Skip to main content

lingkaran kecil

 Hai blog,

Ada percakapan menarik dengan Herda, dua malam yang lalu. Aku langsung ingin menuliskannya di sini, tapi aku sangat sibuk dan kecapean (sok banget ya...hmm masa ngga ada waktu luang sama sekali?)

Seperti yang kamu tau, aku orang yang nostalgis (kalau ada profesi di dunia mistis, aku di dunia nostalgis :D :D). Nah, tidak dipungkiri, di masa sulit ini, pikiranku masih sering mengunjungi 2019, yang kusebut sebagai tahun terbaik dalam hidupku. Padahal kenyataannya, di masa itu aku berjuang mati-matian, tidak ada bagus-bagusnya kelihatannya. Tidur sangat kurang, begadang ekstrim, dan sebagainya. Tapi pada tahun 2019 sampai 2020 awal sebelum pandemi masuk Indonesia, aku merasa sebagai versi terbaik. Perjuangan itu memang indah. Oh ya, bukan berjuangnya saja, tapi hal-hal kecil seperti kegiatan sehari-hariku saat itu.

Bagaimana nggak indah, setiap hari aku bertemu murid-muridku. Mau berangkat Snowy itu emang malesnya naudzubillahiminzalik, tapi begitu nyampe sana, ketemu muridku yang lucu-lucu, langsung hilang rasa malasnya. Murid yang rajin, yang nakal, ngeselin, semuanya membuat hariku sedikit lebih menyenangkan (daripada tidak bertemu mereka). Terus pulang Snowy pastinya, oke kita ulang lagi, PASTINYA, ke Sehidup Sekopi. Banyak yang bisa dilakukan: baca bahan tesis, membuat rangkuman, cari-cari referensi, tapi yang paling utama adalah ngelamun. Bahasa kerennya: memproses perasaan. wkwkwkwkw (wkwk ini bikin gagal keren). Kalau ngajar/sharing dance jangan disebut, atau jangan dibahas, itu kenangan terindah ntar aku galau, diskip aja. Intinya faedah banget lah tahun itu. Isinya proses yang dilakukan secara progressif, ekstrim. Sampai puncaknya adalah kelulusanku di bulan April 2020.

Oke, begitulah intronya. Plot twistnya, jika aku bisa menjalani kehidupan itu lagi, mungkin aku tidak akan menikmatinya sepenuh aku menikmati 2019 di 2019. Bingung gak? Bodo. Kata Herda memang bahasa Indonesiaku aneh. Kenapa aku nggak akan menikmati hidup yang kuidealkan tersebut? Mungkin cerita berikut ini bisa membuka jalan.



Di tahun 2016 atau 2017, usai kuliah aku dan beberapa kakak kelas plus dosen pembimbing tesisku nongkrong di ruang rokok-rokok di bawah tangga kelas. Entah apa yang kami bicarakan saat itu. Yang jelas aku nyeletuk curcol kalau sejak masuk STF, hidupku berubah. Ini maksudnya mau bercanda tapi emang beneran. Berubahnya tu bukan yg jadi bijak ala resi-resi India, tapi jadi nggak pernah tidur, kalau mau presentasi atau ngumpulin tugas paper, udah begadang dari beberapa hari sebelum hari H, sementara pas kuliah S-1 dulu ya nggak gitu-gitu amat. Sekarang malam hari dihabiskan untuk mati-matian memahami teks. Lalu, kata bapak itu, "Bagus berarti. STF berhasil mendobrak hidupmu". 

Itu benar. Pola hidup yang santai dan zen bagaikan Dewa Dewi di kayangan sebelum masuk STF dirusak dan aku mengalami lompatan, menjadi aku yang berkemeja flanel biru, menerobos bintaro-cempaka putih, lari-larian di halte transjakarta mengejar bus pulang paling malam, lalu di rumah masih harus mengerjakan paper dan mengumpulkan tugas tepat waktu. Dan semua yang kunikmati di tahun-tahun sebelumnya, tidak bisa kunikmati lagi. Sebagai contoh, aku selalu ngebet pengen punya The Sims lagi di laptop. Permainan itu adalah hiburan atau pelarian instan dari kesepianku ketika ngekos di bilangan Cikini. Game itu tidak pernah gagal untuk sejenak mengalihkan pikiran. Tapi ketika sekarang aku sudah punya lagi game itu, nyatanya nggak kumainkan. Jarang sekali, dan ketika memainkannya pun rasanya nggak senikmat dulu ketika aku sampai dijemput Nique karena waktunya UTS aku malah main the sims di kos.

