Lima November kemarin bagiku menjadi hari
bersejarah. Baru kali itu di hari keberangkatan tidak kutemukan Kartu Tanda
Penduduk. Tiket sudah dibeli jauh-jauh hari, rapid test yang menyusahkan sudah
dilakukan, dan koper sudah penuh seperti mau minggat; eh! KTP malah nggak ditemukan.
Kusabetlah kartu mahasiswa yang berlaku hanya sampai 2016. Karena wajahku
memang tidak berubah, plus abis potong rambut, jadi penampakanku sangat mirip
dengan foto di kartu itu. Dengan bantuan alam semesta yang mendukung
kepergianku ke Jogja, aku lolos pemeriksaan di pintu keberangkatan stasiun
Gambir. Jujur aja aku selalu meromantisir bepergian jauh, naik kereta atau
pesawat, karena aku sangat jarang melakukannya. Aku cupu soal travelling.
Mungkin memalukan tapi tanpa rasa malu kuceritakan hal ini: aku home body,
travelling ku hanya ke cafe sekitar rumah atau tempat kerja, untuk membaca buku
atau blogging tanpa gangguan. Cewek-cewek seumuranku rata-rata sudah ke Jepang,
sementara aku ke Jogja aja udah senang. Rasanya udah jauuuuh banget ngakak gak
sih. Sejak tinggal di Jakarta, keluar dari kota itu sedekat apapun rasanya
berharga. Ketika tidak lagi bertemu dengan orang Jakarta dengan segala
kejakartaannya, pengalaman itu selalu kumaknai terlalu dalam, yang bagi orang
mungkin remeh.
Pindah Planet
Singkat cerita, sesampainya di Jogja, hari itu
juga – setelah numpang mandi, ganti baju dan ngobrol-ngobrol di Reeneo Guest
House – aku dibawa ke Klaten, naik motor. Jalannya pun sudah lepas maghrib dari
Jogja. Khawatir kedinginan nanti di Klaten, aku minta dibelikan kaus kaki di
Indomaret. Norak gak sih wkwkwkw.
Dari jalan layang yang indah, mulai melewati
jembatan-jembatan di atas sungai, suara jangkrik yang nyaring. Kendaraan mulai
jarang dan yang terlihat hanya pepohonan, seperti melewati hutan. Tentu saja
aku sangat menikmati perjalanan itu walau tanganku rasanya hampir beku. “Kamu
nggak klakson tiga kali?” tanyaku. “Sudah assalamualaikum dalam hati,”
jawabnya. Ilmu-ilmu kearifan lokal ala Malang (dan daerah lainnya) masih melekat
padaku. Aku ini bukan orang Jakarta, walau sudah 20 tahun tinggal di sana, sama
sekali tidak relate dengan kota itu. Ketika melewati salah satu area pepohonan,
kudengar namaku dipanggil dengan kasar. Aku berdoa saja, tapi sama sekali tidak
ada rasa takut. Aku merasa aman dan... tetap senang! “Kamu nggak pa-pa? Rumahku
masih naik jauh.” Ya nggak pa-pa lah, malu jadi arema kalau nggak kuat dingin
hahaha. Justru aku ingin lihat dan merasakan semakin naik ke atas dalam
kegelapan malam. Setelah melewati jalan yang sedemikian sunyi, terlihat gapura
dengan lampu yang terang, masih di tengah hamparan sawah, terlihat sepeda motor
terparkir di gapura tersebut, dan orang berbaring di jalan! Otomatis kukira itu
orang pingsan kan. Kamu tau nggak ternyata dia ngapain? Main handphone dong.
