Akhirnya di hari Selasa malam ini, aku berkesempatan nonton The Conjuring untuk ke-dua kalinya karena Daru minta ditemenin nonton. Film karya sutradara James Wan ini cukup menarik perhatian, dan banyak orang yang kukenal menonton film ini MINIMAL dua kali. Bagiku, banyak yang bisa dibahas selain bahwa film ini berdasarkan kisah nyata.
1. VISUAL
Dilihat dari pergerakan kamera, aku sangat tertarik dengan seringnya penggunaan gerak hand held terutama di scene-scene awal (saat keluarga Perron sibuk memindahkan barang ke rumah baru yang menjadi setting utama, dsb) namun seiring film terus menuju klimaks, ketegangan meningkat, pergerakan kamera menjadi lebih steady. Walau demikian, angle dan cara kamera membangun perspektif sangat eksploratif. Misalnya saat Christine mengalami gangguan untuk ke-2 kalinya, di mana ia memutuskan untuk memeriksa kolong tempat tidur. Pada sebuah shot dengan gambar jungkir balik, diperlihatkan pada penonton bahwa masalahnya bukan terletak di kolong tempat tidur, tapi pada pintu. Ada sesuatu di balik pintu, namun shot itu diambil dari sudut pandang orang yang melongok ke kolong tempat tidur, menarik sekali. Untuk ukuran film Hollywood, shot-shot arahan James Wan dalam film ini tidak menyuapi penonton, kita bebas melihat atau memfokuskan pandangan ke arah manapun yang kita mau dalam sebuah shot, namun tentu saja ini tidak berarti tidak ada titik fokus, namun dengan visual shot yang membebaskan arah pandang kita ini, sutradara bisa memberi kejutan dari sisi-sisi frame yang tak terduga.
Perspektif dan Point Of View
Jika point of view adalah dari sudut pandang mana/siapa kita memandang, misalnya dari belakang punggung Lorraine yang turun ke basement, atau dari sudut pandang Nancy yang melihat ke arah Christine yang ketakutan sambil menunjuk Nancy, tujuan dipilihnya point of view adalah perspektif, efek psikologi pada penonton yang dihasilkan oleh posisi-posisi kamera. Aku rasa ada usaha lebih untuk mengeksplorasi efek psikologi menggunakan point of view dalam film The Conjuring ini. Secara keseluruhan, eksplorasi visual pada film ini membuat The Conjuring tampak mahal, dan berharga untuk meluangkan waktumu menonton di bioskop.
2. NARATIF
Alur cerita linear memang paling pas untuk kisah seperti ini. Penceritaan gaya Sistem Hollywood Klasik digunakan The Conjuring untuk membawa penonton pada petualangan roller coaster: Opening, Middle, Ending.
Pada opening, penonton diperkenalkan dengan siapa Ed dan Lorraine Warren melalui kasus boneka Annabel, hingga munculnya judul The Conjuring. Gaya bercerita yang sangat klasik.
Comments