Skip to main content

Tulisan hasil Lokakarya Selisik Aksara PSBK 2021

 Tubuh Kolektif Tanah Rendah dalam Terpaan Musim Ketiga di Jakarta

Sebuah ulasan untuk Pertunjukan Virtual Teater Ghanta

 “Musim Ketiga: Tempat Terbaik di Dunia”

Keisha Aozora

    

    Apa yang anda pikirkan tentang hidup di Jakarta? Tentang kerasnya persaingan kerja atau mahalnya biaya hidup? Kedua ide itu wajar mengemuka ketika membicarakan atau membayangkan hidup di Jakarta. Namun pernah terpikirkah anda, bahwa bukan hanya biaya makan untuk keberlangsungan hidup yang tinggi, namun ada biaya lain, yang bukan dalam nominal uang – yang harus anda bayar – untuk bertahan hidup dalam arti yang paling purba: mempertahankan nyawa; bila anda hidup di pinggiran sungai-sungai di Jakarta. 

      Dalam pertunjukan virtual berjudul Musim Ketiga: Tempat Terbaik di Dunia, Teater Ghanta menunjukkan bahwa perihal mempertahankan nyawa itu membutuhkan skill dan tidak otomatis dikuasai oleh semua orang. Ada kondisi-kondisi tertentu yang menjadikan seseorang ahli dalam hal ini. Pertunjukan yang menjadi salah satu nomor dalam program Jakarta Theater Platform DKJ bertajuk “Jeda” ini digelar pada kanal YouTube dan diunggah pada bulan November 2020. Waktu peluncuran video ini tepat pada bulan dimana mereka membuat istilah untuk cuaca pada bulan ini, yaitu “Musim Ketiga”.

     Di saat banyak pertunjukan virtual yang seolah memindahkan panggung konvensionalnya ke layar digital, Teater Ghanta berusaha membawa seluruh ketubuhannya untuk menyelinap pada media daring tanpa menjadi terlihat sebagai sebuah penyangkalan. Memproyeksikan ide-ide abstrak pada layar merupakan satu hal, namun menunjukkan sesuatu yang bersifat fisik, pengalaman tubuh dengan segala kesehariannya, gestur, dan intensi untuk meniadakan pemisah antara tontonan dan penonton – adalah hal lain. Hal ini, saya rasa, adalah tantangan yang tidak mudah. Layar membuat subjek yang hadir padanya terfragmentasi – ia berbingkai, sementara panggung menampilkan subjek dengan utuh dengan ketubuhannya yang dapat menjangkau penonton. Oleh karena itu, memindahkan pengalaman tubuh dan berusaha menjangkau saraf sensorik penonton melalui layar bukanlah usaha yang cenderung akan berhasil.

    Seni pertunjukan, dalam hemat saya, jika tidak “berhasil”, kemungkinan lainnya adalah membuat orang mengernyitkan dahi, bukan karena gagal memahami, tetapi karena tidak menawarkan apapun. Agar tulisan ini tidak membuat anda mengernyitkan dahi karena bingung, gambaran singkat tentang apa yang ditampilkan oleh video ini ada baiknya tidak kita lewatkan:

Ipeh, salah satu pemeran dalam pertunjukan ini, menyapa kita di awal video. Ipeh menyinggung soal lamanya pandemi, dan mengatakan bahwa ia sedang mengeksplorasi fitur-fitur perangkat lunak – yang mana eksplorasi Ipeh akan software inilah yang akan membawa kita bertualang hingga akhir pertunjukan. 

Ipeh mengungkapkan bahwa di Jakarta terdapat tiga musim: kemarau, penghujan, dan banjir. Ia kemudian teringat akan temannya yang sangat lekat dengan musim ketiga, Imam. Ipeh kemudian menelepon Imam dengan fitur video (video call). Melalui percakapan ini, Ipeh mengungkapkan kekhawatirannya terhadap Imam yang tinggal di Kampung Tanah Rendah, area yang secara niscaya terdampak musim ketiga tersebut, dari tahun ke tahun. Namun, alih-alih mendengarkan saran Ipeh, Imam terus meyakinkan sahabatnya bahwa tempat tinggalnya adalah tempat terbaik di dunia.

