Skip to main content

(PART 2) This Year.2017

Oke PART 2 pake Bahasa Indonesia aja ya... (gak konsisten), Jadi sebenarnya aku sedih karena selama latihan lomba aku ngerasa sendirian banget. Kak Davit mentorin Heidi dan Ucup dalam artian bener-bener ngelatih kayak aku dilatih Miss Andara dulu waktu Dance Prix, sementara aku diler-ler kayak jemuran. Kayak ayam lepas gitu, latihan-latihan sendiri, bikin koreo sendiri, Duh, sedih Barbie. Barbie merasa Kak Davit sudah meninggalkanku. Huh! Padahal Tita udah bilang, ngapain sih lo kok mau ikut lomba dimentorin Miss A, paling ujung-ujungnya lo usaha sendiri. Ahahaha pinter ya Tita...  Terus jawabanku adalah, "Sudahlah aku cuma ingin perform aja kok" Wkwkwkw, lalu ditengah-tengah kesedihan gue ngerasa harus konsisten sama omongan gue dong, kan sudah tau dari awal (dikasih tau Tita) kalau aku akan berjuang sendirian diler-ler kayak jemuran, dibebaskan seperti ayam lepas. Tapi H-3 Miss Andara mulai WhatsApp-whatsapp sih, nanyain progress, minta video, dsb. Aku senang Ms.A suka koreonya.




Sebenarnya dari awal aku sudah tau gak akan menang, liat koreo Ucup susah gila dan semua gerakan dirancang untuk ngambil poin juri, apalah aku hanya butiran debu. Tapi justru perasaan tidak berharap menang ini yang membuat proses lomba kali ini lebih enjoyable daripada waktu Dance Prix. Nama-nama peserta kan juga udah keluar dua minggu sebelum lomba. Yang ikut guru-guru semua :D :D . Bener-bener gue gak ngejar menang. Tapi ngga ngejar menang bukan berarti santai. Aku ga mau tampil asal-asalan atau gak maksimal. Jadilah aku mampir SOM seminggu bisa 3 x, latihan sendiri sebelum kuliah. Waktu Recital itu kan aku sakit dan lama sembuhnya (karena punya sinusitis jadi sekali kena flu bisa dua minggu anget), tapi aku tetap latihan sendiri karena itu udah februari akhir bok.. lombanya 11 maret hahahaha. Stress, stress deh lu.

Gak lama setelah itu, bulan April, aku punya ide mau kasih hadiah -- lebih tepatnya kenang-kenangan -- buat temanku si Tita. Dia mau menikah dan pindah ke Jerman. Huuu sedih.

Comments

Popular posts from this blog

It Has Been A Lot!

Wow, where should I start? So my comeback to dance class after a month break (sebulan aje dibahas...gimana lebih? Udah jadi buku keleus :D) had been a wild ride. Right away rehearsal for a performance and coordinating an event at the same time. Berto gave me this job from IDF, where I worked as P.I.C for Dance Writing Workshop. My girl IKAN said why am I taking the job if I am so busy? The answer is clear: I need to pay college. Ikan said she can just lend me money and I can focus on my thesis. God, bless this human that is my best friend. That's very kind and thoughtful of her. Anyway, I took the job so I was running 2 events at the same time. One in Cikini, Central Jakarta and one in SOM, South Tangerang. I became an adept Commuter Line user. I no longer mistaken peron 1 with peron 2 and silly things like that, like not knowing which gate I should enter after scanning my card to enter the peron. Duh. Duh 100x. I wasn't particularly on diet but I really didn't want to ea...

What is happiness? It sounds like a snack.

I would, like usually, open this post by saying "Things are crazy". Yes, I don't know are things really crazy or is it just me. I think it's the latter. Life appears as surprises to me. And I act like a door, opening this tunnel, closing another one. I don't feel dull, and I can't say my days have been dull for they are full with challenges. But I have been so alone. This also sounds weird. Since when that I'm not alone? I always pull myself back from any social event. I hang out alone. I guess the last time I had a good time outside the house/office/campus with another human being was the last Saturday in January, so it's a month ago. It is true that if I just ask, I will get people willing to go with me. But I am the pickiest picky pick ever because most of the times when I don't pick, I get bored with dull conversations, or a view of someone watching his/her phone like there's nothing else to see. So all this time I hang out alone. Mos...

yang hilang dan jadi debu

ada sesuatu yang diam-diam kupercaya walau ia hilang ditelan bisingnya Jakarta: Islam ada cara hidup yang sederhana, menawarkan kesadaran untuk mampu mengendalikan kecepatan, dengan disiplin lima kali dalam sehari, dan tidak lebih lama dari basa-basi ada cara bertutur yang tegas dan disetujui tubuh, istighfar membuatku sadar, bahwa yang sakit bisa pulih tasbih menunduk-daguku, bahwa seniman itu sebuah entitas hamdalah hangatkan bahuku, ada yang Maha kendali di atas kendaliku