Skip to main content

Sedikit Di Atas Permukaan Air

Dulu ketika baru menjejak masuk usia 20an, apapun yang dikatakan orang padaku aku percaya. Bukan percaya bahwa yang dikatakan itu benar, tapi percaya bahwa mereka mengatakan hal itu karena suatu alasan yang natural -- keceplosan, misalnya, atau mereka merasa aku perlu tahu hal itu, dan bahwa mereka benar-benar berpikir demikian.
Contohnya, ketika aku pertama kali kerja kantoran, sebagai penulis di sebuah advertising agency. Project Manager yang saat itu posisinya di atasku namun notabene ia adalah teman makan siangku,
tiba-tiba menyampaikan bocoran yang membuatku seperti dihanguskan petir. Kata Bos, tulisanku jelek. Tidak berbakat jadi penulis iklan, dan yang paling sedih aku dibandingkan dengan temanku yang sesama karyawan baru.

Untungnya, sakit hatiku masih bisa kutahan, karena toh yang ngomong Bos. Bolehlah dia melihat seperti itu. Tapi anehnya, koordinator konten yang persis menjadi pembimbing dan pintu utama tulisanku sebelum tulisan itu bisa diunggah -- tidak pernah sekalipun mengeluhkan hal itu. Malah dia sangat memyambut positif tulisan-tulisan itu, dan aku juga tetap akrab dan gayeng dengan sesama penulis yang dibilang lebih cerdas itu.
Mungkin juga karena sikap supervisorku yang baik, aku tidak merasa perlu 'ngambek' dan juga tidak menyangkal pandangan bahwa aku kurang berbakat di iklan. Mungkin juga benar. Tidak masalah, namanya juga masih masa percobaan. Paling-paling nggak perpanjang kontrak.

Ternyata, setelah masa probation habis, aku tetap dibutuhkan di perusahaan itu dan bahkan aku memegang klien-klien luar negeri. Dari sederet penulis di kantor itu, hanya aku dan temanku itulah
yang dipercaya memegang konten berbahasa Inggris. Lalu di kesempatan makan siang yang lain, aku lagi-lagi mendengar cerita yang membuatku merasa disambar geledek.
Teman penulisku ini cerita, bahwa pada masa probation yang lalu, dia mendengar kalau menurut bos dia tidak berbakat, dan kemampuannya jauh di bawahku.
Wah, setan alas. Aku pun menceritakan hal yang sama padanya. Merasa dipermainkan, temanku itu naik darah dan langsung merencanakan resign dalam waktu dekat. Yah, waktu itu kami sama-sama umur 20an awal. Sementara aku merasa ini lucu, dan tetap bertahan di perusahaan itu hingga akhirnya memang aku harus keluar karena pindah rumah sehingga jarak ke kantor terlalu jauh dan mahal.
Aku selalu percaya apa yang kau katakan padaku, bahwa memang itu terjadi -- setidaknya terjadi di pikiranmu. Dan lalu terkadang aku merasa kacau karena opini-opini itu. Katanya si ini, kamu begitu.
Namun lambat laun, karena berulangnya pengalaman yang berbeda-beda namun memberi titik terang yang sama, kini aku selalu bertanya pada diriku sendiri ketika mendengar cerita orang: "Kenapa dia harus cerita kepadaku?" "Perlunya apa aku tahu hal itu?"
Kadang, walau cerita itu bukan sebuah kebohongan, tapi tidak perlu kamu mengetahuinya. Sekalipun itu tentang kamu. Karena jika kamu cukup sabar dalam mendengar cerita itu, dan tidak terbawa emosi, maka kamu bisa menemukan motif di balik peristiwa pewartaan itu. Si pencerita sedang memproyeksikan perasaannya padamu. Dia punya cerita sendiri yang membuatnya merasa kacau, lalu ia membagikan cerita yang akan membuatmu merasa kacau juga -- karena merasa kacau bersama terasa lebih adil daripada menderita sendirian, bukan?
Tapi, ya, aku paham, tidak mudah tetap berpikir tenang ketika mendengar kamu dijelek-jelekkan oleh orang yang kamu percaya, yang kamu kasihi, atau yang kamu bantu! Tapi sekali lagi, kan kamu tidak mendengar langsung dari mulutnya. Maka anggap saja itu fiksi. Fiksi bukan berarti bohong, tapi "toh tidak kamu alami" sehingga yang tadi itu mungkin semacam mimpi. Impian orang lain agar kamu merasa begini dan begitu.
Wah, untung saat itu aku terima aja dibilang gak berbakat sama bos. Karena saat itu yang penting terima gaji bulanan. Tapi ternyata kalimat "tidak berbakat" itu digunakan bos untuk memicu daya saing para karyawannya.
Pada dasarnya aku orang yang mudah percaya pada cerita. Kini, ketika aku punya filter baru ini, memang cerita tidak senikmat dulu. Kini semuanya terdengar seperti narasi-narasi yang berkepentingan. Kadang kepentingan itu tidak disadari oleh penceritanya sendiri. Dan filter ini tidak pilih kasih. Yang enak didengar maupun yang menghujam hati, keduanya terasa seperti narasi -- di mana aku bisa membalik kertas ke halaman berikutnya, dan setiap hari kita mulai dengan realita yang baru lagi.
Kemarin aku disebut pecundang, esok kau bilang aku pemenang.
Tapi aku sedikit di atas permukaan air, di mana pecundang dan pemenang keduanya hanya sementara bagiku.

