20 Juli hari Minggu aku berangkat dalam keadaan sakit. Sabtu nya latihan untuk karya ku, lanjut latihan kak Davit, abis itu aku ke RS. Premier Bintaro, cek tekanan darah, ke dokter dan tes darah langsung. Sakitnya udah dari recital tapi nggak aku periksa-periksa karena aku pikir cuma kecapean aja. Karena ngga sembuh-sembuh daripada nanti nggak bisa kerja di Jogja jadi aku langsung ke dokter, dan itu untung banget masih dapat kloter terakhir dokter umum.
Minggunya, nyampe Jogja jam 13.30. Baru kali ini work flight dipeseninnya Garuda hahaha biasanya yang murah-murah. Aku itu kan paling takut terbang. Ini sumpah lho smooth...di atas smooth landingnya pun tidak seperti Metromini. Sampe Jogja langsung terjadi miscommunication di mana Berto nyuruh aku langsung ke Prambanan sementara seharusnya langsung ke basecamp, yaitu di sebuah penginapan murah meriah berinisial GM. Di Prambanan pun briefing nya salah lagi, aku disuruh ke Kinara Kinari Restaurant, terus ganti lagi ke Bumi Perkemahan, dan sepanjang miscommunication itu aku JAAAALAAAN KAKI sepanjang Komplek Candi Prambanan itu, siang bolong. Dalam keadaan sakit. Coba kalo lo jadi gue, dendam 5 tahun lo sama orang2 ini.
Setelah itu sampailah gue ke basecamp yang disebut. Tempatnya tuh asri dan adem...gitu. Lalu Mas Ronny yang baik hati inisiatif membelikanku makanan. Dia pesen PHD, dia tanya aku mau apa, aku pilih yg gampang dan cepet aja, tuna Aglio Olio nya PHD. Gue kasih liat ya penampakan si Aglio Olio PHD Jogja ini begitu datang...
Wakakakak anyiing kaga ada penampilan PHD PHD nya sama sekali. Pake stereofoam dan dan dialasin kertas pangsit. Rasanya? Jangan sedih, manis!! Pizza nya Mas Ronny? Berikut penampakannya
Bahkan ga ada tulisan atau logo PHD di karton pembungkusnya. Gue curiga yang melayani kita itu PHD Cabang Gunung Kidul 🤣. Kerja rodi gue, asli. Dateng, langsung buka laptop mengedit biodata Juri. Lalu abis maghrib, langsung jalan ke Prambanan lagi meliput Pembukaan Acara. Disitulah di mana gue liat Mas-mas panitia inti ini mandi, ganti baju batik yang bagus bahkan sempet mau pinjem setrikaan gue, sementara gue dengan kaos dan jeans yang sama yang udah banjir keringet bau matahari. Iya, oke sip. Gue ditagih 3 artikel selesai malam itu. Artikel wawancara peserta, artikel acara pembukaan, dan satu lg tentang kedatangan peserta. Gue cuma bilang "Give me my room."
Cerita sedikit di malam pertama ini. Walaupun jujur gue mau nangis KARENA EMOSI SOAL KAMAR YANG GAK DIURUSIN, pas nyanyi Indonesia Raya 4 Stanza bersama anak-anak muda dari 24 Provinsi itu gue merinding sih, asli. Gue belum pernah berkumpul sama perwakilan hampir dari seluruh Indonesia kayak gitu. Dan kita nyanyinya outdoor, malam-malam di bawah langit Prambanan. Itu perlu gue syukuri. Gak rugi-rugi amat sakit-sakit gitu ke Prambanan. Antara merinding haru sama menggigil demam sih 😀. Terus, saat gue (yang introvert ini), mendekati salah satu peserta dan meminta wawancara, menyalakan recorder hp, itu juga gue feel alive! Jiwa jurnalistik gue itu emang terkubur dalam tapi selalu ada. Waktu gue merasa ecstatic itu gue sampe kaget loh, kenapa sih kok gue seneng banget wawancara doang. Karena udah lama nyet! Waktu SMA gue hobi banget mewawancarai berbagai narasumber untuk tulisan mading atau paper sekolah.
Singkat cerita, akhirnya gue sendiri lah yang ngurus soal kamar hotel itu. Nyari Ibu ini, disuruh ke Ibu itu, dan setelah rangkaian Ibu-Ibu, disebutlah kalimat ini: "Oooh maaf Mbak, nama Mbak itu di Hotel Poeri Devata, bukan di GM". Ternyata gue terpisah dari geng website...Ga masalah, malah enak kayaknya, nggak direcokin mereka.
