Skip to main content

Sampai Tidak Ingin Nari Lagi

 Aku ingat kali pertama menarikan sebuah karya,

usiaku 21 tahun kalau tidak salah. 

Dengan kemeja putih yang basah keringat dan nafas yang terengah-engah, aku berdiri melingkar dengan teman-teman Frienemies. Di dalam ruangan berlampu kuning yang seharusnya romantis, dengan pemandangan Selatan Jakarta yang selalu diromantisir anak-anak muda lokal,

sambil mengatur nafas, kudengar koreograferku berkata "Nari itu kayak gini. Sampe kamu rasanya nggak pengen nari lagi, itu baru nari."

Dengan kepongahanku, saat ini aku yakin dia sudah lupa dia pernah mengucapkan hal itu. Tapi perkataan itu menancap di benakku sampai sekarang, dan muncul pada saat-saat tertentu.

Kalau kamu suka menari, wajar jika tidak bisa setuju dengan perkataan tersebut. Aku pun jarang merasa seperti itu. Waktu ngajar misalnya, kebanyakan muridku bukan orang yang ingin menjadi penari. Mereka hanya menari sebagai pengganti olahraga, atau untuk melepas penat. Aku tidak pernah mendorong mereka untuk melakukan kombinasi gerak buatanku sampai sempurna. Ketika aku menari di kelas, biasanya juga aku sendiri yang ambisius untuk mengulang-ulang materi yang kupelajari. Kalau sudah capek ya berhenti. Recital, terutama recital 2019 hanya kuanggap nari-nari lucu untuk menyenangkan orang tua murid yang membeli tiket.

Tetapi kemarin, ya, pekan lalu puncaknya, aku merasakannya lagi. Kali ini lebih mature, kami melakukannya tanpa kehadiran koreografer. Tanpa pelatih yang meneriaki jika kami salah atau turun energinya, aku dan temanku minta disewakan studio setiap hari Sabtu. Kami menarikan karya yang menurut kami "berat" -- bukan pada konsepnya -- tapi seperti rangkaian gerak Kak Davit pada umumnya, tarian itu semakin menuju akhir semakin naik intensitasnya, jadi seperti mendaki gunung, ketika mulai curam, kamu dikejar harimau. Harus lari. Kalau nggak, akan off beat dan makin kacau. Kami mengenakan kain, seolah menarikannya tanpa properti masih belum cukup susah. Kainku lebih panjang dari kain temanku dan beberapa kali hampir tersandung. Jadi analoginya, dikejar harimau di undakan curam sambil pakai sewek. Mantap! Hahahaha.

Kami mengulang-ulang tarian, mendiskusikan iramanya, saling mengoreksi. Berdua saja. Di studio. Entah kenapa sekarang, ingatan itu rasanya indah, apalagi dikaitkan dengan bertahun-tahun yang lalu aku selalu berlatih dibawah teriakan koreografer. Dan kini aku menarikan karya orang. Tanpa dipelototi, aku dan temanku mengerjakannya dengan serius. Rasanya ada perjalanan menuju kedewasaan sebagai penari. 

Kedewasaan sebagai penari tidak ada hubungannya dengan usia. Ketika kamu baru mulai menari kamu harus meniru dulu, dan kamu harus melewati masa-masa menari di bawah awasan pelatih.

Aku bangga dan bersyukur dapat rekan yang sama seriusnya denganku. Kami sama-sama punya pekerjaan lain. Aku guru Bahasa Inggris yang harus perform dari jam ke jam mempresentasikan materi pada murid-muridku, dan Savi HRD sebuah perusahaan yang juga dikejar banyak deadline. Hari Sabtu itu aku ngajar dari pagi sampai siang dan lanjut latihan. Pada minggu terakhir, kami diminta Kak Davit latihan hari Selasa, Rabu, kemudian Kamis GR. Minggu perform. Selasa dan Rabu Savi sudah berada di beranda studio dengan laptopnya dari siang meskipun kami latihan jam 17.00. Aku sendiri ngajar 15.00-16.40 pada dua hari itu. Supaya tidak terlambat, dari siang aku nongkrong/ngajar di Idekoepi, cafe di bawah studio Upstairs. Kami latihannya di studio SOM yang baru, bukan di Upstairs, tapi di suatu bangunan baru di sektor 9, lima belas menit dari Idekoepi.

