Aku bertekad untuk menyelesaikan blog post ini dalam sekali duduk. Sudah cukup aku banyak ter-distract dan berakhir dengan postingan-postingan yang sebenarnya belum selesai. Hufft. Semoga aku berhasil!
Januari - Maret melewati masa depresi mungkin salah satu yang terparah dalam hidup. I really thought of killing myself. Bluntly saying this. This can't be said in Instagram, right? Mungkin perasaan yang sangat tajam menyakitkan itu bisa diredakan dengan menyayat tangan seperti yang biasa aku lakukan waktu SMA (sekali lagi, this can't be shared just anywhere I want, right?) tapi aku mengendalikan diriku untuk nggak kembali ke situ. Antara dua sih alasannya. Satu, masa nggak berubah-berubah dari SMA? Kedua, kali ini mungkin aku akan menyayat cukup dalam sampe mati dan bukan cuma sampe berdarah. Wow I feel relieved writing this. I felt my life has no point. There's no point in existing. Can you imagine during those times aku tetap berangkat kerja, ngajar anak kecil, nari, like a high functioning zombie. I just wanted to die. Kehilangan sahabat yang udah sahabatan selama belasan tahun itu membuat gue ngerasa hubungan antar manusia itu juga random, there's no point. Kalian saling menguatkan selama rentang waktu yang segitu lamanya, kemudian lo atau dia bisa tiba-tiba nggak peduli lagi. Terus kenapa awalnya kami harus bertemu ya? I told him that I was about to kill myself and he said I should have told that to someone else.
Suatu sore di Sehidup Sekopi, emosi negatif yang kuat banget menyerang. Aku bener-bener ngga bisa mikir, jangankan berpikir jernih, berpikir aja aku ga bisa!!! Realita tiba-tiba terasa kayak suara gaduh. Hidup ini adalah suara gaduh dan aku ingin menekan tombol mute. Yang kulakukan saat itu adalah aku buka buku catatanku, di mana aku pernah mencatat sebuah ayat Al-Quran. Aku lupa ya yang mana, pokoknya langsung aku baca berulang kali aja itu sebaris ayat. Bener, langsung mendingan. Terus aku WA Nique, tanya dia di mana. Aku ke rumah dia yang memang nggak jauh dari Sekopi. Jangan bunuh diri, katanya. Aku cerita sama dia karena aku yakin dia tau rasanya. Kalau dia lebih sering ke mau bunuh orang sih heheheh. Mungkin tiap hari Minggu di mana aku ada di dalam kelas Lyrical Contemporary itu aku merasa lebih baik. Aku konsen belajar, mengerahkan seluruh energi untuk tau cara melakukan ini dan itu -- so it's true, dance is some kind of painkiller for me. It is not a hobby. I cursed that person who triggered my depression. I wished he rot in hell, I wished he went on the worst relationship with his current gf.
Tapi kata Nique, perasaan itu jangan di-judge. Biar dia datang dan pergi. Jangan jadi benci cinta karena it turns bad. Cinta itu bukan lo yang punya kok, lo cuma dikasih rasa aja dikit sama Yang Maha Mencintai. Subhanallah sahabatku itu kok pintar banget ya.
Aku nulis ini di instagram, terinspirasi dari kata-kata sahabatku itu. Lalu selama Februari-Maret itu aku tergila-gila satu album dari band St.South yang "Nervous Energy". Musiknya ringan banget tapi liriknya itu peteng dedet kalo kata orang Jawa, gelap gulita :D :D
Februari-Maret itu aku dan Heidy bikin karya, waktu itu ditawarin presentasi di JDMU, akhirnya ga jadi. Tapi kita udah proses cukup lama, dari Desember 2017 bahkan. SOM meminjamkan studio untuk kami latihan. Di situ aku banyak eksplor-eksplor sendiri yang sangat terasa meredakan perasaan berat yang cuma mendorong agar aku segera mati aja. Walaupun ga jadi pentas itu sama sekali ga masalah. Proses "Bloom" (judul karyaku waktu itu, rencananya) adalah sesuatu yang lain buatku, lebih dari sekedar mempersiapkan pentas, dan lebih dari sekedar nari-nari ga jelas. Makasih ya kalian, guru-guru yang memberi kesempatan itu padaku.
April aku tergabung dalam 10 murid SOM yang diajakin nari di Semmy Blank Dance Session. Ada 3 piece, dan aku disuruh nari tiga-tiganya :( :(
Hanya aku dan Savi yang nari tiga-tiganya. Di sini aku tidak hepi. Latihan SBDS masih berlangsung, Kak Davit nambahin lagi, latihan buat JDC. Ini kembali memasuki masa-masa stress dunia akhirat. Tapi di masa-masa ini aku jadi berteman baik sama Savi. Tiap pulang latihan kita makan di luar, ngerokok, memaki-maki keadaan ini wkwkwkw. Masa-masa SBDS dan JDC ini kayak tai sih. Mau pecah otak dan badan ini. Dimarah-marahin, disalah-salahin, terutama gue. Suer gue melihat jelas, kalau ke murid lain itu guruku masih ada nahan-nahannya mau marah, kalo sama aku rem blong. Entah itu hal untuk disyukuri atau ditangisi, agak bikin dendam sih. Di sini semakin besar keinginanku untuk menunjukkan suatu saat nanti aku bisa lebih bagus dan nggak eligible untuk dimarah-marahin. Jadi aku tetap bersyukur untuk pengalaman pecah palak di bulan April ini. Keberuntungan lainnya dari proses SBDS lanjut JDC ini adalah jadi kurusan banyak. Walaupun masih gelambir karena gak olahraga, cuma kecapean sama jarang makan nasi, seringnya makan ati. Tidak lupa menyebutkan, bahwa latihan SBDS ini berlangsung bersamaan dengan latihan JDC, JDMU yang nggak jadi itu, dan latihan Recital juga sudah dimulai.
