Pergumulan-pergumulan, dan kelulusan. Pada akhirnya aku lulus dari IKJ, dengan susah payah, begitu pula dari STF. Di kantor-kantor, ketika kita memutuskan resign, rekan-rekan kerja mengistilahkannya "lulus". Kamu udah lulus dari mana aja? Hari ini aku lulus dari Feel Good Space, alias diberhentikan, karena peminat kelas kurang dari standar. Memang kelas baruku itu tidak kuiklankan serajin kelas tari yang memang aku suka, bangga, dan "nggak untung pun nggak pa-pa!". Walau demikian, kelas Feel Good Motion, alih-alih dari Contemporary Dance, yang kupandu selama tiga tahun itu pun nasibnya sekarat, jika dilihat dari nilai ekonomi. Pesertanya hanya satu, tiga, pernah tujuh, itu paling banyak dan hanya terjadi sekali. Sementara kelas kelas lainnya, seperti zumba, barre, sampai menyesakkan studio. Aku sudah siap didepak sejak tahun pertama tapi kelasku tetap ada di poster-poster instagram mereka.
Walau yang datang ke kelasku jumlahnya tidak lebih dari jumlah ruas dalam satu jari, banyak dari mereka yang mengatakan padaku kalau mereka sangat menikmati, dan bahkan ada yang menulis panjang di media sosialnya, menyebut kelasku membantunya untuk lebih menyayangi diri, melalui tubuhnya. Selalu ada pesan-pesan yang mengejutkan dari peserta yang hanya seperlima belas jumlah peserta kelas lainnya itu.
Uang yang kuterima selama mengajar di sana juga hanya menutup biaya transportasi, dan segelas es kopi di Sehidup Sekopi setelah ngajar. Kalau bukan karena rasa percaya, pasti sudah diakhiri sejak dulu. Percaya bahwa sekecil-kecilnya yang kulakukan, kelasku ngaruh. Kelasku memberi sesuatu untuk orang bawa pulang. Kalau bukan karena rasa keterhubungan dengan segelintir orang yang berulang hadir, bahwa mereka datang lagi karena kini tubuh bukan hanya harus dibentuk sesuai imaji pikiran tetapi tubuh ternyata bisa menciptakan imaji di luar pikiran, di luar tuntutan-tuntutan ideasi. Tapi ya sudahlah.
Ya sudah nggak pa-pa, wajar lah.
Mau berapa kalipun nulis "ya sudahlah", aku tetap menangis. Sungguh bukan perkara kehilangan satu sumber penghasilan. Uangnya itu receh sekali, sepersekian dari ngajar-ngajar lainnya. "Ya sudahlah", tiga tahun aku di sana. 2017 permulaan yang sangat berkesan, 2018 penuh kejutan, 2019 seperti Edelweis; mekar, dipercaya, dicari, walau hanya yang mau naik gunung yang akan bertemu. Ya sudahlah, ini namanya kelulusan juga.
![]() |
| 2018 |
Studio putih itu menyaksikan kecintaanku pada menari yang tidak berhenti di ucapan. Dalam keadaan baru tidur 3 jam dan murid hanya satu, aku berangkat. Studio putih itu tempatku pertama kali dipercaya untuk memegang kelas dan kesempatan itu tidak sedikitpun kusia-siakan. Terima kasih untuk tiga tahun yang tidak selalu menyenangkan, namun sangat mendewasakan.
Aku masih percaya beberapa orang bertumbuh dalam kegelapan. Aku masih percaya yang mencari akan menemukan. Mungkin aku kehilangan satu wadah untuk membagikan apa yang kucintai sekarang, namun ruang kemungkinan itu luas, dan seperti Edelweis yang mampu tumbuh di atas tanah tandus, begitu juga aku yang terbiasa tanpa pujian dan tepuk tangan, tetap tumbuh 2.000 meter di atas permukaan air laut.

Comments