Baru mau nulis aja udah insekyur, takut ga bisa menyelesaikan tulisan ini wkwkwk. 2019 itu aku pertama kali mengalami persalinan. Iya, benar. Hahahahaha bukan, bukan aku yang melahirkan. Aku hamil aja, yang melahirkan kucingku si Lilik. :)) Lilik, yang nama di KTP nya Yang Ye Hwa, melahirkan 5 cenil pada 25 Juni 2019 dan melahirkannya itu di kamarku, tepatnya di lemariku. Ayah sudah membuatkan kotak kardus yang sangat proper untuk Lilik melahirkan, di bawahnya dialasi kain-kain yang hangat dan lembut, dan Lilik sudah berkali-kali digendong ditempatin di situ biar dia tau itu tempat untuk dia melahirkan. Tapi aku tau Lil Hoe tidak akan menggunakannya karena aku liat dia sudah beberapa kali hunting lokasi ke lemariku. Lalu di hari yang diberkati itu, lahirlah bayi-bayi yang kuberi nama Timi, Dobi, Bolu, Poti. Itu ngasih namanya spontan ga dipikirin satu-satu. Kakakku yang nggak kebagian porsi ngasih nama tidak mau kalah. Dia bikinin versi nama panjangnya:
Timothy Pochettimo (Timi)
Sadio Dobi (Dobi)
Sisanya aku lupa, dan akhirnya Bolu dan Poti diadopsi oleh driver Grab Car. Semoga mereka sehat dan bahagia.
Mereka ini kami sebut angkatan PIRANHA. Tunggu cerita selanjutnya, karena ada angkatan anak Lil Hoe berikutnya, yaitu angkatan KUE. Kenapa dikasih nama angkatan Piranha, karena di masa bayinya, mereka ini hobi gigit-gigit manusia. Suakit. Cara berkomunikasinya dengan menggigit. Mungkin kehidupan di janin dulu bagaikan di Sungai Amazon, who knows.
Mundur ke bulan Maret, 1 Maret adalah hari perpisahan dengan murid Jepang ku si Yurika. Aku mengajar dia Bahasa Inggris dari November 2018, 2 kali seminggu, quite intense.
Yurika ini papa e Jepang, mama e Sunda. Dia bisa bahasa Indonesia sedikit sekali, hanya bisa ekspresi-ekspresi fungsional seperti nyuruh pembantu. Aku ngajar dia tuh dari dia tinggal di Apartemen Senayan sampe Apartemen Kalibata. Tentu aku ngga mau nerima pekerjaan ngajar jauh-jauh ke Kalibata. Awalnya tuh di Senayan, yang masih tergolong gampang dijangkau. Karena udah sayang, pas dia pindah Kalibata ya aku mau nyamperin ke sana lah. Era-era aku ke Senayan itu era 2018, kalau perjalanan BUANGSAT ke Kalibata itu sepenuhnya milik 2019. Hahahahaha. What a life to remember. Asli, barbar. Kalau aku mau malas-malasan, maksudku cuma turun di tempat transit lalu lanjut gojek, mahal. Sementara ini konteksnya aku kerja, cari uang. Kalau aku naik gojek ya cuma buang energi aja. Jadilah kuhadapi claustrophobia ku. Kan les nya tuh jam 6 sore, otomatis aku di kereta itu jam 5an dan itu emang udah memasuki Waktu Jakarta Bagian Barbar. Aku coba berangkat lebih awal, nggak pa pa deh sampe Kalibata nongkrong dulu di convenience store. Berangkat jam 3. Tuuuetep kon. No mercy kehidupan kereta ke arah Jakarta Timur itu.
Maju ke April, SOM diundang Ballet.Id untuk mengisi acara di program mereka "Art in Movement" yang pentasnya di pembukaan galeri/museum baru. Kak Davit nawarin aku dan heidy yang bikin karya. Slotnya 20 menit per kolaborator, jadi 10 menit, 10 menit. Heidy langsung nolak ga pake lama :)) . Dia mau kalo disuruh nari, tapi ga mau kalo bikin karya. Dah ngerasain proses JDMU yang ngga jadi pentas itu. Aku tentu tidak mampu menolak tawaran itu. Walau aku tau harusnya aku ngerjain tesis, kesempatan tidak datang dua kali, kakak. Mulai bingung cari penari, secara penari SOM segitu dikitnya. Monica Belluci si murid Contemp Teen udah keluar dari SOM pula. Ya masa penarinya cuma Savi-Heidy? Aku ga mau ikut nari, biar fokus ngeliat alur, dsb.