Mei masuk bulan puasa. Nah bulan Mei ini banyak yang terjadi. Mao ze dong kucingku yang lucu, nakal, dan ngongok itu pergi dan tak kembali. Dia pernah hilang paling lama itu dua atau tiga hari. Ini dari belum masuk Ramadhan dia pergi, dan kira-kira tiga minggu ga kembali. Aku bermalam-malam jalan kaki di sekitar rumah, manggilin Mao. Kucingku yang lebih kecil, si Lilik juga kelihatan kangen sama kokonya. (Aku orang Jawa tapi kucing-kucingku kudaulat jadi orang Teng Lang semua. Eh bukan orang, maksudnya kucing Teng Lang). Ayah yang kerja di Palembang aja nelpon, bilang sudahlah anggap saja Mao itu sudah mati. Aku nggak mau. Aku merasa Mao masih hidup. Aku yakin. Melihat survival skill dan track record Mao ze dong selama ini. Mamaku aja sampe mau jalan nelusurin kampung lho bacari akan Mao Ze Dong ini. Aku disamperin sama cowok sekitar rumah, kayaknya orang kantor deket rumah (ada kantor ilegal dkt rumahku), dia nanya aku cari apa, kutunjukkan lah foto Mao. Dia bilang mau bantu cari dan dia minta no.ku nanti dia kabarin kalau liat. Aku udh prasangka dia modus doang nih tapi aku kasih. Suatu malam dia W bilang lihat Mao. Aku buru2 keluar. Emang semua ciri2 hampir sama tapi itu bukan Mao. Walau begitu aku appreciate berarti cowo ini beneran bantu nyari Mao bukan modus doang. Nah sejak malam itu, dia WA gue dong...nanya-nanya yang ga penting, menyapa lagi ngapain, dll. Gue balas "Maaf Mas saya tidak tertarik untuk chat saya sedang sedih kehilangan kucing saya."
Januari - Maret melewati masa depresi mungkin salah satu yang terparah dalam hidup. I really thought of killing myself. Bluntly saying this. This can't be said in Instagram, right? Mungkin perasaan yang sangat tajam menyakitkan itu bisa diredakan dengan menyayat tangan seperti yang biasa aku lakukan waktu SMA (sekali lagi, this can't be shared just anywhere I want, right?) tapi aku mengendalikan diriku untuk nggak kembali ke situ. Antara dua sih alasannya. Satu, masa nggak berubah-berubah dari SMA? Kedua, kali ini mungkin aku akan menyayat cukup dalam sampe mati dan bukan cuma sampe berdarah. Wow I feel relieved writing this. I felt my life has no point. There's no point in existing. Can you imagine during those times aku tetap berangkat kerja, ngajar anak kecil, nari, like a high functioning zombie. I just wanted to die. Kehilangan sahabat yang udah sahabatan selama belasan tahun itu membuat gue ngerasa hubungan antar manusia itu juga random, there's no point. Kalian saling menguatkan selama rentang waktu yang segitu lamanya, kemudian lo atau dia bisa tiba-tiba nggak peduli lagi. Terus kenapa awalnya kami harus bertemu ya? I told him that I was about to kill myself and he said I should have told that to someone else.
Suatu sore di Sehidup Sekopi, emosi negatif yang kuat banget menyerang. Aku bener-bener ngga bisa mikir, jangankan berpikir jernih, berpikir aja aku ga bisa!!! Realita tiba-tiba terasa kayak suara gaduh. Hidup ini adalah suara gaduh dan aku ingin menekan tombol mute. Yang kulakukan saat itu adalah aku buka buku catatanku, di mana aku pernah mencatat sebuah ayat Al-Quran. Aku lupa ya yang mana, pokoknya langsung aku baca berulang kali aja itu sebaris ayat. Bener, langsung mendingan. Terus aku WA Nique, tanya dia di mana. Aku ke rumah dia yang memang nggak jauh dari Sekopi. Jangan bunuh diri, katanya. Aku cerita sama dia karena aku yakin dia tau rasanya. Kalau dia lebih sering ke mau bunuh orang sih heheheh. Mungkin tiap hari Minggu di mana aku ada di dalam kelas Lyrical Contemporary itu aku merasa lebih baik. Aku konsen belajar, mengerahkan seluruh energi untuk tau cara melakukan ini dan itu -- so it's true, dance is some kind of painkiller for me. It is not a hobby. I cursed that person who triggered my depression. I wished he rot in hell, I wished he went on the worst relationship with his current gf.