Bukan game nya yang berubah, tapi pemainnya. Apakah waktu mengubah orang? Not so much. Proses transformasi yang mengubah. Jadi kalau kamu menjalani waktu dengan pola yang selalu sama, ya nggak ada atau nggak banyak perubahannya. I went to crazy things. I was cracked alive. Aku seperti jalan beraspal yang diretakkan, digali, lalu ditemukan ada sungai di bawahnya. Sungai itu ditelusuri sampai menemukan air terjun. Jalan beraspal tadi sudah tidak ada.

Akibat dari pola hidup yang berubah, mungkin adalah medan energi yang juga berubah. Pakai kata 'mungkin' ya karena aku nggak punya ilmunya, walau merasakannya. Misal apa yang pada masa itu membuatku galau tidak membuat galau lagi di saat ini, atau kalaupun masih, levelnya sudah jauh menipis. Begitu juga dengan apa yang kuanggap penting, apa yang dulu kuminati dengan sepenuh hasrat, bisa saja sudah tidak menduduki panggung utama di ruang imajinasi.

Aku mengalaminya dan sadar saat mengalami shift itu. Sakit dan keras, makanya terasa. Salah satu dari pengalaman itu datang dari orang yang kuhormati. Aku selalu menghormatinya, mementingkannya di atas banyak hal, tapi dia sering nyakitin, kata-kata dan sikapnya sering meremehkan, dan aku selalu mentoleransi semua itu selama bertahun-tahun. Aku nggak pernah menunjukkan sikap tidak suka dengan apa yang dilakukannya. Tapi 2020 kemarin, langsung ta'tinggal. Kehilangan orang dalam hidup ya nggak papa, toh orang ini sudah berkali-kali berusaha membuatku hilang dari hidupnya. Ok sebelum melenceng terlalu jauh dari bahasan utama, kita belok lagi ke jalur utama. Begini, lulus S-2 STF itu berdarah-darah, nggak mudah prosesnya, dan otomatis mentransformasi diriku jadi versi baru. Keisha 7.0 dimana fitur toleransi terhadap toxic behavior udah ga ada, iOS nya udah update dan fitur itu dihapus karena merugikan device.

Comments

Popular posts from this blog

It Has Been A Lot!

Wow, where should I start? So my comeback to dance class after a month break (sebulan aje dibahas...gimana lebih? Udah jadi buku keleus :D) had been a wild ride. Right away rehearsal for a performance and coordinating an event at the same time. Berto gave me this job from IDF, where I worked as P.I.C for Dance Writing Workshop. My girl IKAN said why am I taking the job if I am so busy? The answer is clear: I need to pay college. Ikan said she can just lend me money and I can focus on my thesis. God, bless this human that is my best friend. That's very kind and thoughtful of her. Anyway, I took the job so I was running 2 events at the same time. One in Cikini, Central Jakarta and one in SOM, South Tangerang. I became an adept Commuter Line user. I no longer mistaken peron 1 with peron 2 and silly things like that, like not knowing which gate I should enter after scanning my card to enter the peron. Duh. Duh 100x. I wasn't particularly on diet but I really didn't want to ea...

What is happiness? It sounds like a snack.

I would, like usually, open this post by saying "Things are crazy". Yes, I don't know are things really crazy or is it just me. I think it's the latter. Life appears as surprises to me. And I act like a door, opening this tunnel, closing another one. I don't feel dull, and I can't say my days have been dull for they are full with challenges. But I have been so alone. This also sounds weird. Since when that I'm not alone? I always pull myself back from any social event. I hang out alone. I guess the last time I had a good time outside the house/office/campus with another human being was the last Saturday in January, so it's a month ago. It is true that if I just ask, I will get people willing to go with me. But I am the pickiest picky pick ever because most of the times when I don't pick, I get bored with dull conversations, or a view of someone watching his/her phone like there's nothing else to see. So all this time I hang out alone. Mos...

sehat

Aku masih sakit, nih, blog.. padahal besok udah hari Kamis, harus bekerja di Pingu's. Semoga hari ini sembuh dong, yuk yaaaa...yuuk cepet sehat. Cepet mandi terus ke kampus. Lah kapan istirahatnya? Akakakaka... harus mengejar Armantono nih ik. Come on warrior!!!!!!! Ik merasa hampir gilaaaaaaaaaaaaa aaaaaaaaghhhhhhhhhhhhhhh lontooooooooooooong please, please, ik mau lulus semester ini. Please sehat wal afiat, dan sexy walafeksi... (gila)