Nah, sampailah kita pada cerita utama blog post ini. Jam setengah dua belas malam, aku baru sampai di hotel yang akan jadi rumah sementara selama 4 hari berikutnya. Sampai di lobbynya, terlihat hotel nya itu nice loh, jauh dari kesan "sederhana". Cenderung mewah hotel ini. Ditambah dinginnya area Prambanan, hotel ini bisa jadi destinasi wisata selanjutnya. Aku duduk tergeletak di lobby, dengan koper, tas laptop, dan tas ransel. "Mas, saya bisa masuk kamar sekarang?" "Tapi kuncinya dibawa tamu yang sekamar dengan Mbak," jawab si resepsionis. Oh my God, aku udah nahan pipis berjam-jam karena gak mau pipis di candi. "Masa ngga ada kunci cadangan Mas?" Si Mas tampak enggan, sempat bilang "nggak bisa" tapi akhirnya bisa (lho?gimana sih?) akhirnya aku diantar ke kamar no.2
Saat diantar itu, suasananya agak berubah ya sis, karena aku melewati pepohonan gelap gitu dan ternyata ini hotel cottage di mana setiap kamar itu terpisah jauh dari kamar lainnya kayak rumah-rumah gitu. Bunyi jangkrik terdengar keras, ga ada ada suara kendaraan lewat karena memang sudah jam 23.30 dan ini di pedesaan bukan di kota. Sampailah aku ke depan cottage no.2. Tau apa apa yang aneh? Aku mendengar suara gamelan. Itu fix aneh. Mencoba berbaik sangka oh ini gamelan di Prambanan, tapi inget sejak langit mulai gelap sudah tidak ada bunyi gamelan. Dan ini pun suaranya walau sayup tapi dekat, kayak di teras.
Teras dan dalam kamar gelap gulita. Mas nya udah mau nyelonong pergi aja. "Mas, mas, ini nyalain dulu lampunya," ujar gadis Tangerang Selatan yang ketakutan. Mas nya masuk dan nyalain lampu.
Begitu aku liat kamar itu dalam keadaan terang, perasaanku makin ngga enak. Suasananya kok suram banget dah. Lampunya kuning menyinari atapnya yang gaya anyaman-anyaman gitu. Oke aku masih bisa mengendalikan perasaan. Aku kan kebelet pipis ya, pas aku buka pintu kamar mandi, asliiiiii memoriku kayak dikocok-kocok. Motif lantainya sama persis dengan motif lantai di hotel Eyangku yang emang Dunia Lain banget. Ok fix mistis ini business trip, mistis! You boleh ngerasa aku lebay tapi tepat motif lantai itu yang mengurungkan niatku pipis. Aku duduk terpaku di kasur. Apa yang terjadi selanjutnya? Cermin yang besar dan berat di dinding sampingku bergoyang-goyang seperti ketiup angin, pelan. Ok FINE. FINE malam pertamaku di Jogja, fine. Aku berusaha nyalain AC nggak bisa. Aku pun menelepon lobby (dan mereka ga punya telepon kamar ya, jadi aku google dulu kontak hotel dan nelpon pake data). Datanglah kang servis. Asli di situ gue bahagia ada orang lain di kamar. Pas AC nya akhirnya bisa nyala huuuuu dia harus pergi :((
Aku kembali duduk tegang di kasur, memandang koper yang sudah terbuka di kasur sebelah, berusaha menenangkan diri bahwa sebentar lagi teman sekamarku akan datang. Sampai hampir jam 1 pagi dia belum datang. Aku sampai ke meja lihat name tag teman yang tak kunjung datang ini. Aubrey. Wartawan. Hadehh...pasti dugem nih ni anak, pikirku. Dan aku ngomong2 sendiri "Pulang woi pulang!!"
Di saat aku duduk tegang di kasur, pintu kamar diketuk. tok tok tok. "Masuk aja!" jawabku, teriak. Perempuan yang gak kukenal itupun langsung ketawa ngelihat muka tegangku. Sial! Dia pun langsung tau kalau aku udah mati ketakutan di kamar itu dan dia bilang bayangin, dia udah semalam duluan di kamar itu tanpa teman. Kita pun hore hore akhirnya ada teman di kamar. LOL perkenalan yang aneh.
