Skip to main content

langit sore yang kedua puluh juta kali

 Pada April 2020, akhirnya aku mendapatkan apa yang sudah diperjuangkan dengan lama dan susah payah, kelulusan. Kelulusan ini bukan hal biasa untukku, tidak seperti hal-hal lain yang kuselesaikan sebelumnya. Baru kali itu aku merasa ragu apa yang kujalani ini bisa kulanjutkan, apakah perlu. Beberapa kali hampir kuputuskan untuk berhenti saja -- bukan perangaiku yang biasa. Rintangan yang kuhadapi terlalu berat dan mematahkan semangat. Lagi pula itu jenjang S-2 dan aku melangkah atas kemauanku sendiri. Kalaupun tidak kuselesaikan, tidak akan ada yang kecewa, kecuali diriku sendiri. 

Kelulusan itu kudapatkan dalam masa yang tidak pernah ada referensinya dalam pengalaman hidup, yaitu masa pandemi. Kami sekeluarga sudah diam di rumah berbulan-bulan. Kalaupun keluar, dengan perasaan yang tidak leluasa. Aku tidak hanya berdiam di rumah. Lebih parah, aku mengurung diri di kamar. Suasana rumah kala itu emosional, semua orang mudah terpicu amarah karena stress tinggi. Aku kehilangan pekerjaan, yang lain dipotong gajinya. Berita kematian datang setiap hari. Jadi, kelulusanku yang seharusnya kurayakan dengan gila-gilaan (versiku sendiri, tentu) jadi tidak masuk akal dan mustahil. Aku hanya merayakannya dengan seliter kopi dari Ngopi Bar -- kedai yang dulu sering bisa kau temukan aku duduk berjam-jam mengerjakan tesis, merokok, dan tidur. Semuanya di kamar saja. Perlu kau ketahui aku bukan orang seperti itu.  Sebelum masa yang sulit ini aku tidak pernah ada di rumah, baru pulang jam sebelas malam. Aku mengajar dari studio satu ke berikutnya, duduk di Sehidup Sekopi atau Ngopi Bar sampai jam terakhir, belum termasuk pekerjaan freelance lainnya yang mengharuskanku bepergian ke Jakarta.

Walau demikian, kelulusan itu tetap memuncak di hatiku. Lega dan bahagia. Aku sudah membayangkan akhirnya aku bisa semakin fokus menari di studio tempatku belajar dari lima tahun sebelumnya, aku membayangkan akan membuat banyak hal di sana. 

Lalu kabar itu datang, studio ditutup. Tidak ada lagi tempat itu. 

Masa pembatasan mobilitas karena pandemi ini mungkin akan berakhir tidak lama lagi, tetapi aku mau kemana? Aku mau ngapain? Kau bisa bilang aku menyedihkan, tetapi hanya itu yang kumau -- kembali menari di studio itu. 

Kelas-kelas tetap berjalan, secara virtual, dan aku sama sekali tidak tertarik. Tidak ada yang bisa dirasakan dalam kelas tari virtual. Akan ada banyak yang tidak setuju tentang hal ini, tapi itu yang kurasakan. Afeksi lahir dari pertemuan dua tubuh, ketika mata telanjangku bertemu dengan tubuhmu. Kini aku harus membangun afeksi dengan layar? Tidak, terima kasih. Semuanya jadi terasa terlalu dipaksakan.  Kemudian karena aku tidak mengikuti kelas-kelas itu, guruku memusuhiku dan menyampaikan hal-hal yang tidak mengenakkan yang akhirnya sampai ke telingaku. 

Comments

Popular posts from this blog

It Has Been A Lot!

Wow, where should I start? So my comeback to dance class after a month break (sebulan aje dibahas...gimana lebih? Udah jadi buku keleus :D) had been a wild ride. Right away rehearsal for a performance and coordinating an event at the same time. Berto gave me this job from IDF, where I worked as P.I.C for Dance Writing Workshop. My girl IKAN said why am I taking the job if I am so busy? The answer is clear: I need to pay college. Ikan said she can just lend me money and I can focus on my thesis. God, bless this human that is my best friend. That's very kind and thoughtful of her. Anyway, I took the job so I was running 2 events at the same time. One in Cikini, Central Jakarta and one in SOM, South Tangerang. I became an adept Commuter Line user. I no longer mistaken peron 1 with peron 2 and silly things like that, like not knowing which gate I should enter after scanning my card to enter the peron. Duh. Duh 100x. I wasn't particularly on diet but I really didn't want to ea...

What is happiness? It sounds like a snack.

I would, like usually, open this post by saying "Things are crazy". Yes, I don't know are things really crazy or is it just me. I think it's the latter. Life appears as surprises to me. And I act like a door, opening this tunnel, closing another one. I don't feel dull, and I can't say my days have been dull for they are full with challenges. But I have been so alone. This also sounds weird. Since when that I'm not alone? I always pull myself back from any social event. I hang out alone. I guess the last time I had a good time outside the house/office/campus with another human being was the last Saturday in January, so it's a month ago. It is true that if I just ask, I will get people willing to go with me. But I am the pickiest picky pick ever because most of the times when I don't pick, I get bored with dull conversations, or a view of someone watching his/her phone like there's nothing else to see. So all this time I hang out alone. Mos...

yang hilang dan jadi debu

ada sesuatu yang diam-diam kupercaya walau ia hilang ditelan bisingnya Jakarta: Islam ada cara hidup yang sederhana, menawarkan kesadaran untuk mampu mengendalikan kecepatan, dengan disiplin lima kali dalam sehari, dan tidak lebih lama dari basa-basi ada cara bertutur yang tegas dan disetujui tubuh, istighfar membuatku sadar, bahwa yang sakit bisa pulih tasbih menunduk-daguku, bahwa seniman itu sebuah entitas hamdalah hangatkan bahuku, ada yang Maha kendali di atas kendaliku