Skip to main content

objek obskur bernama "bahagia"

 Mungkin masing-masing dari kita menderita kegilaan, dalam dosis yang berbeda-beda. Kegilaan tersebut mungkin adalah pemikiran bahwa ada perkara tertentu yang bisa mengisi kekosongan jiwa. Pernahkah kau temukan gambaran ini pada seseorang? Seolah kebahagiaan baru bisa dicapai ketika perkara tersebut dimenangkan. Ketika sudah mendapatkan jabatan tertentu, ketika menang judi, mendapatkan bentuk tubuh yang diinginkan, dan sebagainya. Bukankah itu suatu kegilaan, menjangkarkan kebahagiaan pada satu hal tertentu? 

Sebelum terlalu yakin bahwa perkara tertentu dapat membuatmu bahagia, mari bersama-sama kita ingat perasaan seperti apa yang kau sebut dengan bahagia itu. Apakah itu semacam rasa puas? Haru? Atau perasaan tenang seperti hidupmu sudah terjamin? Berapa lama jaminannya? Sampai keadaan menjadi berbeda? Betapa singkatnya perasaan-perasaan kesukaanmu itu menghampiri. Jika kau sebut itu bahagia, maka betapa tidak stabilnya bahagia -- dan betapa bodohnya mengejar suatu kesementaraan, untuk mendapatkan perasaan yang juga sementara. 

Perasaan yang paling dibutuhkan manusia, mungkin, adalah rasa tenang. Itulah kenapa jika ada orang meninggal, mereka mengucapkan "Rest in peace". Ketenangan selalu menjadi prasyarat dari setiap keberhasilan, dan pada momen-momen darurat. Pilot yang berhasil mendaratkan pesawat dalam keadaan darurat,pasti akan menyebutkan kata itu ketika diwawancara. Ketenangan adalah prasyarat untuk setiap keberhasilan, kebahagiaan -- tidak. Kamu tidak harus bahagia untuk kemudian bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan. Aku pernah menulis tugas kuliah dalam keadaan sakit dan sambil marah-marah. Siapa sangka tulisan itu malah diminta dosenku untuk mengisi suatu jurnal. Kita terlalu mengagung-agungkan kebahagiaan. 

Dunia memang bukan tempat untuk bahagia, pernah kudengar itu di suatu pertemuan. Dunia ini tempat bertahan, to endure. Kebahagiaan mungkin adalah bonus atau momen-momen tidak disengaja ditengah enduring itu. 

Renungan pribadi ini tentu bukan mau mengajak menyerah saja pada kehidupan atau tidak mengusahakan apapun; tapi, kalau mau meraih sesuatu, ya demi hal itu saja, bukan demi kebahagiaan. Mau nikah biar bahagia, mau punya anak biar bahagia, itu dia jebakan kekeruhan pikiran.

Ketika aku mulai menari dengan "serius" di kelas yang sangat menguras energi, kutemukan bahwa perasaan bahagia itu tidak terjadi dalam pikiran. Pikiranku berada bersama setiap gerakan, ketukan dalam lagu, dan sebagainya, sebagainya. Sungguh tidak ada satu pusat yang bisa kuidentifikasi sebagai pencipta perasaan itu, tapi saat menari aku merasa bahagia. Dan itulah kenapa aku terus datang ke kelas. Kemudian hal-hal yang tidak menyenangkan di dalam tari berasal dari luar aktivitas menari itu sendiri. Dan hal-hal tersebut tentu saja saling mempengaruhi, tidak bisa kau pisahkan walau se-Husserlian apapun dirimu hahaha. Maka kadang aku pulang dari studio dengan perasan puas, perasaan damai, dan tidak jarang dengan sesak menahan banyak emosi. Kembali pada poin dimana perasaan bahagia itu tidak berasal dari manapun namun ada -- ketika aku menari, aku mulai berpikir mungkin begitulah kebahagiaan dalam hidup. Tidak berpusat, hanya sebuah sensasi intens yang hadir sebagai efek dari berbagai hal -- dan, dan TIDAK BISA DIJADIKAN TUJUAN. 

Comments

Popular posts from this blog

It Has Been A Lot!

Wow, where should I start? So my comeback to dance class after a month break (sebulan aje dibahas...gimana lebih? Udah jadi buku keleus :D) had been a wild ride. Right away rehearsal for a performance and coordinating an event at the same time. Berto gave me this job from IDF, where I worked as P.I.C for Dance Writing Workshop. My girl IKAN said why am I taking the job if I am so busy? The answer is clear: I need to pay college. Ikan said she can just lend me money and I can focus on my thesis. God, bless this human that is my best friend. That's very kind and thoughtful of her. Anyway, I took the job so I was running 2 events at the same time. One in Cikini, Central Jakarta and one in SOM, South Tangerang. I became an adept Commuter Line user. I no longer mistaken peron 1 with peron 2 and silly things like that, like not knowing which gate I should enter after scanning my card to enter the peron. Duh. Duh 100x. I wasn't particularly on diet but I really didn't want to ea...

What is happiness? It sounds like a snack.

I would, like usually, open this post by saying "Things are crazy". Yes, I don't know are things really crazy or is it just me. I think it's the latter. Life appears as surprises to me. And I act like a door, opening this tunnel, closing another one. I don't feel dull, and I can't say my days have been dull for they are full with challenges. But I have been so alone. This also sounds weird. Since when that I'm not alone? I always pull myself back from any social event. I hang out alone. I guess the last time I had a good time outside the house/office/campus with another human being was the last Saturday in January, so it's a month ago. It is true that if I just ask, I will get people willing to go with me. But I am the pickiest picky pick ever because most of the times when I don't pick, I get bored with dull conversations, or a view of someone watching his/her phone like there's nothing else to see. So all this time I hang out alone. Mos...

yang hilang dan jadi debu

ada sesuatu yang diam-diam kupercaya walau ia hilang ditelan bisingnya Jakarta: Islam ada cara hidup yang sederhana, menawarkan kesadaran untuk mampu mengendalikan kecepatan, dengan disiplin lima kali dalam sehari, dan tidak lebih lama dari basa-basi ada cara bertutur yang tegas dan disetujui tubuh, istighfar membuatku sadar, bahwa yang sakit bisa pulih tasbih menunduk-daguku, bahwa seniman itu sebuah entitas hamdalah hangatkan bahuku, ada yang Maha kendali di atas kendaliku