Pertunjukan yang gegap gempita dengan efek-efek visual, tebak-tebakan, dan “joget tutorial berenang” ini seperti membuka ruang diskusi antara para lakon dan penonton, tentang penanganan banjir, yang mereka sebut sebagai “musim ketiga”. Adegan tutorial berenang di kali menjadi satir yang cerdas dalam naskah yang digarap secara kolektif ini. Pertunjukan ini ringan dan menampilkan adegan-adegan populer tanpa jatuh dalam banalitas yang menjemukan. Pada akhir video, credit title menyebutkan “tim riset”. Peran tim riset sangat vital dalam pertunjukan ini dan kontribusi itu sangat terasa dalam video. Tiang-tiang untuk mengikat tali tambang lengkap dengan info ketinggian air, yang merupakan inisiatif warga kampung sendiri – adalah salah satu kontribusi riset yang secara tidak langsung memantik pertanyaan-pertanyaan di benak penonton. Untuk saya pribadi, pertunjukan virtual ini membuat saya mempertanyakan peran pemerintah dalam hal kemaslahatan warganya, pula memantik gagasan tentang relasi tubuh dengan ruang dan kaitanya dengan kelas sosial. 

Pertunjukan ini menyadarkan kita bahwa pengalaman tubuh itu menghasilkan kemampuan-kemampuan yang unik, yang tidak normatif. Hal ini membuat anda yang hidup tanpa ancaman menjadi tidak terlalu berbangga diri. Misalnya, sering berenang di kolam renang mungkin tidak membuat anda menjadi perenang hebat di kali; apalagi di Kampung Tanah Rendah Kebon Pala ketika banjir. 

Kemampuan yang dibangun oleh upaya menyelamatkan diri ini terlihat ketika para aktor memperagakan cara berenang di antara kasur, batang pohon yang besar dengan ranting-rantingnya, dan mesin cuci yang mengapung dengan kecepatan tinggi karena arus yang kuat. Intelegensi ketubuhan juga tampak pada inisiatif warga dalam mendirikan tiang-tiang untuk mengaitkan tali penyelamat. Perbedaan kelas sosial menghasilkan tubuh-tubuh yang berbeda. Hal ini membuat saya berpikir bahwa kita melihat benda-benda secara berbeda, dipengaruhi oleh keseharian dan latar belakang kita. Dengan kata lain, pola interaksi kita dengan berbagai hal tidak seragam – dan tepat inilah yang membuat seni pertunjukan masih menarik untuk disaksikan.

Tips dan trik yang berbasis lokalitas ini dalam hemat saya sangat menarik untuk diangkat dalam pertunjukan. Adegan-adegan tersebut telah melampaui penampilan teatrikal yang berusaha membawa penonton untuk masuk ke dalam semesta yang dibangun oleh sutradara di atas panggung. Semesta yang dihadirkan dalam video ini memang eksis, secara objektif ia ada dan dialami oleh banyak orang. Ketika anda mematikan video dan memutuskan untuk datang ke lokasi pertunjukan ini, anda benar-benar akan menemukan tiang-tiang tersebut dan kemampuan berenang di kali itu memang dipelajari atau setidaknya dianggap penting di sana. Ide Teater Ghanta untuk meleburkan naskah teater dengan fakta, atau semesta pertunjukan dengan banalitas keseharian – menurut saya perlu diapresiasi.

Para peramu pertunjukan ini cukup jeli dalam menyadari adanya kolektivitas intelegensi, atau lebih tepat dikatakan kolektivitas cara berada pada tubuh-tubuh warga Kampung Tanah Rendah –menarik untuk diangkat dalam sebuah pertunjukan. Mereka tidak lagi menganggap banjir sebagai sebuah bencana, namun sebuah keniscayaan, yang tidak menyenangkan, namun juga tidak perlu ditakutkan. Bayangkan jika banjir dengan kekuatan dan ketinggian seperti itu terjadi di sebuah perumahan elit; mereka tidak akan bisa mengatasinya tanpa bantuan dari luar perumahan. Mereka mungkin tidak memiliki tubuh kolektif yang mampu menghasilkan karya cipta seperti tutorial berenang di kali dan menciptakan jalur evakuasi. Langkah-langkah problem solving yang terjadi di Kampung Tanah Rendah bukanlah hasil dari pemikiran satu orang, namun hasil kesadaran berketubuhan secara kolektif. 