Anjir Steven and The Coconut Tree banget ini, welcome to my paradise~
Kabupaten Klaten terasa syahdu dan damai, setidaknya bagiku yang di masa sebelum pandemi selalu melihat orang berpakaian semi formal, sedang bergegas dan terburu waktu di jalan. Atau berdesakan makan di warteg, dan saling sikut di KRL. Keseharian di sini adalah pakai kaus yang nyaman dan topi caping; menggarap sawah. Diceritakan padaku, beberapa tahun yang lalu, belum lama, dia masih menemukan orang bertransaksi dengan seikat padi. Gerobak Mie Ayam nongkrong di pinggir sawah, lalu sang petani membeli semangkuk mie ayam dengan seikat hasil panennya. Cerita ini membuatku tersenyum dan bersyukur, masih ada tempat yang bukan Jakarta di negara ini. "Kamu ini anak kota banget," begitu dia selalu meledek. Ya, memang benar, aku nggak pernah tinggal di desa. Malang pun kota yang maju, dengan lanskap jalan yang rapih warisan Belanda. Walau demikian, tingkah laku dan unggah ungguh orang-orang kota itu tidak jauh berbeda dengan warga desa. Namun ketika aku pindah ke Jakarta, semuanya terasa ekstrim berbeda. Manusianya pun beda. Etika bertransaksi dan secara umum berinteraksi antar manusia pun terasa beda. Oleh karena itu, sejak terdaftar menjadi penduduk DKI, aku seperti haus akan kampung halaman. Apapun yang terasa seperti rumah lamaku, aku suka. Kuulang-ulang terus di pikiranku. Aku ingin kembali. Suara bicara yang pelan, pagi yang sunyi, dan ruang-waktu untuk merenung.
Di sepanjang jalan ternyata banyak toko kelontong yang cukup rapih. "Pantesan tantemu suka jajan, lengkap gini," aku nyeletuk. Ternyata toko-toko itu baru saja berdiri, belum lama, dan menjamur. Semua orang bikin toko, karena akan dilakukan pembangunan jalan tol. Suasana hatiku berubah. Kami merasakan terror yang sama.
Bagaimana jika hamparan hijau dan kehidupan petani yang demikian syahdu lenyap digantikan dengan kegersangan? Kegersangan tanah dan jiwa. Ke mana lagi aku bisa melarikan diri dari Jakarta? Aku ingat memaki-maki apartemen pertama yang berdiri di kota Malang, di area Soekarno Hatta. Buat apa ada apartemen ketika masih banyak tanah lapang untuk dibangun hunian di atasnya? Karena tanah itu mau diambil pemerintah, atas nama pembangunan.
Pada hari-hari berikutnya, walau tetap senang, teror itu semakin terasa. Di atas motor ketika bepergian kami selalu menoleh ketika tiba-tiba di pinggir jalan ada bongkahan-bongkahan beton. "Temanku sudah cerita, sekitar tahun 2001, waktu dia nginap di rumah Mbahku, kalau kedamaian ini nggak akan bertahan lama." Warga setempat terlihat koopertif dan gembira dengan rencana pembangunan tersebut. Per hektar sawah yang diambil negara akan diganti dengan sejumlah uang, sehingga semakin habis sawah itu dibetonkan, semakin kaya sang mantan petani. Orang-orang berbondong membangun toko dan warung untuk memfasilitasi pekerja jalan tol, anak-anak mudanya sudah ribut mau beli motor baru. Imajinasi-imajinasi naif tentang perubahan nasib menambah suasana mencekam di hatiku, di tengah hamparan hijau Manisrenggo. Bagaimana mereka mungkin mengimpikan hidup seperti di Jakarta. Kota "maju" dengan beragam fasilitas; buah, sayur, bahkan beras impor. Mau makan enak tinggal ke cafe. Uang banyak bisa beli tanah, yang tadinya sudah milikmu. Rumah, yang tadinya sudah milikmu. Kemudian setelah uang habis mau kerja apa? Mereka bisanya bertani. Itu satu-satunya pekerjaan yang tidak perlu mulai dari level entry. Kata Herda, sejumlah uang itu, apakah sepadan dengan tanah yang sudah memberi penghidupan selama berpuluh-puluh tahun?
Begitulah sedikit cerita perjalananku kali ini. Aku tidak lagi terkesima dengan kekayaan alam Indonesia yang memang indah dan menakjubkan. Namun yang lebih menakjubkan lagi adalah pengerukan yang terjadi secara masif di belakang kita.
