Selasa pagi itu, 9 Oktober 2018 aku bangun dengan nyeri otot luar binasa. Bagaimana tidak, setelah sebulan off dari kelas tari, hari Minggu begitu kembali lagi ke kelas, aku langsung harus menari 5 jam -- 1,5 jam kelas dan sisanya latihan untuk project terdekat di mana guruku ingin aku tergabung di dalamnya (dan aku mau. jadi jangan mengeluh, aozora. aduh, sakitnya.)
Setelah hari Minggu yang bagaikan romusha itu, Senin nya aku tetap bekerja seperti biasa, di antaranya adalah ngajar nari anak kecil (aku sampe keringet dingin saking sakitnya bergerak). Lalu Selasa paginya juga ngajar di Feel Good Space, dan ke kampus STF. Hari itu aku sudah janjian dengan Densiel. Dan aku yang menentukan tempat. Aku mau di Camden, Cikini. Temanku si Densiel bertanya-tanya, kenapa harus di situ, kenapa gak sekedar coffee shop. Jawabannya tentu saja, karena aku ingin minum. Senin malam itu sampai jam 4 pagi tidurku nggak nyenyak karena digigit nyamuk, dan juga otak ku terus bersimulasi, menghadirkan gambar-gambar dan figur-figur ngehek - selayaknya otak Gemini.
Selasa pagi itu datang juga. Kelas di Feel Good yang tadinya mau aku batalin (karena letiiiihh) tetap kujalani karena yang datang partisipan-partisipan favoritku. Ngajar di Snowy tetap dijalani, begitu juga STF. Dalam keadaan kurang tidur dan badan sakit, AGAK GILA aku tetap nekat mau nongkrong di Camden. Agak suicide mission, gitu. Tapi dari keseluruhan hari itu, justru rencana minum bersama teman diskusi kesayangan itulah yang menjadi CHERRY ON TOP. Cherry on the top of hell. The only cherry.
Aku memakai celana jeans, kaus Soekarno M Noor (yang sudah kupakai sejak 2009), dan jaket biru. Sebelum meluncur dari STF ke Camden, Densiel masih membuat tawaran-tawaran tempat lain dengan alasan: "Aku gembel banget loh bajunya" dan "Emang gak rame banget di sana?" Untuk alasan pertama bisa kujawab dengan mudah "Aku juga". Who the fuck cares about dress if you just wanna get drunk? Untuk alasan kedua, aku mengalah. "Oke, ntar kalau rame kita pindah deh."
Kita bertemu di depan TIM, saling excited karena jarang sekali ketemu, lalu kami jalan kaki ke Camden. Aku gembira sekali ketemu penari kesukaanku ini, dan kami akan ngobrol sepuasnya, walau rumah berkilo-kilo meter jaraknya dari area ini. Aku akan kemalaman. Akan kurang lebih membahayakan diri dan mungkin akan semakin kurang tidur. To our surprise, Camden jam setengah 8 malam di area indoor terasa seperti cafe biasa, seperti Murphy's Irish Pub di Kemang lah. Musik tidak terlalu keras, lampu temaram tapi masih cukup terang, dan sepi. Kalau boleh diulang ingatannya, aku ingat saat itu aku gembira, gembira sekali! Rasanya seperti breaking the rules without trying to break the rules. Camden yang harusnya hiruk pikuk, sepi. Yang biasanya nongkrong sendiri untuk sekedar melepas penat, kini sama teman yang paling jarang ditemui. Yang biasanya minum es kopi dan hanya mimpi sambil menahan diri dari alkohol, sekarang -- ya udahlah nggak pa-pa, sekali-sekali!
Sebenarnya kenapa sih nahan-nahan diri kalau emang kepengen dan bisa?
1. Dosa
2. Ga ada temen. Teman-teman nongkrong keseharianku anak baik-baik semua. Suer. Akulah satu-satunya anak setan di lingkungan itu (yah, dalam konteks ini ya)
3. Hemat. Es kopi paling 25rb, long island 125rb (yang bagus ya. Yang pletok ya jangan ditanya)
So I right away ordered this thing called Jack Float. Simple Coca Cola mixed with Jack Daniels and Ice cream. Aku request ice cream nya dipisah, alasannya takut nggak suka. (Padahal sih biar tidak mengurangi tingkat kekuatan Jack D nya hihihi. Es krim itu kan susu. Ngapain minum whiskey pake susu. Mending ke Alfamidi.) Densiel minta dipilihkan. Aku memilihkan dia orange juice. Baik kan, aku? Aku sudah senang dia mau menemaniku mabuk. Sekalipun dia minum OJ, kayak Kak Davit. Tapi dia bilang, "Aku juga mau alkohol".
Oke adek, adek Pink Lady ya, karena warnanya pink dan rasanya manis.