Tapi kata Nique, perasaan itu jangan di-judge. Biar dia datang dan pergi. Jangan jadi benci cinta karena it turns bad. Cinta itu bukan lo yang punya kok, lo cuma dikasih rasa aja dikit sama Yang Maha Mencintai. Subhanallah sahabatku itu kok pintar banget ya.
Aku nulis ini di instagram, terinspirasi dari kata-kata sahabatku itu. Lalu selama Februari-Maret itu aku tergila-gila satu album dari band St.South yang "Nervous Energy". Musiknya ringan banget tapi liriknya itu peteng dedet kalo kata orang Jawa, gelap gulita :D :D
Februari-Maret itu aku dan Heidy bikin karya, waktu itu ditawarin presentasi di JDMU, akhirnya ga jadi. Tapi kita udah proses cukup lama, dari Desember 2017 bahkan. SOM meminjamkan studio untuk kami latihan. Di situ aku banyak eksplor-eksplor sendiri yang sangat terasa meredakan perasaan berat yang cuma mendorong agar aku segera mati aja. Walaupun ga jadi pentas itu sama sekali ga masalah. Proses "Bloom" (judul karyaku waktu itu, rencananya) adalah sesuatu yang lain buatku, lebih dari sekedar mempersiapkan pentas, dan lebih dari sekedar nari-nari ga jelas. Makasih ya kalian, guru-guru yang memberi kesempatan itu padaku.
April aku tergabung dalam 10 murid SOM yang diajakin nari di Semmy Blank Dance Session. Ada 3 piece, dan aku disuruh nari tiga-tiganya :( :(
Hanya aku dan Savi yang nari tiga-tiganya. Di sini aku tidak hepi. Latihan SBDS masih berlangsung, Kak Davit nambahin lagi, latihan buat JDC. Ini kembali memasuki masa-masa stress dunia akhirat. Tapi di masa-masa ini aku jadi berteman baik sama Savi. Tiap pulang latihan kita makan di luar, ngerokok, memaki-maki keadaan ini wkwkwkw. Masa-masa SBDS dan JDC ini kayak tai sih. Mau pecah otak dan badan ini. Dimarah-marahin, disalah-salahin, terutama gue. Suer gue melihat jelas, kalau ke murid lain itu guruku masih ada nahan-nahannya mau marah, kalo sama aku rem blong. Entah itu hal untuk disyukuri atau ditangisi, agak bikin dendam sih. Di sini semakin besar keinginanku untuk menunjukkan suatu saat nanti aku bisa lebih bagus dan nggak eligible untuk dimarah-marahin. Jadi aku tetap bersyukur untuk pengalaman pecah palak di bulan April ini. Keberuntungan lainnya dari proses SBDS lanjut JDC ini adalah jadi kurusan banyak. Walaupun masih gelambir karena gak olahraga, cuma kecapean sama jarang makan nasi, seringnya makan ati. Tidak lupa menyebutkan, bahwa latihan SBDS ini berlangsung bersamaan dengan latihan JDC, JDMU yang nggak jadi itu, dan latihan Recital juga sudah dimulai.
Mei masuk bulan puasa. Nah bulan Mei ini banyak yang terjadi. Mao ze dong kucingku yang lucu, nakal, dan ngongok itu pergi dan tak kembali. Dia pernah hilang paling lama itu dua atau tiga hari. Ini dari belum masuk Ramadhan dia pergi, dan kira-kira tiga minggu ga kembali. Aku bermalam-malam jalan kaki di sekitar rumah, manggilin Mao. Kucingku yang lebih kecil, si Lilik juga kelihatan kangen sama kokonya. (Aku orang Jawa tapi kucing-kucingku kudaulat jadi orang Teng Lang semua. Eh bukan orang, maksudnya kucing Teng Lang). Ayah yang kerja di Palembang aja nelpon, bilang sudahlah anggap saja Mao itu sudah mati. Aku nggak mau. Aku merasa Mao masih hidup. Aku yakin. Melihat survival skill dan track record Mao ze dong selama ini. Mamaku aja sampe mau jalan nelusurin kampung lho bacari akan Mao Ze Dong ini. Aku disamperin sama cowok sekitar rumah, kayaknya orang kantor deket rumah (ada kantor ilegal dkt rumahku), dia nanya aku cari apa, kutunjukkan lah foto Mao. Dia bilang mau bantu cari dan dia minta no.ku nanti dia kabarin kalau liat. Aku udh prasangka dia modus doang nih tapi aku kasih. Suatu malam dia W bilang lihat Mao. Aku buru2 keluar. Emang semua ciri2 hampir sama tapi itu bukan Mao. Walau begitu aku appreciate berarti cowo ini beneran bantu nyari Mao bukan modus doang. Nah sejak malam itu, dia WA gue dong...nanya-nanya yang ga penting, menyapa lagi ngapain, dll. Gue balas "Maaf Mas saya tidak tertarik untuk chat saya sedang sedih kehilangan kucing saya."

Comments