Skip to main content

Berpikir dan Berbeda

 



Aku senang menjadi berbeda. Seiring waktu aku belajar bahwa menjadi berbeda ada konsekuensinya. Orang akan memperlakukanmu dengan berbeda. Apakah kita terbagi menjadi orang yang berbeda dan orang yang seragam? Dalam opiniku yang bisa saja salah, tidak demikian. Setiap orang  punya individualitas, khas, dan ritme masing-masing. Namun tidak semua orang  siap menerima respon sesuai keunikannya tersebut. Maka lebih nyaman untuk kita menjadi terlihat sama, dilihat sebagai bagian dari satu kelompok agar tidak perlu menerima respon yang kurang menyenangkan -- sendirian.  


Seringnya, segala sesuatu yang berbeda itu menimbulkan ketidaknyamanan. Misalnya,  kamu tau setiap siang hari itu panas terik sehingga kamu bisa menggunakan waktu tersebut untuk mengeringkan pakaian.  Lalu pada suatu siang, langitnya mendung dan gelap. Kegiatanmu menjemur siang itu akan gagal. Bukan karena satu siang itu adalah siang yang gagal, ia hanya berbeda. 

Ketidaknyamanan dari sesuatu yang berbeda adalah sebuah interupsi dari rutinitas, dari pola yang sudah kau kuasai.


Trik yang selalu berhasil kau terapkan pada 100 orang yang berusaha menjadi sama mungkin tidak akan berhasil kau terapkan pada 1 orang yang berani menjadi berbeda. Karena ia memproses segala sesuatu tanpa pretensi untuk menjadi sama dengan yang lain. Ia tidak menggunakan referensi untuk mencontoh, tetapi untuk mempelajarinya saja. 

Untuk melihat contoh tanpa meng-copy dan memprosesnya menjadi semacam panduan hanya bisa dilakukan jika seseorang berpikir. Tindakan demi tindakan, reaksi demi reaksi yang ia saksikan dipilah dan dijadikan panduan. Mungkin ia bersikap hormat padamu dan menjadikanmu contoh dari how to not be.

Aku pernah membaca sesuatu yang harus kusetujui, bahwa berpikir itu tidak terjadi secara alamiah. Berpikir itu tidak mengalir. Ia melawan. Berpikir hanya dilakukan oleh orang-orang yang berani melakukan perlawanan. Tidak semua orang cakap dalam berpikir. Kenyataannya, yang dilakukan kebanyakan orang adalah mengikuti impuls-impuls pikiran dan emosinya tanpa berusaha melawan dan menemukan sebuah kejernihan di dalamnya.


Ketika kita hanya mengikuti dorongan-dorongan emosi, perasaan, cetusan-cetusan ide yang muncul di pikiran kita tanpa melakukan perlawanan, kita menjadi SAMA dengan orang kebanyakan. Itulah mengapa orang kebanyakan mudah dipengaruhi oleh cetusan dari orang di sekitarnya, oleh keadaan, senang meniru, dan tidak mau ketinggalan "hal baru". 



Comments

Popular posts from this blog

It Has Been A Lot!

Wow, where should I start? So my comeback to dance class after a month break (sebulan aje dibahas...gimana lebih? Udah jadi buku keleus :D) had been a wild ride. Right away rehearsal for a performance and coordinating an event at the same time. Berto gave me this job from IDF, where I worked as P.I.C for Dance Writing Workshop. My girl IKAN said why am I taking the job if I am so busy? The answer is clear: I need to pay college. Ikan said she can just lend me money and I can focus on my thesis. God, bless this human that is my best friend. That's very kind and thoughtful of her. Anyway, I took the job so I was running 2 events at the same time. One in Cikini, Central Jakarta and one in SOM, South Tangerang. I became an adept Commuter Line user. I no longer mistaken peron 1 with peron 2 and silly things like that, like not knowing which gate I should enter after scanning my card to enter the peron. Duh. Duh 100x. I wasn't particularly on diet but I really didn't want to ea...

What is happiness? It sounds like a snack.

I would, like usually, open this post by saying "Things are crazy". Yes, I don't know are things really crazy or is it just me. I think it's the latter. Life appears as surprises to me. And I act like a door, opening this tunnel, closing another one. I don't feel dull, and I can't say my days have been dull for they are full with challenges. But I have been so alone. This also sounds weird. Since when that I'm not alone? I always pull myself back from any social event. I hang out alone. I guess the last time I had a good time outside the house/office/campus with another human being was the last Saturday in January, so it's a month ago. It is true that if I just ask, I will get people willing to go with me. But I am the pickiest picky pick ever because most of the times when I don't pick, I get bored with dull conversations, or a view of someone watching his/her phone like there's nothing else to see. So all this time I hang out alone. Mos...

sehat

Aku masih sakit, nih, blog.. padahal besok udah hari Kamis, harus bekerja di Pingu's. Semoga hari ini sembuh dong, yuk yaaaa...yuuk cepet sehat. Cepet mandi terus ke kampus. Lah kapan istirahatnya? Akakakaka... harus mengejar Armantono nih ik. Come on warrior!!!!!!! Ik merasa hampir gilaaaaaaaaaaaaa aaaaaaaaghhhhhhhhhhhhhhh lontooooooooooooong please, please, ik mau lulus semester ini. Please sehat wal afiat, dan sexy walafeksi... (gila)