Lalu kita mulai ngobrol. Kalau dia nanya sebenarnya tesisku mau nulis apa, itu emang bikin nafas agak berat ya. Tapi berkat alkohol aku pun bercerita dengan lancar. So I told her, yang membuat aku bertanya-tanya itu, darimana gerakan datang. Hal ini tentu gak perlu dipertanyakan kalau si penari itu hanya meniru apa yang dilihatnya atau yang diajarkan padanya. Tapi gimana jika, di sebuah sesi eksplorasi dia melakukan rangkaian gerak yang juga mengejutkan dirinya sendiri, yang muncul entah dari mana, yang bukan "paketan aman"nya dia. Misalnya, wah itu Rianto banget. Dari mana Rianto mendapatkannya?
Manusia ini kan bertubuh ya. Apalagi kalau dia nari, tentu dia bekerja 90% dengan tubuhnya. Tubuh itu punya otot, organ-organ dalam, dan anatomi. Tapi Deleuze tidak membahas tubuh yang patologis ini (organ, anatomi, tubuh sebagai materi). Deleuze membahas tubuh sebagai kecepatan, berhenti, dan intensitas. Speed, rest, and intensity. Tiga ini adalah elemen tubuh, kapabilitas tubuh. Nah ini cocok dengan penari. Ya masa kita terus-terusan membahas penari dari kakinya yang jenjang atau point-nya yang runcing banget? Kan enggak. Kita bisa merasakan energi yang dihasilkan dari pergerakan si penari. Atau bahkan ketika penari itu diam, kita juga bisa terkena dampak dari diam tersebut. Jadi nari tuh bukan cuma gerak-gerak tak berfaedah LOL.
Semakin malam semakin panjang pembicaraannya, hingga sampai ke soal 'becoming', 'becoming-animal', 'becoming-plant'. Ini yang membuat tari semakin dalam dan menarik. Kembali ke mimpiku yang semrawut, jadi di dalam tidur itu aku berdebat kusir dengan kembaranku.
"Aku nggak bisa tidur nih, banyak nyamuk!"
"Katanya mau bersatu dengan alam, sudahlah terima dunia ini apa adanya."
"Hmm, oke" *menahan gatal dan kebencian terhadap nyamuk*
"Gimana nih aku ingin banget minum alkohol, tapi kan dosa."
"Ya sudah, jangan dipaksakan.."
"Maksudnya?"
"Kalo nggak bisa berselaras dengan Tuhan, ya nggak pa-pa. Kan bisa berselaras dengan se...se.. set..."
Dan aku terbangun karena sadar kalau bentar lagi mimpi itu akan jadi horror. Enci ketawa dengan cerita ini dan dia mengulang kalimat sianjing dalam mimpiku itu, "Berselaras dengan se...se..."
Setelah hari Minggu yang bagaikan romusha itu, Senin nya aku tetap bekerja seperti biasa, di antaranya adalah ngajar nari anak kecil (aku sampe keringet dingin saking sakitnya bergerak). Lalu Selasa paginya juga ngajar di Feel Good Space, dan ke kampus STF. Hari itu aku sudah janjian dengan Densiel. Dan aku yang menentukan tempat. Aku mau di Camden, Cikini. Temanku si Densiel bertanya-tanya, kenapa harus di situ, kenapa gak sekedar coffee shop. Jawabannya tentu saja, karena aku ingin minum. Senin malam itu sampai jam 4 pagi tidurku nggak nyenyak karena digigit nyamuk, dan juga otak ku terus bersimulasi, menghadirkan gambar-gambar dan figur-figur ngehek - selayaknya otak Gemini.
Selasa pagi itu datang juga. Kelas di Feel Good yang tadinya mau aku batalin (karena letiiiihh) tetap kujalani karena yang datang partisipan-partisipan favoritku. Ngajar di Snowy tetap dijalani, begitu juga STF. Dalam keadaan kurang tidur dan badan sakit, AGAK GILA aku tetap nekat mau nongkrong di Camden. Agak suicide mission, gitu. Tapi dari keseluruhan hari itu, justru rencana minum bersama teman diskusi kesayangan itulah yang menjadi CHERRY ON TOP. Cherry on the top of hell. The only cherry.
Aku memakai celana jeans, kaus Soekarno M Noor (yang sudah kupakai sejak 2009), dan jaket biru. Sebelum meluncur dari STF ke Camden, Densiel masih membuat tawaran-tawaran tempat lain dengan alasan: "Aku gembel banget loh bajunya" dan "Emang gak rame banget di sana?" Untuk alasan pertama bisa kujawab dengan mudah "Aku juga". Who the fuck cares about dress if you just wanna get drunk? Untuk alasan kedua, aku mengalah. "Oke, ntar kalau rame kita pindah deh."
