Skip to main content

dapur, dan teman-teman

Writing here is therapeutic. 
Nggak banyak sih yang mau diceritain (and then proceed to write on too many topics 😅).

Ini adalah 3 hari sebelum lebaran, jadi cerita sebulan puasa ini aja kali ya. Ramadhan ini alhamdulillah jualan kue kering lebih rame dari tahun lalu. Sangat membantu perekonomian. Ngajar kpop dua kali aja selama puasa ini, Shooting Stars nya XG dan Rover nya Kai. Penting ya gue infoin lagunya? 
Puasa tahun ini lebih santai dalam dunia perdapuran. Sahur seadanya, buka kebanyakan di rumah nyokap. Yang dimasak sendiri di sini sayur asem, sayur lodeh, tumis tahu cabe ijo, ayam goreng sambel korek, oohhh yang heboh dong, harus ditulis nih, penting: Ayam Woku!! Pake resepnya Chef Devina. Gila gila bangga banget gue. Aliran darah Gorontalo gue difungsikan juga akhirnya setelah terJawakan dengan sistematis dan struktural 😝

Sering ke rumah nyokap itu selain numpang make mesin cuci, dari ngambil kue, ya ingin nemenin beliau. Mama tuh 2 hari aja aku nggak ke rumah, WA "Halo apa kabar?" . Kasihan kan, memang teman ngobrolnya di rumah itu ya aku. 

Diantara obrolan kami di meja makan, sempat menyinggung nama almarhumah temanku. Dan aku meneteskan air mata di tengah-tengah ngobrol. Bagus sih sekarang aku nggak nahan-nahan depan Mama. Kalau mau nangis ya nangis. Abis itu ngobrol biasa lagi.  Awal bahasannya itu "Berteman berdasarkan apa?"

Nah aku pernah denger nih di kelas Rm.Setyo waktu matrikulasi dulu, kalau menurut Plato ada tiga tingkat pertemanan. Yang paling bawah karena azas saling menguntungkan. Ini pertemanan yang paling dangkal lah, jadi kalo lo udah nggak bermanfaat bagi dia ya selesai lah hubungan itu. Naik satu tingkat, berdasarkan kesamaan. Misal sesama fans idol, kesamaan sejarah, dsb. Yang tertinggi adalah karena sama-sama menjunjung kebaikan. Aku itu heran, bukan aku aja sih, banyak yang bertanya-tanya kok bisa aku masih temenan dengan mereka-mereka ini. Semakin tua hidup kami semakin berbeda, makin gak relate satu sama lain. Tapi kalau nongkrong tetep seru tetep ketawa2 dan nggak dibuat-buat. Belum lagi, pertemanan ini sangat low effort. Ketemu bisa setahun sekali, ga ada yang mau ngalah lagi soal tempat ketemuannya (kecuali aku. aku ngerasa paling waras paling wow wow wow deh pokoknya 😝). Bahkan pas nikahanku mereka sampe aku bukain kamar di hotel dekat venue biar ga ada alasan untuk NGGAK DATANG. Pertemanan macam apa ini 😅. Tapi ya gitu, I'm willing to off schedules if it's to meet them and I think they do as well. Mereka itu hermit tingkat dewa. Membuat mereka mau keluar main itu luar biasa. Balik ke pertanyaan awal, kok bisa temenan? Nah itu diobrolin dengan nyokap tempo hari. Maybe because we notice kindness in each other. Kindness not in acts but kind heart. Kalau in acts, brengsek sih. Janjian jam 1 datang jam 3, seenaknya mengganti tempat janjian. Ngeselin bgt. Pain in the ass.

Pernah suatu saat nih, aku WA di grup "Gimana kabarmu, Ru? Sehat-sehat kah?" terus dia jawab "Sehat. Kenapa Kei?" "Ya ngecek temennya lah" terus kami ketawa, dia menyadari se-lama itu kami bertiga ga ada komunikasi.


Setelah banyak bgt drama akhirnya ketemuan. Di hari H ketemuan pun pake berantem. 


Comments

Popular posts from this blog

It Has Been A Lot!

Wow, where should I start? So my comeback to dance class after a month break (sebulan aje dibahas...gimana lebih? Udah jadi buku keleus :D) had been a wild ride. Right away rehearsal for a performance and coordinating an event at the same time. Berto gave me this job from IDF, where I worked as P.I.C for Dance Writing Workshop. My girl IKAN said why am I taking the job if I am so busy? The answer is clear: I need to pay college. Ikan said she can just lend me money and I can focus on my thesis. God, bless this human that is my best friend. That's very kind and thoughtful of her. Anyway, I took the job so I was running 2 events at the same time. One in Cikini, Central Jakarta and one in SOM, South Tangerang. I became an adept Commuter Line user. I no longer mistaken peron 1 with peron 2 and silly things like that, like not knowing which gate I should enter after scanning my card to enter the peron. Duh. Duh 100x. I wasn't particularly on diet but I really didn't want to ea...

What is happiness? It sounds like a snack.

I would, like usually, open this post by saying "Things are crazy". Yes, I don't know are things really crazy or is it just me. I think it's the latter. Life appears as surprises to me. And I act like a door, opening this tunnel, closing another one. I don't feel dull, and I can't say my days have been dull for they are full with challenges. But I have been so alone. This also sounds weird. Since when that I'm not alone? I always pull myself back from any social event. I hang out alone. I guess the last time I had a good time outside the house/office/campus with another human being was the last Saturday in January, so it's a month ago. It is true that if I just ask, I will get people willing to go with me. But I am the pickiest picky pick ever because most of the times when I don't pick, I get bored with dull conversations, or a view of someone watching his/her phone like there's nothing else to see. So all this time I hang out alone. Mos...

sehat

Aku masih sakit, nih, blog.. padahal besok udah hari Kamis, harus bekerja di Pingu's. Semoga hari ini sembuh dong, yuk yaaaa...yuuk cepet sehat. Cepet mandi terus ke kampus. Lah kapan istirahatnya? Akakakaka... harus mengejar Armantono nih ik. Come on warrior!!!!!!! Ik merasa hampir gilaaaaaaaaaaaaa aaaaaaaaghhhhhhhhhhhhhhh lontooooooooooooong please, please, ik mau lulus semester ini. Please sehat wal afiat, dan sexy walafeksi... (gila)