I came up with an idea in a middle of the night when wave of depression started hitting. Beneran, when I felt ooh it's coming, aku langsung ambil kertas dan gambar-nulis2 ga jelas pokoknya aku ga mau terbawa ombak itu. Dia lewat dan arusnya kuat, tapi aku udah muak dengan 2018 di mana aku udah mati 50 x :))
Pastinya lebih mudah kalau aku bikin karya seperti Terra Incognita (astaga, cerita ini belum kumasukkan di rekap 2018) tapi ini tuh pentasnya di galeri. Venue nya idealis. Aku pengen sesuatu yang baru, yang nggak pernah kulakukan sebelumnya. Pengalaman berkarya ku yang dipentaskan kan "I Recognize You" dan "Terra Incognita" yang semuanya bentuknya koreografi estetis, ini mau nyoba metodis wakakakak. Hidup sok tau! Hidup Gemini! Nah, akhirnya yang bikin karya aku dan kak davit. Itu kan april, udah persiapan recital (Recital ke-4 SOM, Juli 2019). Kak Davit mau ada bagian aku solo di karya dia dan April atau Mei itu kami berdua udah mulai latihan untuk bagian solo ku.
Aku ceritain ya, latihan pertama, hari Kamis sebelum kelas kontem teen. Malamnya aku nangis saking bahagia nya. Aku kangen. Dan aku ga sadar kalau aku kangen. Aku kangen dibacotin guruku, bloggie. Aku dikritik, dikoreksi, diperhatikan. Dan itu rasanya indescribable. Dulu 2016 waktu awal-awal nari digituin rasanya mungkin capek dan frustrasi. Kali ini, enggak. Rasanya kayak pulang kampung, kayak baru ketemu bapak ku lagi setelah sekian lama merantau (ini bahasa yg lebih halus daripada ekspresi sebenarnya: "diler-ler").
Dia bilang kakinya kelihatan banget gak kuat, karena di kelas pun kebanyakan floor movements yang lebih menguatkan badan atas, work out nya juga plank, sit up push up itu untuk badan atas. Aku disaranin lari, aku beneran lari. Setiap Jumat sore aku jogging sendirian dan aku menikmati olahraga yg kubenci itu: lari. Semua gara-gara solo part di karya kak davit. It means the world to me. I felt like I have a goal and I felt alive, at my best. I rekindled the sincerity in dancing, the feeling of giving rather than showing, the feeling of surrender rather than fighting.
Nah, latihan karya kak davit itu kurang lancar. Menurutku latihannya terlalu sedikit, terlalu santai dikarenakan penarinya cuma 3, yang satu gak bisa latihan melulu karena lagi job training.Sehingga kak davit menunda-nunda latihan. Padahal menurutku ya latihan latihan aja, sok iye banget gak latihan. Saat itu Kak Davit juga lagi latihan buat performance di Borobudur Writers and Cultural Festival. Terus aku dapat kerjaan dari BWCF juga sebagai website manager jadilah kami ketemu tuh di Cipta, "tempat latihan Valak" kalau istilah kak davit :)) Waktu ketemu itu aku mengungkapkan kenapa kok ga latihan yang bisa datang, jawabannya ngeselin "Masa nanti kalian berdua hits dia jelek sendirian?" Coba lu pikir. Jawaban apa itu. Terus aku bilang "Oke, jadi kak davit lebih pilih kita jelek bertiga." Kesel gue asli. Coba lu nilai sendiri dah, pantes ngga ngomong kayak gitu -- dengan alasan apapun.
Latihan Orbitals sendiri juga bikin pecah palak. Si Kala sering banget ga dateng latihan. Deisha selalu ngusahain datang walau rumahnya jauh. Dia semangat banget, itu berkesan bagiku. Di karya ini tuh aku mengajak para penari untuk menjadi kolaborator koreografer, bukan penari robot.




Comments
lobang masih perawan. Coba liat anagram