pinggir, di jalan-jalan rumah warga, air selokan menggenangi jalan umum. Airnya keruh dan tidak mengalir, juga penuh dengan sampah. Belum cukup sampai di situ, tahun lalu aku melihat ada beberapa orang yang mandi di selokan besar tersebut. Sesampainya di Pati, aku menceritakan kota itu dan reaksi mereka santai, “Oh area itu memang kebanjiran,” jadi kukira akan segera surut. Namun tahun ini aku disuguhkan pemandangan yang sama. Tidak terlalu cepat sampai akhirnya aku menemukan pembahasan jujur akan apa yang terjadi di kota itu, di internet. Masalah banjir rob ini sudah terjadi sejak 2012, dan semakin parah pada 2017. Rumah warga terendam selama 1 dekade lebih. Mereka hidup tergenang, dan pemerintah setempat hampir tidak melakukan apapun. Warga berinisiatif meninggikan jembatan, namun percuma, karena air juga semakin tinggi dari tahun ke tahun. Mereka membuat panggung di dalam rumah masing-maisng, untuk menaruh barang-barang elektronik dan untuk tidur. Tetapi tidak semua warga punya uang untuk membangun panggung.




Lalu aku penasaran apakah ada karya tari yang mengambil masalah ini sebagai fokus utamanya. Ada, dan cukup banyak ulasan nya. Karya itu, seperti sudah kuduga, adalah menari di genangan air, meliuk-liukkan badan dan membuat efek di air dengan properti kain. Sungguh seperti yang sudah-sudah. Tari memang bisa menjadi bentuk protes, namun sayangnya ia jatuh pada stereotip yang maaf, menurutku malas, dan tidak ada bedanya dengan genangan air yang stagnan tersebut.

Dalam minat yang besar terhadap panggung pertunjukan kontemporer Indonesia, aku menghela nafas sambil bergumam, "Kapan tarian-tarian kontemporer ini berhenti jadi imitasi murahan akan realita?"

Comments

Popular posts from this blog

It Has Been A Lot!

Wow, where should I start? So my comeback to dance class after a month break (sebulan aje dibahas...gimana lebih? Udah jadi buku keleus :D) had been a wild ride. Right away rehearsal for a performance and coordinating an event at the same time. Berto gave me this job from IDF, where I worked as P.I.C for Dance Writing Workshop. My girl IKAN said why am I taking the job if I am so busy? The answer is clear: I need to pay college. Ikan said she can just lend me money and I can focus on my thesis. God, bless this human that is my best friend. That's very kind and thoughtful of her. Anyway, I took the job so I was running 2 events at the same time. One in Cikini, Central Jakarta and one in SOM, South Tangerang. I became an adept Commuter Line user. I no longer mistaken peron 1 with peron 2 and silly things like that, like not knowing which gate I should enter after scanning my card to enter the peron. Duh. Duh 100x. I wasn't particularly on diet but I really didn't want to ea...

What is happiness? It sounds like a snack.

I would, like usually, open this post by saying "Things are crazy". Yes, I don't know are things really crazy or is it just me. I think it's the latter. Life appears as surprises to me. And I act like a door, opening this tunnel, closing another one. I don't feel dull, and I can't say my days have been dull for they are full with challenges. But I have been so alone. This also sounds weird. Since when that I'm not alone? I always pull myself back from any social event. I hang out alone. I guess the last time I had a good time outside the house/office/campus with another human being was the last Saturday in January, so it's a month ago. It is true that if I just ask, I will get people willing to go with me. But I am the pickiest picky pick ever because most of the times when I don't pick, I get bored with dull conversations, or a view of someone watching his/her phone like there's nothing else to see. So all this time I hang out alone. Mos...

sehat

Aku masih sakit, nih, blog.. padahal besok udah hari Kamis, harus bekerja di Pingu's. Semoga hari ini sembuh dong, yuk yaaaa...yuuk cepet sehat. Cepet mandi terus ke kampus. Lah kapan istirahatnya? Akakakaka... harus mengejar Armantono nih ik. Come on warrior!!!!!!! Ik merasa hampir gilaaaaaaaaaaaaa aaaaaaaaghhhhhhhhhhhhhhh lontooooooooooooong please, please, ik mau lulus semester ini. Please sehat wal afiat, dan sexy walafeksi... (gila)