Aku senang menjadi berbeda. Seiring waktu aku belajar bahwa menjadi berbeda ada konsekuensinya. Orang akan memperlakukanmu dengan berbeda. Apakah kita terbagi menjadi orang yang berbeda dan orang yang seragam? Dalam opiniku yang bisa saja salah, tidak demikian. Setiap orang punya individualitas, khas, dan ritme masing-masing. Namun tidak semua orang siap menerima respon sesuai keunikannya tersebut. Maka lebih nyaman untuk kita menjadi terlihat sama, dilihat sebagai bagian dari satu kelompok agar tidak perlu menerima respon yang kurang menyenangkan -- sendirian.
Seringnya, segala sesuatu yang berbeda itu menimbulkan ketidaknyamanan. Misalnya, kamu tau setiap siang hari itu panas terik sehingga kamu bisa menggunakan waktu tersebut untuk mengeringkan pakaian. Lalu pada suatu siang, langitnya mendung dan gelap. Kegiatanmu menjemur siang itu akan gagal. Bukan karena satu siang itu adalah siang yang gagal, ia hanya berbeda.
Ketidaknyamanan dari sesuatu yang berbeda adalah sebuah interupsi dari rutinitas, dari pola yang sudah kau kuasai.
Trik yang selalu berhasil kau terapkan pada 100 orang yang berusaha menjadi sama mungkin tidak akan berhasil kau terapkan pada 1 orang yang berani menjadi berbeda. Karena ia memproses segala sesuatu tanpa pretensi untuk menjadi sama dengan yang lain. Ia tidak menggunakan referensi untuk mencontoh, tetapi untuk mempelajarinya saja.
Untuk melihat contoh tanpa meng-copy dan memprosesnya menjadi semacam panduan hanya bisa dilakukan jika seseorang berpikir. Tindakan demi tindakan, reaksi demi reaksi yang ia saksikan dipilah dan dijadikan panduan. Mungkin ia bersikap hormat padamu dan menjadikanmu contoh dari how to not be.
Aku pernah membaca sesuatu yang harus kusetujui, bahwa berpikir itu tidak terjadi secara alamiah. Berpikir itu tidak mengalir. Ia melawan. Berpikir hanya dilakukan oleh orang-orang yang berani melakukan perlawanan. Tidak semua orang cakap dalam berpikir. Kenyataannya, yang dilakukan kebanyakan orang adalah mengikuti impuls-impuls pikiran dan emosinya tanpa berusaha melawan dan menemukan sebuah kejernihan di dalamnya.
Ketika kita hanya mengikuti dorongan-dorongan emosi, perasaan, cetusan-cetusan ide yang muncul di pikiran kita tanpa melakukan perlawanan, kita menjadi SAMA dengan orang kebanyakan. Itulah mengapa orang kebanyakan mudah dipengaruhi oleh cetusan dari orang di sekitarnya, oleh keadaan, senang meniru, dan tidak mau ketinggalan "hal baru".
Comments