Wacana tentang tubuh kolektif ini bukan sekadar omong kosong yang hanya dipahami oleh pelaku seni pertunjukan. Penelitian empiris terkini dalam bidang psikologi dan sains kognitif menantang anggapan bahwa intelegensi dapat direduksi pada sifat individual. Penelitian ini telah menunjukkan bahwa tugas-tugas kompleks seperti navigasi kapal, misalnya, bergantung pada koordinasi dari beberapa individu. Asumsi bahwa intelegensi merupakan jaringan pemahaman yang bersifat sistemik – seperti komputer misalnya – sudah usang. 

Sehari-hari ketika sedang tidak banjir, warga kampung menyapa dan mengobrol dengan satu sama lain di gang-gang sempit di kampung. Mereka saling mengenal dan tidak ada kecanggungan, nyaris tidak ada batas antara satu sama lain. Implikasinya, ketika mengatasi suatu bencana mereka semua bergotong-royong dan gotong royong inilah yang membuat terjangan banjir tidak terasa berat, atau setidaknya tidak seberat jika hal itu terjadi pada para penduduk perumahan elit.

Adegan demi adegan membentuk sebuah jalinan yang sekilas tampak tidak konsisten. Misalnya pada awal video kita disuguhi narasi yang sangat verbal tentang musim ketiga, lalu kita menyaksikan tutorial berenang di kali yang sangat erat terkait dengan topik, namun berikutnya kita diajak untuk bermain tebak-tebakan profesi disusul dengan lomba ketahanan tubuh anggota teater Ghanta. Jika dilihat pada level permukaan, adegan tiga dan empat tidak ada kaitannya sama sekali dengan topik utama. Namun mungkin itu cara sang sutradara menjahit antara banalitas dan makna-makna simbolis. Dugaan ini erat kaitanya dengan semesta perkampungan Tanah Rendah. Sebuah perkampungan di bibir sungai di Jakarta memang menawarkan cerita yang sama sekali berbeda dengan Sudirman Central Business District, bagian Jakarta yang lebih dikenal khalayak daripada kehidupan di gorong-gorong dan perkampungan pinggir sungainya. Hal ini tentu membuat kita buta referensi akan mata pencaharian penduduk yang hidup di perkampungan semacam Kampung Tanah Rendah Jakarta Timur, atau Kalipasir di Jakarta Pusat. 

Keunikan ekosistem di bagian Jakarta yang tidak mengkilap ini berusaha dieksplorasi oleh Teater Ghanta, salah satunya melalui adegan menebak pekerjaan seseorang yang sedang duduk santai menikmati pemandangan sungai. Tebak-tebakan ini dalam hemat saya menjadi alternatif yang cerdas dari metode wawancara, yang terlalu mudah dan kurang nakal. Lelaki yang sedang ditebak profesinya, Bang Nemy, dengan lantang mencetuskan bahwa semua orang berhak untuk memiliki tempat tinggal. Warga yang hidup di pinggiran sungai seolah menyuarakan bersama Bang Nemy, keras-keras, dan suara itu terdengar baik dalam ramah tegur sapa dan obrolan para perempuannya di gang-gang, maupun dalam tangis dan teriakan ketika air meluap dan menenggelamkan rumah. Kita semua membutuhkan tempat bernaung dan kebutuhan ini dijamin haknya oleh konstitusi.

Pada akhirnya, pertunjukan Musim Ketiga: Tempat Terbaik di Dunia berhasil membuka ruang dialog dan memantik gagasan akan hal-hal di luar isi pertunjukan. Kini kita yang menonton video ini tidak lagi melihat sungai dengan sama. Kita juga tidak bisa lagi buta akan keberadaan pemukiman-pemukiman semacam Kampung Tanah Rendah di Jakarta, atau di kota lain. Mereka terdesak untuk hidup di zona berbahaya. Risiko itu mereka ambil, maka hidup di pinggiran sungai dan di bawah jembatan menjadi hidup yang mensyaratkan survival skill. Namun hidup bukan hanya ketegangan dalam usaha bertahan. Mereka juga membangun relasi sosial, bersenang-senang dan berkasih sayang. Saya yakin kehangatan dan kepedulian antar warga di Kampung Tanah Rendah tidak bisa kita rasakan di perumahan mewah atau kompleks perkantoran gedung-gedung pencakar langit. Dalam kesusahan ada “keberuntungan” terlihat jelas pada kehidupan Imam dalam video pertunjukan ini. 

