"There's nothing to complain on March 2021," begitu tulisku di caption foto Instagram. Padahal Maret 2021 itu menegangkan, menyeramkan, dan stress tinggi. Tapi ya memang tidak mengeluh. Mana ada orang lagi ngadepin terror ngeluh, yang ada konsentrasi dan waspada supaya lolos dari si teroris dan selamat.
On another note, I can write that life pretty much changed. I could, I can, shamelessly say "My life stopped at the end of 2019." After that it was empty. It was aloneness, unrelatedness. I have a playlist on my Spotify titled "2020 evolved". Apparently those songs were compiled between January to March 2020. And then lockdown. I lost jobs on April, which means I would't update my Spotify or even listen to these songs.
Awal-awal pandemi terasa sangat berat. Aku terkurung dengan orang-orang yang mengumbar emosi. Alhamdulillah, nggak lama dari awal lockdown langsung ketemu Ramadhan. Di sini emosi orang rumah justru semakin menjadi-jadi. Biasa, kalau puasa setan nya keluar semua. Selama Ramadhan ini aku ngajar Feel Good Motion dan kelas olahraga, Fit Beat. Feel Good Motion nggak bertahan lama. Juni atau Juli aku minta berhenti karena abis uang pulsa, nggak sebanding dengan pemasukan dari kelas itu. Lalu aku bikin sendiri, memberanikan diri, online juga. Dan surprise! Yang ikut: Savi, kak Becky (duluu banget pernah beberapa kali datang kelasku di FGS), dan orang di Bontang, Kalimantan. Jeez!
Why this blog post doesn't turn as how I wanted to tell, duh.
Well, in 2020, I did evolve, just like that Spotify Playlist. I did live. Mostly inside my room. Aku mengkarantina diriku sendiri tanpa kena covid. Karena aku menghindari energi permusuhan di luar kamarku. I lost a lot of weight because my appetite dropped, I didn't eat rice, and I taught a dance-cardio class. I stopped taking online dance class from SOM on mid-April because the mentor sucks big time. April 28 aku sidang tesis, lulus cukup memuaskan. May 28 sidang kompre. I experienced great stress in 2020, non-academic related. High tension in the house. Di masa-masa ini aku sangat bersyukur ada Herda yang jadi teman ngobrol. Pertama kali keluar rumah yang keluar sendirian dan jauh itu Juli, ke SCTV di Senayan. Dapat kerjaan bikin koreo yeeeyyy. Alhamdulillah. This was so unexpected. Sungguh keuanganku itu 0 Rupiah saat itu. Untuk jalan ke Senayan, sewa studio untuk latihan aja minjem duitnya. Akhirnya terbayar. Itu dari Allah SWT. Sungguh terasa itu seperti nikmat yang diberi setelah melewati ujian.



Comments