Dulu ketika merantau dan tinggal sendiri di kos sambil menjalani perkuliahan,
aku paling benci hari libur. Karena pada hari itu aku hampir tidak berbicara dengan siapapun,
kecuali interaksi dengan Ibu penjual warteg dan mamang-mamang bubur kacang ijo di sebrang kos.
Usiaku 18 tahun. Pada saat itu, mungkin teman-temanku yang lain menghabiskan waktu bersama. Di rumah kos mereka, atau dengan teman sepermainan semasa SMA. Asyiknya jadi orang lokal Jakarta. Aku tidak akrab dengan banyak orang. Hari libur seperti ini,teman-temanku berada di rumah mereka yang jauh sekali dari kampus. Mereka sepantasnya menikmati hari dimana mereka tidak perlu berdesakan di dalam angkutan umum berjuang untuk mendarat di Jakarta Pusat.
Aku lebih rela balapan memakai kamar mandi, panik kehabisan BH kering, lalu grusa grusu memasukkan buku kuliah ke dalam tas sambil was-was kalau telepon genggamku tertinggal di kamar; kurang tidur dan menahan bosan di kelas-kelas mata kuliah dasar, aku rela! Daripada harus menjalani hari Minggu yang lengang, menghadapi empat sisi tembok kamar berwarna putih . Kuberitahu kau, sepi itu nyeri.
Dalam keadaan seperti ini, jika berada di kampung halamanku pastilah aku sudah beli tiket nonton di bioskop, lalu nongkrong di cafe favoritku. Tapi aku tidak punya uang sebanyak itu di sini. Untuk beli rokok sebungkus saja berarti aku sudah ikhlas tidak makan malam. Makan adalah hal terakhir dalam pikiranku.
Uang untuk makan seringnya terpakai di warnet (iya, tidak ada akses internet di kos apalagi di telepon genggam Siemens C55) atau untuk naik kopaja ke tempat-tempat acak yang dilewati bus itu, sekedar untuk melarikan diri dari sepi. Di warnet agendaku adalah lihat notifikasi Friendster, berharap ada teman yang online di Yahoo! Messenger, dan membalas email jika perlu. Segala hal yang santai. Tapi tidak jarang di tengah kegiatan main-main itu aku justru berderai air mata. Sekedar "apa kabar?" dari sahabat di kampung bisa membuatku menangis. Bingung harus menjawab "Baik" atau menceritakan sebenar-benarnya bagaimana aku hidup di sini dan biar mereka yang menentukan apakah itu "baik" atau "baiknya disudahi saja". Banyak email yang tidak jadi kukirim, mempertimbangkan bahwa orang tidak perlu tahu emosi yang pekat di hari Minggu, atau bagaimana aku melewati setiap hari ketika aku sendiri di kamar. Mungkin, itulah pertama kalinya aku menangis sampai tenggorokanku sakit. Karena berusaha tidak terisak, sebab di sini tidak ada privacy. Komputer saling berhadap-hadapan, dan terkadang yang di depan mengenaliku karena satu kampus.
Kesepian justru tidak membuatku mudah didekati orang. Pernah aku sampai bersembunyi di perpustakaan karena seorang kakak senior mengikutiku terus ingin kenalan "lebih jauh". Aku tidak menikmati diperlakukan seperti objek yang kau bersiul ketika aku lewat, kau puji lalu teman-temanmu tertawa, dan kau tanya-tanyai aku dengan jawaban yang sebenarnya tidak ingin kau tahu. Kau cuma mau secara instan aku jadi nyaman berada di dekatmu. Itu saja, aku tahu. Aku bukan satu-satunya yang mengalami ini, dan aku lihat perempuan-perempuan yang lain itu memang dalam sekejap jadi akrab dengan bullynya. Ya, kau tidak setuju bahwa itu tindakan bully, bukan? Mereka menyukaiku, tapi aku justru merasa cara mereka mengekspresikan suka itu layaknya bullying.
Setahun kemudian aku melewatkan hari Minggu dengan pacar. Aku jadi tahu nyamannya tidak berada sendirian sepanjang hari. Aku jadi tahu rasanya bisa mengungkapkan ide spontan yang tercetus di kepalaku saat itu juga, atau mendengarkan orang bercerita tentang apa yang ia tinggalkan demi berada di Jakarta. Lalu aku berasumsi mungkin rasa sepi itu efek dari meninggalkan kebiasaan. Orang-orang yang biasa kita lihat atau kenyamanan yang biasa kita nikmati. Ya, mungkin rasa sepi itu adalah efek normal dari adaptasi. Lalu masa keterhubungan dalam berpacaran ini ternyata ada tanggal kedaluwarsanya. Berpacaran tidak lantas membuatmu belahan jiwanya. Ketika aku merasa semakin tidak terhubung dengannya, ketika kami bersama pun rasa sepi itu datang. Oh, mungkin ini SEPI TIPE KE-3. Saat itu baru kurasakan kita bisa berdekatan dengan orang yang kita kenal akrab, tapi rasanya seperti tidak ada siapapun. Sepi jenis terbaru ini ternyata tidak kalah nyerinya dengan ketika aku menahan luapan emosi di warnet beberapa tahun yang lalu. Dalam usaha menyembuhkan diri kuputuskan kembali ke sepetak kamar berdinding putih. Sendiri -- keadaan yang kurasa aku sudah lulus uji. Pada masa ini belajar satu hal baru tentang diriku. Bahwa perasaan marah, kecewa, yang tidak enak lainnya itu bisa kuatasi dengan lebih baik daripada rasa sepi.
Pada masa itu aku sudah punya lingkaran pertemanan yang bisa kuhubungi ketika tidak ingin sendirian. Aku berpesta hampir setiap malam. Lalu di sini aku belajar hal baru lagi, bahwa dalam keadaan mabuk pun aku bisa merasa...ANJING! Sepi ini tidak tenggelam oleh alkohol, dia bisa berenang! Dia adalah rasa sakit yang tidak tertandingi oleh luka fisik, tidak kalah nyaring dari suara musik volume maksimal, pula tidak terlalu lama teralihkan oleh marathon film yang kulahap dengan rakusnya atau buku-buku yang kubeli dengan bangganya dari Aksara Kemang. Lalu kuputuskan mungkin sepi itu tidak di otak -- tidak diproduksi di cortex maupun amigdala. Aku tidak tahu di mana pabriknya.
Di usia 20 tahun pernah kutulis:
Tidak ada yang lebih meriah dari sepi.
Ia adalah sebuah pesta dengan suara yang
paling riuh,
Di mana kau jadi raja.
Jika kau tidak punya waktu untuk datang ke pestanya,
Dia yang akan datang dan merayakan kemenangannya
di hatimu
Di usia 20 tahun pernah kutulis:
Tidak ada yang lebih meriah dari sepi.
Ia adalah sebuah pesta dengan suara yang
paling riuh,
Di mana kau jadi raja.
Jika kau tidak punya waktu untuk datang ke pestanya,
Dia yang akan datang dan merayakan kemenangannya
di hatimu

Comments
Bingung mau komentar apa
Tapi. Asik .. Asiikk ..