Kami setuju untuk tidur tanpa mematikan lampu. Bahkan TV kami nyalakan dalam usaha menghalau frekuensi hantu. Tapi waktu udah bener-bener ngantuk dan si Aubrey udah tidur, aku matiin TV karena ga bisa tidur. Dengan lampu nyala aja struggle banget aku tidurnya.
![]() |
| penampakan kamar mandi yg semi outdoor |
Suasana resto nya tuh jadul kayak 90an awal atau akhir 80an didominasi warna hijau, tentunya dengan kain alas meja yang sangat outdated. Begitu pula dengan tempat makannya yg di buffet. Ini bukan sebuah keluhan ya, aku tuh suka memperhatikan hal-hal otentik kayak gini yang justru membuat aku bener-bener merasa sedang nggak di Jakarta :D Masa roti tawarnya tuh mereka geletakin aja di dalam tempat roti yang jadul banget. Menu sarapannya dalam satu meja buffet: roti tawar, selai strawberry, butter, mie goreng yang ga ada rasanya, baru di hari-hari berikutnya ada bubur ayam (dan enak!), juga bubur kacang hijau lengkap dengan ketan hitam dan santan terpisah.
Aku selalu pilih tempat duduk di pojok dekat dinding pembatas. Jadi ruang makannya tuh semi outdoor juga, letaknya di lantai 2. Dari meja makanku bisa lihat ke bawah, pemandangannya kolam renang hotel yang....spooky :))
Keesokan harinya, waktu aku ngambil orange juice di buffet minuman, pas aku mendongak ke atas, lukisan tokoh ratu pantai selatan. Astaga nyengir gue, nyengir merinding. Yawlo kenapa gak gambar apel atau lukisan empat sehat lima sempurna sih.
![]() |
| pemandangan dari kursi makanku yg mepet lukisan |
Perlu diketahui bahwa aku ngga berani balik ke hotel sebelum Aubrey nyampe dan begitu pula sebaliknya. Jadi kami tuker-tukeran no.WA dalam survival context :D Nah si Aubrey tuh enak, pulangnya sama tim nya, sementara aku pulangnya sendiri. Iya, iya aku jalan kaki sendiri dari Bumi Perkemahan Prambanan ke hotel ngelewatin jembatan yang bawahnya sungai. Alhamdulillah ni sampai saat ini masih selamat gak ada yg begal di jalan. Sebenarnya indah lho jalan tengah malam di jalan raya yang lebar tapi sepi, dan sungainya ini bukan sungai yg kayak selokan gitu ya, ini sungainya besaaarr, airnya deras dan indah. Eksotis deh, beneran. Apalagi bulan sedang Purnama penuh. Tapi untuk menikmati itu lo perlu menghadapi kengerian jalan sendirian di sana.
Oke di malam kedua pas begadang ngerjain tulisan, si Aubrey udah tidur gitu. Terus aku lihat bayangan lalu lalang di kamar, nggak abis-abis mereka seliwerannya. Dalam keadaan kayak gitu, kalo kamu jadi aku, berani nggak pipis? Nggak berani kan wkwkwk. Yang aku lakukan adalah WA Nique. "Niq doain aku niq" You tau kenapa? Aku sudah berusaha tenang dan nggak takut. Di rumahku di Malang pun sering bayangan seliweran. Tapi mereka nggak nyerah untuk gangguin aku. Muka sampai bahu ku panas sebelah doang. Oke, usaha banget ni kayaknya dedemit buat masukin w. Aku pun langsung WA sahabatku yang merupakan spesies ikan kerapu, yaitu Nique di Jakarta. Itu kira-kira jam setengah 2 pagi gitu. Aku cuma bilang Niq doain aku niq, doain aku. Dia nawarin untuk video call. Tentu tidak kutolak. Di sini aku merasa memang si ikan kerapu ini sungguh spesial di dalam kehidupanku, bener-bener a friend in need. Walau dia marah-marah aku bawa hp ke kamar mandi untuk dia nemenin aku pipis. Terus yang malesin adalah dia minta aku liatin seisi kamar via video call itu, untuk melihat aura kamarnya. Hhhh dasar mamaloreng, secara dia emang suka pake animal prints gitu kan kaos kakinya. Setelah aku liatin dia ngangguk-ngangguk katanya iya emang banyak. Banyak ape Ijah? Banyak oksigen?!




Comments