Skip to main content

2 0 1 9 (PART 2 End)




Astaghfirullahaladzimmm bener kan ketakutanku, aku tidak menyelesaikan tulisan dalam sekali nulis wakakakak. Oke terakhir cerita tentang karya kan... Nah Orbitals itu proses yang nggak smooth buat aku, maupun buat penari-penariku. Mereka merasa kesusahan dengan sistem dan permainan yang ada di dalam koreografi. Walau demikian, Savitria si Betawi Jawa itu excited dan bisa mengeksekusi dengan baik. Kita semua di sini ga ada yang penari profesional, oh mungkin ada ya, tapi ya ayo bersikap profesional aja maksudku. Latihan, datang dengan energi yang baik dan buka hati dan pikiran buat ide koreografer dong, nggak semua semua perlu lo kritik dan pertanyakan. Hahahaha. Maksud gue, dicoba dulu gitu loh baru bacot. Ini nari apa adu bacot sih sebenarnya :)) Oops, sori emosi. Yah itu udah lewat dan masuk bank pengalaman aja. Lelah mental gue ngadepin penari. Mending kalo abis lelah mental terus dia narinya bagus. Enggak juga. :)) Ngakaakk.


ketika punya ide mendadak tapi ga bawa buku tulis adanya fotokopian filsafat


Di "Semesta", karya Kak Davit aku menikmati-menikmati aja, kayak refreshing otak. Mendekati September aku tuh mulai chat WA cukup intens dengan cowok yg udah kenalan berrrtahun-tahun lalu tapi nggak pernah kuanggap karena aneh masa pernah tiba-tiba nembak jam 3 pagi coba. Tapi kami chat lagi dan orangnya asik, bisa diajak diskusi serius, kalo becanda juga bikin ngakak. Kami tuh janjian ketemu waktu aku ke Jogja bulan Juli, tapi aku malah kehilangan nomernya dan dia malah di Malang waktu aku di kotanya.

Selama masa-masa Orbitals/Semesta/Recital itu aku dapat anda temukan selalu di Sehidup Sekopi kalau nggak di SOM. Menyendiriii aja kerjanya. Yaelah kayak dulu-dulu nggak gitu aja. Oke, ingin menyingkat cerita, Juli recital. Yang nonton aku masih sama seperti tahun sebelumnya, yaitu teman STF ku yang baik, Tyas. Recital kali ini 2 hari, biasanya cuma 1 hari. Capeknya jangan ditanya. Yang aku suka adalah venue nya di Gedung Kesenian Jakarta. Bagiku itu mewah. Gedung tua dan indah. Ekstra hantu-hantu di ruang ganti nggak pa-pa.


Awal Juni itu aku beli dress di online shop, yang akan kupakai di scene Opening Recital. Warna biru. Astaganagaaa...cukup sih cukup tapi aku ketok koyok lontong. Mama sampe bilang "Jual aja dek ke temanmu." Aku langsung murung. Lalu Mama bilang "Atau, diet." Ngana tau, mulai hari itu juga AKU TIDAK MAKAN NASI. Okay gitu aja, dan Juli mendekati Recital dress itu sudah tidak membuatku terlihat kayak lontong. Aku bangga dengan hasil kerja kerasku.

Selain nggak makan nasi aku juga memusuhi convenience store sehingga minuman-minuman manis yang jadi suplemen para penari SOM itu juga ku-stop. Selama latihan recital, perasaanku ringan, selain perasaan kecapean fisik ya.. tapi aku tuh ngga ada obsesi, ambisi untuk tampil bagus. Ya usaha aja tapi asli tingkat ambisius ku beda banget sama Recital 2018,2017, apalagi 2016 (oh, itu Recital terindah). Aku banyak ketawa-ketawa sama Dije. Mungkin karena konsep Recital nya nggak meningkatkan nafsu tampil-ku ya, konsep nya kan Broadway2 gitu, nggak idealis sama sekali, sehingga kujalani saja tanpa ada ekspektasi apapun. Yang ada aku ketawa-ketawa ngeliat aku nari Broadway wakakakakka nggak pantes blas!

Setiap latihan gabungan, venue nya di Puri Saras, yaitu di tempat senam Berti Tilarso dekat rumah lama ku di Bintaro Sektor 6. Menyenangkan, karena pemandangan jalan menuju rumahku. Kalau ngerokok di balkon, masih ngeliat diriku yang jalan kaki sepanjang pinggir sungai itu berangkat/pulang kerja dan kuliah IKJ. Light banget lah pokoknya perasaanku soal recital, isinya ketawa-ketawa aja. Inget aku sama Vanessa ngga bisa berenti ketawa karena pas latihan gabungan Dije cerita dia pernah nari-nari di depan kaca eh terperosok masuk ke sumur. Kok isooo i lhoo. Maka aku dan Vanessa menganggap kepribadian Dije yang unik sekarang ini adalah hasil masuk sumur waktu kecil.



