Kalau jatuh sakit, jangan di hari Selasa!
Sulitnya memulai tulisan ini persis
mengingatkan saya pada Romo Bernardinus Herry - Priyono, sosok yang kita rindukan.
Oleh karena kesulitan itu, yang seharusnya tidak boleh menjadi pemakluman,
tulisan ini merupakan rangkaian dari ingatan acak atas pertemuan-pertemuan
dengan Romo Bernardinus Herry - Priyono.
Sore yang terik di bulan Agustus
2014, saya datang ke gedung Pascasarjana STF Driyarkara untuk mengikuti tes
masuk calon mahasiswa baru. Saya tahu bahwa dunia yang akan saya masuki ini,
jika lolos tes, adalah dunia yang sama sekali berbeda dengan kehidupan akademis
saya sebelumnya di bilangan Cikini. Dari percakapan dengan dosen yang
merekomendasikan dan dari cerita-cerita yang saya dengar tentang sekolah ini, tentu saya sudah mengantisipasi bahwa nanti
saya akan berpakaian lebih rapih dan mungkin juga berbicara dengan pilihan
kata-kata yang berbeda. Maka sore itu saya dengan semangat berjalan memasuki
ruang ujian. Seperti dugaan saya, semua berpakaian formal, dan hampir tidak ada
yang sepantaran secara usia. Mereka
terlihat seperti kolega orang tua saya. Setelah semua peserta duduk tenang, datanglah pengawas ujian, yaitu seseorang dengan kemeja yang tidak
terlalu rapih, dengan dua kancing atas dibuka. Ternyata orang itu adalah Ketua
Program Studi di sekolah ini. Itulah pertemuan pertama saya dengan Romo Herry.
Sulitnya memulai tulisan ini persis
mengingatkan saya pada beliau. Pada hari pertama kelas Matrikulasi, saya
terlambat beberapa menit. Kelas itu adalah kelas Romo Herry. Hal pertama yang diucapkannya
begitu saya masuk kelas adalah “Jangan terlambat. Anda akan kehilangan banyak
hal berharga jika datang telambat.” Walau malu karena menjadi sorotan dan
dibicarakan, saya rasa pesan itu tepat sekali, mengingat bahwa saya menyisihkan
uang gaji saya selama beberapa waktu untuk mendaftar di sekolah ini. Meskipun
penampilan dosen ini sangat mirip dengan dosen penulisan skenario saya di S-1
dulu, saya harus ingat bahwa ini STF, dan mereka sangat terganggu dengan
ketidakdisiplinan. Sampai beberapa lama setelah mengatakan hal itu, beliau
masih terus berbicara soal kedisiplinan. Dan pada akhirnya, inilah kalimat yang
menancap langsung ke ubun-ubun di hari pertama saya sebagai mahasiswa
matrikulasi STFD: “Kemudian, karena kelas ini hanya sekali dalam satu minggu,
maka jangan pernah tidak hadir. Jika jatuh sakit, jangan di hari Selasa!”
Selasa berikutnya, saya demam tinggi
karena infeksi pencernaan. Tetapi saya hadir. Karena Romo Herry membuat saya
berpikir kalau kamu menginginkan sesuatu, dan mendapatkannya, jalani dengan
sungguh-sungguh. Hari itu saya merasa memenangkan sesuatu.
Perjalanan dari Tangerang Selatan ke
STF Driyarkara bukan sesuatu yang menyenangkan. Saat itu sedang masa promo
layanan ojek online dimana mereka menetapkan flat price lima belas ribu kemanapun, maka saya gas pol dari kantor di Tangerang naik
ojek online langsung menuju Cempaka Putih. Sesampainya di STF sudah dipastikan
wajah saya seperti kepiting rebus dan penampilan tidak bisa rapih-formal
seperti rencana awal ketika tes masuk. Dalam
keadaan seperti itu, ada yang menyapa dengan ramah, “Kamu dari mana? Kerja
sebagai apa? Naik apa ke sini?” dan orang itu adalah Romo Herry. Sekarang
penampilan kami sudah mirip. Bedanya, beliau ramah dan saya kaku karena memang
kurang pandai bergaul.
Pada kesempatan berikutnya ketika
saya sudah mahasiswa semester akhir dan sudah melarikan diri sekian lama dari
kampus, saya harus menghadap Romo Herry untuk membicarakan masalah
administrasi. Setelah menungu beberapa saat, akhirnya saya dipersilahkan untuk
naik ke lantai 3 menuju ruangan beliau. Ketika di dalam lift, saya baru sadar bahwa celana jeans yang saya pakai ini
robek besar sekali di bagian atas lutut. Itulah, karena sudah lama
meninggalkan STF saya kembali ke penampilan saya pra-STF. Saya panik dan
jantung berdegup kencang. Mau mengajukan permohonan masalah pembayaran kok pakaian saya seperti ini. Maka saya
memasuki ruangan beliau dengan cara jalan yang agak aneh, dengan ransel
dipegang berusaha menutupi bagian yang terbuka lebar tersebut.
“Kamu kurator kan?” tanya beliau.
Hal ini mengejutkan, karena saya tidak pernah mengatakan bahwa saya seorang
kurator atau pekerjaan yang mirip dengan itu. Sore yang terik beberapa tahun
lalu, saya menjawab bekerja sebagai guru Bahasa Inggris, dan di formulir
pendaftaran pun saya menulis sama. Bagaimana mungkin, atau untuk apa, orang
dengan kesibukan sepadat Romo Herry, dengan jabatan sepenting beliau, mencari
tahu apa-apa saja yang saya kerjakan di samping mengajar Bahasa Inggris. Walau permohonan saya tidak dikabulkan, saya
cukup bersyukur beliau tidak menegur soal celana jeans saya. “Segera lunasi
agar bisa fokus tesis. Segera selesaikan tesis supaya hidup bisa berjalan
kembali.”

tulisan Romo BHP di Mading Pasca
Saya tidak punya apapun untuk
dikatakan terkait kekayaan intelektual beliau dan kontribusinya yang besar
dalam ranah sosial politik dan filsafat di Indonesia. Kenangan-kenangan ini sangat
personal dan hari dimana saya mendengar kepergian beliau, it did hit like a truck, ripped like my jeans. Namun sulitnya
memulai tulisan ini mengingatkan saya akan perlawanan pada rasa tidak mampu
tersebut. Ketika mendengar tentang topik dan latar belakang penelitian saya di
kelas Seminar Tesis, beliau mengatakan, “Good,
ambisius, tapi apa kamu yakin bisa menyelesaikannya?”
Saya sudah dijamin, dimohonkan, dikuatkan, dan
dilindungi sampai saya menyelesaikan studi di Pascasarjana STF Driyarkara.
Romo Herry hanya tidak hadir lagi
secara fisik, namun semangat, kedisipinan, dan kebaikan beliau hidup di hati
kami, dan ingatan itu selalu hangat, seperti jam lima sore yang masih terik di
Cempaka Putih. Saya mungkin tidak bisa datang lagi ke ruang kerjanya di lantai
tiga, namun saya bisa membaca tulisan-tulisannya yang bernas dan membara.
Comments