Kalau mau baca-baca:
Eksploitasi Alam di Lereng Gunung Merapi
Petani Lereng Merapi Tolak Penambangan
Kembali ke Jogja, Bertemu Ari Ersandi
Setelah menikmati slow life dengan tempe goreng berbentuk terumbu karang di Manisrenggo, kami memutuskan untuk kembali ke jantung kota. Kaget juga melihat Prawirotaman yang seperti Legian Denpasar. Rumah-rumah kecil berdempetan dan semuanya buka jasa penginapan, seolah setiap orang yang lewat sana ngantuk banget jadi butuh nginap. Suasana di gang itu tidak menyenangkan; membuatku membayangkan Red Light di Amsterdam, atau Legian di Denpasar dengan Sky Garden nya yang bikin keringetan. Tapi di tengah kesumpekan itu, kami tinggal di sebuah tempat yang damai sekali. Aku tidak mau menulis nama tempat itu di sini, yang jelas tempat itu hanya untuk kami -- waktu yang tepat sekali untuk ke Jogja.
Suatu malam kami nongkrong di Lotus Cafe, dan setelah ditanya lagi, "Mumpung di Jogja nih, mau ketemu siapa?" akhirnya aku memberanikan diri mengkontak DM Instagram Ari Ersandi. Aku tidak kenal dia, ya hanya saling follow di Instagram. Pernah menontonnya sekali di Salihara, tahun 2018. Dia nari dalam karya "From Starting To Cut The Wood" karya Katia Engel. Singkat cerita, dia mau bertemu. Dan lagi-lagi, aku sangat beruntung. Dia sudah tidak tinggal di Jogja, dan hanya kebetulan saja sedang di Jogja. A cubic centimetre chance.
Dia datang ke tempatku nginap. Di sana ada shared living room nya, bebas bikin minuman. Sesuai permintaan, aku membuatkannya segelas kopi hitam tanpa gula. Di luar prediksi ku, ngobrol sama Ari Ersandi nggak perlu basa-basi. Orang ini serius, energinya kuat, dan kosa kata nya cerdas. Jarang kutemui di kalangan para penari (di Jakarta. Nggak berani bilang Indonesia, karena toh pergaulanku belum seluas itu.) Untuk memberi topping pada salah prediksi ku, dia bukan orang Jawa. Sehingga segala kekulonuwunan yang biasa kugunakan untuk mewawancara seniman (Jawa) tidak berlaku. Rasanya mirip dengan ngobrol sama pembimbing tesisku, Pak Matius Ali. Kamu harus punya poin yang jelas, kemudian dielaborasi.
Dia menceritakan proses karya Katia Engel, yang menarik dan sulit. Obrolan ini, yang memang kupersiapkan untuk menjadi awalan, kemudian mengantarkan pada topik utama yang menjadi tesis ku: memori tubuh. Bagi Ari gerak itu pencetusnya suara. Tubuh merespon suara. Detil dari pembicaraan kami soal itu bukanlah yang ingin kucatat di blog ini. Jadi, lompat sedikit, yang sangat menarik adalah kami sama-sama tidak punya latar belakang tradisi. Tradisi kami adalah tubuh ini. Tubuh kami sendiri. Dan ngobrol dengannya membuatku semakin yakin bahwa tidak punya latar belakang tari tradisi itu sangat tidak apa-apa. Tubuh penari itu banyak chipsnya, kata Ari. Artinya, tubuh ini menyerap apapun yang dialaminya. Pada kesempatan ini aku membagikan sedikit penemuan dalam tesisku, dari Henri Bergson, tentang world memory. Dia tertarik mendengar soal ini; kemudian aku mendengar pergumulannya mencari siapa dirinya. Pergumulan ini pernah mendorongnya hingga pada batas kewarasan. Dahsyat. Lagi-lagi aku dipertemukan dengan apa yang kucari. Dari sini kubagi lagi, dengan hati-hati, apa yang kutemukan dari Gilles Deleuze tentang subjek. Rasanya malam itu tidak cukup untuk obrolan kami. Tapi Herda sudah ngorok kencang sekali, dan juga nggak enak sama istri Mas Ari, masa sebelum hari berakhir nggak telponan atau videocall-an (ya memang itu pikiranku sendiri sih, tapi mikirin orang lain tuh bagiku harus lho.)

Comments