Skip to main content

lagi sedih :)


foto dari proses bikin karya, 2017


Beberapa hari terakhir aku sedih. Kukira aku sudah melewatinya, ternyata yaa buntutnya masih banyak. Jadi aku dikabari bahwa paguyuban tempat aku belajar nari itu bubar. LOL lucu juga disebut paguyuban. Mau disebut sekolah, ga ada kurikulum dan silabusnya. 

Aku menjalani tahun demi tahun di situ. Hari-hari ketika aku merasa bertumbuh dan ketika aku merasa diinjak tidak perlu lagi kuceritakan, kau tahu semuanya :) 
Aku nggak berharap banyak pada perkumpulan itu. Maksudku, kau tahu aku lebih dihargai di luar, mendapatkan yang pantas kudapatkan dari orang-orang di luar. Tapi tetap saja aku berharap mereka terus ada. Ada perasaan gamang yang tinggal berhari-hari setelah berita itu. Aku jadi malas melakukan apapun, membenamkan diri dalam game. Untungnya masih ada ngajar online, masak tetap dilakukan walau semangatnya sangat berkurang. Pagi sampai sore rasa malas itu terasa cukup buruk. Malam harinya, jika aku beruntung, aku berhasil memaksa diriku untuk duduk dan membaca bahan-bahan yang berkaitan dengan calon buku. Jujur, hanya buku-buku itu yang berhasil menyelamatkan dari kegelapan pikiran. Terlalu berlebihan ya, terdengarnya. 

Ya, caraku menangani kesedihan banyak terbantu dengan hidup bersama Herda. Dia selalu mengajak aku untuk kembali ke logika. Reality check, istilahnya, biar nggak tenggelam dalam pikiran-pikiran sendiri yang belum tentu benar.

Mungkin ini akhir dari sebuah masa, dan masuk ke masa berikutnya. Adaptabilitasku diuji di sini. Baris yang ini aku nulisnya udah jarak tiga hari sih dari paragraf2 sebelumnya hahaha jadi udah lebih baik perasaannya. 

Selama bertahun-tahun sejak 2015 akhir, nari di sana setiap Minggu jadi hiburan wajib, bahkan ketika kelas itu menyiksa dan menyakitkan, aku tetap BUTUH untuk datang setiap Minggu. Latihan fisik dan mental selama bertahun-tahun itu berkontribusi banyak pada diriku, apa-apa saja yang berhasil kuhadapi. Dalam menari sendiri, ada kebahagiaan yang tidak kudapatkan dari hal lain. Ketika tubuh melampaui batas kemampuan sebelumnya, saat itu jiwaku rasanya juga meluas, expanded. Ketika diberi gerakan yang susah atau terlihat menakutkan, aku berusaha melakukannya, sedikit demi sedikit mendekati keberhasilan mengeksekusi gerakan itu. Laku ini efeknya besar sekali. Ketika aku berusaha menari dengan baik itu bukan untuk terlihat bagus di video, tapi itu hidup yang kuinginkan -- aku ingin hidup dengan baik, kalau ada rintangan aku ingin bisa melewatinya. Semua yang kupelajari dalam menari itu ilmu hidup. 

Shit jadi mellow lagi :))

Mungkin benar, kita mengingat dan merindukan seseorang untuk apa yang dia berikan pada kita. Kalau nggak ada lagi yang melatih aku, ya latihan sendiri. Gerak, jangan mati gaya di studio kosong. Mungkin masa yang baru ini ingin mengajarkanku untuk mengekspansi diri jadi guru dan rumah untuk diriku sendiri. Mungkin. 

Dan jangan mengharapkan apapun.  Whatever will be, will be. Eduardo Galeano, cerita Herda pagi ini, menulis karena ia butuh untuk menulis, karena gatal, istilahnya. Tidak ada alasan lain. Kita niatkan saja seperti itu. Ya apapun pasti berakhir lah, Kei, yang abadi hanya perubahan. Yok udah yok sedihnya mari kita tepuk pramuka prok prok prok

Comments

Popular posts from this blog

It Has Been A Lot!

Wow, where should I start? So my comeback to dance class after a month break (sebulan aje dibahas...gimana lebih? Udah jadi buku keleus :D) had been a wild ride. Right away rehearsal for a performance and coordinating an event at the same time. Berto gave me this job from IDF, where I worked as P.I.C for Dance Writing Workshop. My girl IKAN said why am I taking the job if I am so busy? The answer is clear: I need to pay college. Ikan said she can just lend me money and I can focus on my thesis. God, bless this human that is my best friend. That's very kind and thoughtful of her. Anyway, I took the job so I was running 2 events at the same time. One in Cikini, Central Jakarta and one in SOM, South Tangerang. I became an adept Commuter Line user. I no longer mistaken peron 1 with peron 2 and silly things like that, like not knowing which gate I should enter after scanning my card to enter the peron. Duh. Duh 100x. I wasn't particularly on diet but I really didn't want to ea...

What is happiness? It sounds like a snack.

I would, like usually, open this post by saying "Things are crazy". Yes, I don't know are things really crazy or is it just me. I think it's the latter. Life appears as surprises to me. And I act like a door, opening this tunnel, closing another one. I don't feel dull, and I can't say my days have been dull for they are full with challenges. But I have been so alone. This also sounds weird. Since when that I'm not alone? I always pull myself back from any social event. I hang out alone. I guess the last time I had a good time outside the house/office/campus with another human being was the last Saturday in January, so it's a month ago. It is true that if I just ask, I will get people willing to go with me. But I am the pickiest picky pick ever because most of the times when I don't pick, I get bored with dull conversations, or a view of someone watching his/her phone like there's nothing else to see. So all this time I hang out alone. Mos...

sehat

Aku masih sakit, nih, blog.. padahal besok udah hari Kamis, harus bekerja di Pingu's. Semoga hari ini sembuh dong, yuk yaaaa...yuuk cepet sehat. Cepet mandi terus ke kampus. Lah kapan istirahatnya? Akakakaka... harus mengejar Armantono nih ik. Come on warrior!!!!!!! Ik merasa hampir gilaaaaaaaaaaaaa aaaaaaaaghhhhhhhhhhhhhhh lontooooooooooooong please, please, ik mau lulus semester ini. Please sehat wal afiat, dan sexy walafeksi... (gila)