Sekitar awal 2019, aku mewawancarai beberapa orang tanpa bertemu langsung. Ada yang melalui video call dan chat WhatsApp. Wawancara itu dimaksudkan untuk mendapatkan data untuk kemudian menjadi bahan untuk menulis artikel. Orang-orang dan lembaga yang harus kujadikan topik artikel ini sebenarnya bisa di-google dan akan muncul tulisan-tulisan tentang mereka. Namun supervisor ku saat itu ingin artikel yang berbeda dari yang seliweran di jagad internet, sesuatu yang organik. Aku suka ide itu. Dengan kemajuan teknologi, aku tidak perlu bertemu langsung dengan para narasumber. Hal ini tentu membawa keuntungan dan kerugian. Aku merasa wawancara bisa lebih intim jika bertemu langsung, tetapi saat itu aku juga sibuk sekali. Selain pekerjaan ini, ada beberapa project lain yang kukerjakan. Untuk bayar kuliah ya begitulah aku dulu :)
![]() |
| Maap ni foto ga ada hubungannya sama cerita cuma ini penampakanku pada era peristiwa ini. Photo by Nique |
Saat itu aku sudah mulai menyusun tesis untuk kelulusan STF, tetapi stuck di Bab 2 sampai 2 tahun hahahaha. Pada kesempatan wawancara kali ini, narasumber hanya bersedia via teks WA. Aku melakukannya sambil menunggu makananku datang, di Ayam Geprek Ningrat, Lotte Mart Bintaro. Asik lah santai, via chat ini.
Perempuan yang kuwawancarai ini dimasukkan dalam daftar orang yang harus di-feature karena inovatif. Dia membangun museum digital. Kebetulan aku juga selalu suka dengan hal-hal yang sangat tua. Sesuatu yang purba. Aku selalu membayangkan bagaimana kehidupan pada masa-masa kuna itu dan apakah hidup kita sekarang ini lebih baik atau lebih buruk dari masa itu.
Resto ini memang selalu lama penyajiannya karena banyak melayani pesanan online, dan aku tahu itu jadi kugunakan waktu menunggu makanan untuk wawancara. Pada awal wawancara, narasumber ini sangat tertutup. Semua pertanyaanku dijawab sekadarnya, seperti tidak ada keinginan untuk membagikan passion dia untukku. Aku tidak menyerah. Walau ada rasa nggak nyaman, tapi toh ini tantangannya wawancara, bukan sekedar mendapat informasi tapi bagaimana mengulik agar narasumber keceplosan banyak :))
Misal aku bertanya, kenapa tertarik dengan masa kuna, jawabannya sekadar "Kalau tidak ada dulu, tidak ada sekarang." Ngeselin kan. Gue juga tau, Maemunah. Sebelum mewawancarai, aku sudah membaca profil nona ini sehingga aku tau sedikit hal-hal trivial tentangnya selain tentang proyek museum digitalnya. Maka mulailah aku menggok ke pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada hubungannya dengan proyek tersebut. Chat kami jadi semakin cair dan seru (dan ayam geprek ku belum juga datang).
Aku sungguh lupa kata-kata apa tepatnya dari dia, tapi ketika aku sadar (sudah tau dari sebelum wawancara) bahwa orang ini hidup dengan penyakit autoimun yang cukup ganas, dan dia bercerita apa saja yang sedang dilakukannya (pada momen ini dia sudah terbuka dan tidak kaku). Sedang mau mulai kuliah S-3, dan rencana-rencana lain yang sedang berjalan, kau tau nggak..
Ayam Geprek ku datang
Dan aku meneteskan air mata. Terus menerus, cukup lama. Aku menangis di depan sepiring Ayam Geprek Ningrat. Aku ingat apa yang kukatakan padanya saat itu, "Kak, energinya luar biasa." Dan dia jawab, "Mumpung masih hidup, Mbak"
Aku nangis lagi. Anjing lah pengalaman gue nangisin ayam geprek. Itu pengalaman wawancara yang mind-altering sih. Dia tidak mengatakan apapun terkait kondisinya, hanya aku saja yang tersadar. Buku pertama yang dia terbitkan menceritakan pergulatan dengan sakitnya itu, dan hari itu aku belum membacanya. Mungkin sore itu aku diberkati dengan wake up call mengingat tesisku yang sekian lama terbengkalai. Bukan karena malas, tapi aku perfeksionis dan sebelumnya ada masalah personal yang tidak bisa kuceritakan di sini. Kerikil-kerikil tajam itu jika bisa kusetarakan dengan sakitnya nona ini -- membuatku berpikir dia bisa melangkah sejauh itu lho. Di akhir chat dia memberi dokumen pdf portfolionya, yang ketika kubaca membuat semakin tercengang.
Saat itu, setelah wawancara yang memuaskan, aku curiga dia memang kurang suka dengan kegiatan wawancara dan respon naturalnya pada jurnalis ya dengan bersikap seperti di awal chat. Itu hipotesa pribadiku, bisa benar bisa salah. Ketidaksukaan itu, jika memang benar, wajar saja. Coba lihat artikel-artikel tentang tokoh apapun di Google, hampir semua artikel isinya sama. Lebih parah lagi, mungkin tulisan satu mengkopi tulisan lainnya. Terbaca sekali si penulis tidak ada kepedulian dengan apa signifikansi narasumber yang diulasnya.
Tidak lama dari momen Ayam Geprek itu, aku berkunjung ke website pribadinya, membaca semua tulisannya. Sebagai INFP aku punya kecenderungan jatuh pada kekaguman. (masukkan emoji cringe di sini)
Kemudian, aku membagikan ekspresi kekagumanku padanya di insta story. Direspon oleh supervisor ku, "Segitunya emang?" 😝😖 Sial, ini kan hanya kerjaan dan dia hanya salah satu dari sekian orang di daftar wawancara. Tapi aku segitunya.

Comments