Recital 2019 aku dapat Student of The Year, atau Best Student kategori Adult. Dan kamu tau apa yang kurasakan? Aku kesal, sedih dan selama 2 hari semenjak recital aku nangis sendiri (ya masa mau ajak-ajak? gila lu). Asli award Best Student itu kayak merusak pesta internal ku. Aku sudah melupakan award itu, sudah tidak menginginkannya dan bahkan membencinya. Itu kuakui fotonya bagus dan layak dipajang di instagram. Orang gak tau aja kalo foto yang tampak bahagia berkebalikan seratus delapan puluh derajat dengan realita internal. Aku sama sekali nggak dengar prolog waktu kategori best student dibacakan. Aku berharap yang dapat tuh Dito, salah satu pemeran Recital, atau Heidy lagi. Aku nggak dengar apa-apa, tiba-tiba namaku dipanggil. Aku maju ke tengah panggung dan bersikap biasa aja, cenderung merasa bodoh. Hahahaha iya, apa-apaan sih ini. Apalagi liat anak-anak kecil yang melongo karena selama ini mereka manggil aku Miss Keisha. Mereka taunya aku guru :)) Asli ngakak. Waktu Kak Davit datang langsung kupeluk.  Itu bukan pelukan bahagia, tapi mau rewel ngerasa apaan sih ini njing, I'm over this, I don't need this, and you better give it to someone else. Aku malah merasa degradasi saat berdiri di tengah memegang kertas itu, dengan riuh tepuk tangan. 

Sementara itu Tyas, temanku bangga sekali dan mau motret aku berkali-kali dengan tulisan di kertas itu. Dia juga nulis di grup STF, Keisha tuh best student di tempat narinya. Prolognya, kata Tyas, terpilih karena dedikasi, kerja keras, dan kemajuan. LOL. Hey, bro, sis, I was the best student in 2017. Now I am not, I am over it. Tapi perasaan itu aku tepis, nggak penting juga ego itu. Intinya award itu nggak membuatku bahagia. Aku sudah berjalan jauh, walau pelan kayak bekicot. Sekarang aku sedang mempersiapkan karya pertama yang akan dipentaskan di pembukaan galeri baru, peduli apa aku dengan BEST STUDENT? :))

Oke akhirnya pementasan September terjadi juga. Galerinya bagus banget. Aku naik MRT untuk pertama kalinya hari itu, 14 September kalo ga salah, itu H-1. Kami rehearsal di sana. Masing-masing Semesta dan Orbitals dapat kesempatan rehearsal 2x. Itu rehearsal paling mewah yg pernah aku rasain. Gimana nggak, kita dikasih 2 jam untuk rehearsal, itu bisa ulang berkali-kali sampe capek sampe transformasi jadi Avatar :))

Hari itu aku ada rasa haru sih ngelihat rehearsal Orbitals... gila gue punya penari. Ada orang-orang yang mau nariin otak gue, gitu wkwkw. Aku minta foto mereka di salah satu spot Galeri, lalu aku twit "Sepuluh tahun lalu, punya penari itu cuma mimpi. Hari ini itu terjadi."




Sepulang dari rehearsal itu, aku mampir Bintaro Plaza beli knee pad abis itu nongkrong sendirian demi menenangkan diri. Aku hampir panic attack mengingat aku lupa lagi ngasih surat cuti ke STF yang mana terakhir itu tgl 13 September dan ini 14 September. Aku panik sepanik-paniknya. Walaupun aku udah bayar cuti, tapi kampus tuh, dalam pengalamanku, saat kita udah semester2 akhir tiba-tiba jadi ketaatt banget. Jangankan STF, dulu IKJ yang selow aja berubah jadi UI menjelang kelulusan. Aku WA Tyas (Lagi lagi, Tyas to the rescue).
Aku bilang "goblok pol aku ini". Tyas menyarankan lusa (abis pentas) aku ke Mbak Retno jam 7 pagi. Kemungkinan terburuk jika surat cuti itu dipermasalahkan dan nggak jadi cuti, tesisku berarti harus selesai semester itu, yang mana Bab 2 ku aja belum beres. Udahlah aku super panik gitu, pas aku WA pembimbingku, jawabannya nggak uuueeenak. Intinya dia udah lepas tangan suka suka gua dah mau lulus kek mau kagak kek. Kata Tyas udah, fokus pentas aja dulu abis itu urus kampus. 



Tyas di Recital SOM

Sehari setelah pentas langsung aku langsung ke STF. Sepanjang perjalanan perasaanku gak karu-karuan. Aku mampir fotokopian pinggir rel kereta untuk ngeprint surat cuti dan beli amplop yang bagus. Nyampe STF, ketemu Mbak Retno yang mukanya mirip pacarnya Berto itu. Dia senyum manis, lempeng, dan menyatakan oke, cuti diterima. "Semester ini ya mbak, terakhir."

