Semua orang bisa jadi medioker karena itu mudah. Mengerjakan sesuatu dengan hasil akhir "sedapatnya", "seadanya", "yang penting selesai" adalah ciri mental medioker.
Kerjakan dengan baik atau tidak sama sekali. Tanpa bermaksud ingin menyindir apalagi menyinggung perasaan orang, hal ini adalah hal utama yang ingin saya sampaikan pada kawan-kawan yang belajar pada saya di kelas kursus bahasa inggris, kelas tari, maupun mahasiswa di kampus.
Saya suka mengajar. Mengajar adalah kegiatan menyampaikan sesuatu dengan contoh, dengan melakukan agar dicontoh. Lewat mengajar, saya ingin menyampaikan betapa pentingnya bersungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu. Dan dewasa ini, sikap itu sudah menjadi jarang. Harga fasilitas-fasilitas jasa meningkat, dengan pelayanan yang menurun. Ini karena sekarang medioker menjadi sifat yang wajar dan sebaliknya, sikap bersungguh-sungguh menjadi terlihat "lebay", "terlalu serius", "cari muka", dan sebagainya. Semua orang boleh menjadi medioker, tapi jangan anak-anak didik saya. Saya tidak marah jika mereka berbuat salah dalam belajar, tapi saya marah jika mereka tidak melakukan yang terbaik dalam mengerjakan tugas, dalam mempresentasikan sesuatu. Itu bukti apresiasi dan hormat kita pada pekerjaan yang kita punya, pada integritas diri sendiri, dan pada kemampuan yang kita miliki. Mereka membayar saya untuk mengajar mereka, bukan untuk membuang-buang waktu bersama mereka. Maka sebaliknya, sering saya katakan "Kamu ikut kelas ini, kalau nggak sungguh-sungguh, kamu hanya membuang-buang waktu saya, dan kamu sendiri buang waktu dan uang dengan percuma. Tanpa dedikasi yang total kamu nggak akan berprogres."
Semua orang boleh jadi medioker, tapi tidak murid saya. Dan guru-guru terbaik yang pernah mengajar saya menekankan hal yang sama. Salah satu dari mereka pernah mengatakan "Kamu tidak bisa mengharapkan kesungguhan hati dan tekad yang bulat dari orang murahan." Walau terdengar pahit, sesungguhnya itu masuk akal. Dan obat yang manjur tidak manis rasanya.

Comments