Teknik sinematografi yang dicapai oleh pertunjukan ini dalam hemat saya lebih dari estetika merekam atau membingkai realita. Teater Ghanta dalam pertunjukan ini menggabungkan dramaturgi teatrikal dengan teknik narasi dalam film dokumenter. Adalah sesuatu yang pantang dalam dokumenter untuk sekadar mengandalkan wawancara dalam mengungkap realita. Dibutuhkan jam terbang dan kreativitas agar cerita dapat terungkap dengan sendirinya selama para filmmaker mengikuti subjek. Dalam video ini, baik Ipeh maupun Imam saling membantu mendorong bergulirnya cerita yang mengungkap perjuangan dan kekayaan hidup warga Kampung Tanah Rendah tanpa terlihat menyutradarai. Naskah yang dipentaskan daring pada November 2020 ini masih aktual dan relevan hingga kini. Anda bisa mencari cuplikan dengan mengetik kata kunci “banjir tanah rendah” dan hingga Desember 2021 anda akan mendapatkan video terbaru tentang peristiwa itu – peristiwa Musim Ketiga: Tempat Terbaik di Dunia. Dalam pertunjukan ini, Teater Ghanta berkolaborasi dengan Teater Kubur, dan Karang Taruna setempat. Tipisnya tirai antara ruang fiksi dan non fiksi dalam pertunjukan ini telah menaikkan standar seni pertunjukan secara daring di tengah himpitan keadaan.

 


Comments

Popular posts from this blog

It Has Been A Lot!

Wow, where should I start? So my comeback to dance class after a month break (sebulan aje dibahas...gimana lebih? Udah jadi buku keleus :D) had been a wild ride. Right away rehearsal for a performance and coordinating an event at the same time. Berto gave me this job from IDF, where I worked as P.I.C for Dance Writing Workshop. My girl IKAN said why am I taking the job if I am so busy? The answer is clear: I need to pay college. Ikan said she can just lend me money and I can focus on my thesis. God, bless this human that is my best friend. That's very kind and thoughtful of her. Anyway, I took the job so I was running 2 events at the same time. One in Cikini, Central Jakarta and one in SOM, South Tangerang. I became an adept Commuter Line user. I no longer mistaken peron 1 with peron 2 and silly things like that, like not knowing which gate I should enter after scanning my card to enter the peron. Duh. Duh 100x. I wasn't particularly on diet but I really didn't want to ea...

What is happiness? It sounds like a snack.

I would, like usually, open this post by saying "Things are crazy". Yes, I don't know are things really crazy or is it just me. I think it's the latter. Life appears as surprises to me. And I act like a door, opening this tunnel, closing another one. I don't feel dull, and I can't say my days have been dull for they are full with challenges. But I have been so alone. This also sounds weird. Since when that I'm not alone? I always pull myself back from any social event. I hang out alone. I guess the last time I had a good time outside the house/office/campus with another human being was the last Saturday in January, so it's a month ago. It is true that if I just ask, I will get people willing to go with me. But I am the pickiest picky pick ever because most of the times when I don't pick, I get bored with dull conversations, or a view of someone watching his/her phone like there's nothing else to see. So all this time I hang out alone. Mos...

sehat

Aku masih sakit, nih, blog.. padahal besok udah hari Kamis, harus bekerja di Pingu's. Semoga hari ini sembuh dong, yuk yaaaa...yuuk cepet sehat. Cepet mandi terus ke kampus. Lah kapan istirahatnya? Akakakaka... harus mengejar Armantono nih ik. Come on warrior!!!!!!! Ik merasa hampir gilaaaaaaaaaaaaa aaaaaaaaghhhhhhhhhhhhhhh lontooooooooooooong please, please, ik mau lulus semester ini. Please sehat wal afiat, dan sexy walafeksi... (gila)