Ketika sampai di studio, biasanya Savi akan minta sebat-time dulu alias ngerokok dulu. Kita nyiapin mental :D :D Beranda studio itu bagus sekali. Berada di lantai 3 , ada space yang terbuka bisa lihat langit dan furniturnya bernuansa kayu, favoritku. Jadi kita mulai latihan pukul lima lewat sebatang rokok. Dalam dua hari yang intens ini, sekuat-kuatnya kami hanya mampu 2x running full. Itu pun kalau ngikutin capek, 1 x run udah cukup bikin berteriak minta udahan. Bayangkan, sudah berapa lama kami nggak nari seperti ini? dua tahun. Two fucking years.

Dulu kami merasa perform demi perform tidak ada habisnya, dan mengharapkan ada jeda yang cukup panjang untuk istirahat, kemudian pandemi. Everything stopped. Kini berbekal memori tubuh dan stamina yang dipompa dadakan, aku sangat excited untuk perform live lagi. After two years.


Balik ke cerita latihan, Selasa dan Rabu itu kami hanya kuat dua kali running. Ada momen yang aku bilang ke Savi, "Sav tadi gue ngerasa capek maksimal," dan ternyata Savi menimpali, "Iya, nafasnya kayak udah berhenti di dada." 

Itulah momen-momen rasanya "sampai kamu nggak ingin nari lagi". Dan setelah dua tahun, apa yang kamu harapkan? Aku rindu dengan perasaan itu. Aku merayakannya!

credit photo: @difotodito

H-1 aku dan Savi sama-sama diliputi kecemasan. Savi berusaha menenangkan dirinya, dengan bilang ini toh hanya perform, bukan kompetisi, juga di kandang sendiri. Acara rumah. Aku juga berusaha menenangkan diriku dengan logika yang sama. Tapi kami berdua gagal. Herda sampai bilang "Ingat ya, ini hanya perform mu kesekian kali setelah sekian banyak perform. Kalian akan menari dengan baik. "

Itulah, saking kami berdua high expectation terhadap diri sendiri. 


Comments

Popular posts from this blog

It Has Been A Lot!

Wow, where should I start? So my comeback to dance class after a month break (sebulan aje dibahas...gimana lebih? Udah jadi buku keleus :D) had been a wild ride. Right away rehearsal for a performance and coordinating an event at the same time. Berto gave me this job from IDF, where I worked as P.I.C for Dance Writing Workshop. My girl IKAN said why am I taking the job if I am so busy? The answer is clear: I need to pay college. Ikan said she can just lend me money and I can focus on my thesis. God, bless this human that is my best friend. That's very kind and thoughtful of her. Anyway, I took the job so I was running 2 events at the same time. One in Cikini, Central Jakarta and one in SOM, South Tangerang. I became an adept Commuter Line user. I no longer mistaken peron 1 with peron 2 and silly things like that, like not knowing which gate I should enter after scanning my card to enter the peron. Duh. Duh 100x. I wasn't particularly on diet but I really didn't want to ea...

What is happiness? It sounds like a snack.

I would, like usually, open this post by saying "Things are crazy". Yes, I don't know are things really crazy or is it just me. I think it's the latter. Life appears as surprises to me. And I act like a door, opening this tunnel, closing another one. I don't feel dull, and I can't say my days have been dull for they are full with challenges. But I have been so alone. This also sounds weird. Since when that I'm not alone? I always pull myself back from any social event. I hang out alone. I guess the last time I had a good time outside the house/office/campus with another human being was the last Saturday in January, so it's a month ago. It is true that if I just ask, I will get people willing to go with me. But I am the pickiest picky pick ever because most of the times when I don't pick, I get bored with dull conversations, or a view of someone watching his/her phone like there's nothing else to see. So all this time I hang out alone. Mos...

sehat

Aku masih sakit, nih, blog.. padahal besok udah hari Kamis, harus bekerja di Pingu's. Semoga hari ini sembuh dong, yuk yaaaa...yuuk cepet sehat. Cepet mandi terus ke kampus. Lah kapan istirahatnya? Akakakaka... harus mengejar Armantono nih ik. Come on warrior!!!!!!! Ik merasa hampir gilaaaaaaaaaaaaa aaaaaaaaghhhhhhhhhhhhhhh lontooooooooooooong please, please, ik mau lulus semester ini. Please sehat wal afiat, dan sexy walafeksi... (gila)