Comments

riskikibo said…
"Sedikit Di Atas Permukaan Air".
bagi lagi dong tulisannya. saya suka baca tulisannya.
saya sudah baca semua tulisan di 2019. kecuali yang tulisan inggris.
Wah senangnya ada yang baca tulisan-tulisanku. Terima kasih sudah menikmatinya, riskikibo. Salam kenal :)
riskikibo said…
saya juga senang.

tulisannya di blog ny mana lagi
forever aozora
riskikibo said…
mana lagi ni tulisannya ceritanya !!!

Popular posts from this blog

It Has Been A Lot!

Wow, where should I start? So my comeback to dance class after a month break (sebulan aje dibahas...gimana lebih? Udah jadi buku keleus :D) had been a wild ride. Right away rehearsal for a performance and coordinating an event at the same time. Berto gave me this job from IDF, where I worked as P.I.C for Dance Writing Workshop. My girl IKAN said why am I taking the job if I am so busy? The answer is clear: I need to pay college. Ikan said she can just lend me money and I can focus on my thesis. God, bless this human that is my best friend. That's very kind and thoughtful of her. Anyway, I took the job so I was running 2 events at the same time. One in Cikini, Central Jakarta and one in SOM, South Tangerang. I became an adept Commuter Line user. I no longer mistaken peron 1 with peron 2 and silly things like that, like not knowing which gate I should enter after scanning my card to enter the peron. Duh. Duh 100x. I wasn't particularly on diet but I really didn't want to ea...

What is happiness? It sounds like a snack.

I would, like usually, open this post by saying "Things are crazy". Yes, I don't know are things really crazy or is it just me. I think it's the latter. Life appears as surprises to me. And I act like a door, opening this tunnel, closing another one. I don't feel dull, and I can't say my days have been dull for they are full with challenges. But I have been so alone. This also sounds weird. Since when that I'm not alone? I always pull myself back from any social event. I hang out alone. I guess the last time I had a good time outside the house/office/campus with another human being was the last Saturday in January, so it's a month ago. It is true that if I just ask, I will get people willing to go with me. But I am the pickiest picky pick ever because most of the times when I don't pick, I get bored with dull conversations, or a view of someone watching his/her phone like there's nothing else to see. So all this time I hang out alone. Mos...

sehat

Aku masih sakit, nih, blog.. padahal besok udah hari Kamis, harus bekerja di Pingu's. Semoga hari ini sembuh dong, yuk yaaaa...yuuk cepet sehat. Cepet mandi terus ke kampus. Lah kapan istirahatnya? Akakakaka... harus mengejar Armantono nih ik. Come on warrior!!!!!!! Ik merasa hampir gilaaaaaaaaaaaaa aaaaaaaaghhhhhhhhhhhhhhh lontooooooooooooong please, please, ik mau lulus semester ini. Please sehat wal afiat, dan sexy walafeksi... (gila)