Kita bertemu di depan TIM, saling excited karena jarang sekali ketemu, lalu kami jalan kaki ke Camden. Aku gembira sekali ketemu penari kesukaanku ini, dan kami akan ngobrol sepuasnya, walau rumah berkilo-kilo meter jaraknya dari area ini. Aku akan kemalaman. Akan kurang lebih membahayakan diri dan mungkin akan semakin kurang tidur. To our surprise, Camden jam setengah 8 malam di area indoor terasa seperti cafe biasa, seperti Murphy's Irish Pub di Kemang lah. Musik tidak terlalu keras, lampu temaram tapi masih cukup terang, dan sepi. Kalau boleh diulang ingatannya, aku ingat saat itu aku gembira, gembira sekali! Rasanya seperti breaking the rules without trying to break the rules. Camden yang harusnya hiruk pikuk, sepi. Yang biasanya nongkrong sendiri untuk sekedar melepas penat, kini sama teman yang paling jarang ditemui. Yang biasanya minum es kopi dan hanya mimpi sambil menahan diri dari alkohol, sekarang -- ya udahlah nggak pa-pa, sekali-sekali!
Sebenarnya kenapa sih nahan-nahan diri kalau emang kepengen dan bisa?
1. Dosa
2. Ga ada temen. Teman-teman nongkrong keseharianku anak baik-baik semua. Suer. Akulah satu-satunya anak setan di lingkungan itu (yah, dalam konteks ini ya)
3. Hemat. Es kopi paling 25rb, long island 125rb (yang bagus ya. Yang pletok ya jangan ditanya)
So I right away ordered this thing called Jack Float. Simple Coca Cola mixed with Jack Daniels and Ice cream. Aku request ice cream nya dipisah, alasannya takut nggak suka. (Padahal sih biar tidak mengurangi tingkat kekuatan Jack D nya hihihi. Es krim itu kan susu. Ngapain minum whiskey pake susu. Mending ke Alfamidi.) Densiel minta dipilihkan. Aku memilihkan dia orange juice. Baik kan, aku? Aku sudah senang dia mau menemaniku mabuk. Sekalipun dia minum OJ, kayak Kak Davit. Tapi dia bilang, "Aku juga mau alkohol".
Oke adek, adek Pink Lady ya, karena warnanya pink dan rasanya manis.
Lalu kita mulai ngobrol. Kalau dia nanya sebenarnya tesisku mau nulis apa, itu emang bikin nafas agak berat ya. Tapi berkat alkohol aku pun bercerita dengan lancar. So I told her, yang membuat aku bertanya-tanya itu, darimana gerakan datang. Hal ini tentu gak perlu dipertanyakan kalau si penari itu hanya meniru apa yang dilihatnya atau yang diajarkan padanya. Tapi gimana jika, di sebuah sesi eksplorasi dia melakukan rangkaian gerak yang juga mengejutkan dirinya sendiri, yang muncul entah dari mana, yang bukan "paketan aman"nya dia. Misalnya, wah itu Rianto banget. Dari mana Rianto mendapatkannya?
Manusia ini kan bertubuh ya. Apalagi kalau dia nari, tentu dia bekerja 90% dengan tubuhnya. Tubuh itu punya otot, organ-organ dalam, dan anatomi. Tapi Deleuze tidak membahas tubuh yang patologis ini (organ, anatomi, tubuh sebagai materi). Deleuze membahas tubuh sebagai kecepatan, berhenti, dan intensitas. Speed, rest, and intensity. Tiga ini adalah elemen tubuh, kapabilitas tubuh. Nah ini cocok dengan penari. Ya masa kita terus-terusan membahas penari dari kakinya yang jenjang atau point-nya yang runcing banget? Kan enggak. Kita bisa merasakan energi yang dihasilkan dari pergerakan si penari. Atau bahkan ketika penari itu diam, kita juga bisa terkena dampak dari diam tersebut. Jadi nari tuh bukan cuma gerak-gerak tak berfaedah LOL.
Semakin malam semakin panjang pembicaraannya, hingga sampai ke soal 'becoming', 'becoming-animal', 'becoming-plant'. Ini yang membuat tari semakin dalam dan menarik. Kembali ke mimpiku yang semrawut, jadi di dalam tidur itu aku berdebat kusir dengan kembaranku.
"Aku nggak bisa tidur nih, banyak nyamuk!"
"Katanya mau bersatu dengan alam, sudahlah terima dunia ini apa adanya."
"Hmm, oke" *menahan gatal dan kebencian terhadap nyamuk*
"Gimana nih aku ingin banget minum alkohol, tapi kan dosa."
"Ya sudah, jangan dipaksakan.."
"Maksudnya?"
"Kalo nggak bisa berselaras dengan Tuhan, ya nggak pa-pa. Kan bisa berselaras dengan se...se.. set..."
Dan aku terbangun karena sadar kalau bentar lagi mimpi itu akan jadi horror. Enci ketawa dengan cerita ini dan dia mengulang kalimat sianjing dalam mimpiku itu, "Berselaras dengan se...se..."
Comments