Baru keluar pintu STF aku langsung WA kakak:

30 July 2019
Alhamdulillahirabbil aalaamiin aku belum di D.O dari STF

kakak: Lho emg tdnya terancam d do?
aku: Ini udh semester terakhir kalo ga lulus, D.O. Temen2ku udah pada pemutihan. Dari 1 angkatan cuma 2 yg udh lulus. Temen2ku disuru ngulang dari awal mon aku masih selamat *emoji nangis 2x* 

Singkat cerita akhirnya pembimbingku nelpon aku, bilang "Kita harus membicarakan nasib you di STF". Yess dia mau membimbing aku lagi wkwkwk. Pertemuan pertama kita ketemu di Universitas Multimedia Nusantara di Serpong. 


Jujur menurutku di pembimbingan pertama itu beliau agak kaget melihat draftku. Memang hanya sedikit, 3 atau 4 halaman, tapi terlihat itu hasil meras otak sampe berdarah-darah. Terus doi ngajarin aku cara cepat nulis Bab 2, yaitu terjemahin aja kata-kata kunci dari buku yang aku foto itu. Alias tulisanku untuk Bab 2 itu keberatan, itu harusnya buat Bab 3.

Singkat cerita, yang mau aku ceritain adalah dari pembimbing-bimbingan ini aku jadi tau stasiun cisauk untuk pertama kalinya. Selama ini kan arah perjalananku ke arah Tanah Abang (Jakarta) terus, kali ini baru tau keindahan BSD Hmmm :)


bentuknya tuh panjang dan bersih lho

Aku pembimbingan tiap Senin dan Jumat dan setiap pembimbingan pembimbingku mengharapkan aku bawa Bab baru sementara untuk menghasilkan satu Bab itu ga gampang. Jadi senin - kamis itu aku ngga tidur. Tidur paling cuma 2-3 jam karena ngebut bikin Bab. Mukaku pucat banget, guru-guru di Snowy khawatir lihat aku. Kalau progress ku hanya sedikit, pas pembimbingan aku dimarahi. Benar-benar dimarahi.

Ada satu hari di UNM, sambil marah pembimbingku bercerita "Kamu tau nggak kenapa Cezanne ngelukis apel sampai 100 kali? 

Comments

Popular posts from this blog

It Has Been A Lot!

Wow, where should I start? So my comeback to dance class after a month break (sebulan aje dibahas...gimana lebih? Udah jadi buku keleus :D) had been a wild ride. Right away rehearsal for a performance and coordinating an event at the same time. Berto gave me this job from IDF, where I worked as P.I.C for Dance Writing Workshop. My girl IKAN said why am I taking the job if I am so busy? The answer is clear: I need to pay college. Ikan said she can just lend me money and I can focus on my thesis. God, bless this human that is my best friend. That's very kind and thoughtful of her. Anyway, I took the job so I was running 2 events at the same time. One in Cikini, Central Jakarta and one in SOM, South Tangerang. I became an adept Commuter Line user. I no longer mistaken peron 1 with peron 2 and silly things like that, like not knowing which gate I should enter after scanning my card to enter the peron. Duh. Duh 100x. I wasn't particularly on diet but I really didn't want to ea...

What is happiness? It sounds like a snack.

I would, like usually, open this post by saying "Things are crazy". Yes, I don't know are things really crazy or is it just me. I think it's the latter. Life appears as surprises to me. And I act like a door, opening this tunnel, closing another one. I don't feel dull, and I can't say my days have been dull for they are full with challenges. But I have been so alone. This also sounds weird. Since when that I'm not alone? I always pull myself back from any social event. I hang out alone. I guess the last time I had a good time outside the house/office/campus with another human being was the last Saturday in January, so it's a month ago. It is true that if I just ask, I will get people willing to go with me. But I am the pickiest picky pick ever because most of the times when I don't pick, I get bored with dull conversations, or a view of someone watching his/her phone like there's nothing else to see. So all this time I hang out alone. Mos...

sehat

Aku masih sakit, nih, blog.. padahal besok udah hari Kamis, harus bekerja di Pingu's. Semoga hari ini sembuh dong, yuk yaaaa...yuuk cepet sehat. Cepet mandi terus ke kampus. Lah kapan istirahatnya? Akakakaka... harus mengejar Armantono nih ik. Come on warrior!!!!!!! Ik merasa hampir gilaaaaaaaaaaaaa aaaaaaaaghhhhhhhhhhhhhhh lontooooooooooooong please, please, ik mau lulus semester ini. Please sehat wal afiat, dan sexy walafeksi... (gila)