Ah...bus kota, selalu melahirkan romansa tersendiri di kepalaku,
menggulirkan kalimat-kalimat yang entah datang dari mana. Dari kepala, hati, ataukah mimpi?
Kemarin aku naik Kopaja 20, ber-AC, kursinya disusun berhadapan dengan jarak yang cukup lengang, rapi sekali. Deck kemudi supir juga bersih dan tampak berteknologi tinggi, ada tiga panel pintu, tiga panel lampu, dan radio.Aku duduk di baris kiri, kursi paling depan, agar bisa melihat jalan. Entahlah sore itu, bahkan sekedar badan bus pun membawa melankoli. Ada rasa haru dalam kenyataan bahwa aku bagian dari sebuah evolusi bus kota. Dulu bahuku bersandar pada besi berkarat, lantainya terlihat seperti seng yang teramat keropos sehingga kau bisa melihat aspal di bawahnya. Bus tidak membawamu ke tempat tujuan dengan ketenangan seperti ini. Setiap beberapa menit supir akan menarik rem dengan kuat dan tiba-tiba, kamu juga akan terbiasa dengan sensasi melompat dari kursimu karena bus tidak melambatkan lajunya ketika melewati jalan yang bergelombang. Pernah aku memberanikan mengeluarkan kamera pocketku, dengan resiko menarik perhatian pencopet, untuk memotret mesin kemudi yang bukan sekedar rusak, tapi hancur. Tinggal kabel-kabel yang terlihat renta, dan botol Aqua supir yang sudah terpapar sinar matahari seharian, siap membunuh peminumnya, dengan karsinogen. Bus rusak dengan supir yang tidak mengerti apapun selain target setoran -- itulah yang menjadi konsumsi warga Jakarta yang tidak punya kendaraan pribadi, setiap hari. Ah, begitu lamakah aku tinggal di kota ini sehingga mengalami perubahan dramatis ini? Perasaanku yang begitu melankoli pada Jakarta dikarenakan aku masih merasa sebagai pendatang. Aku tidak pernah merasa menjadi bagian dari kota ini, namun kehadiranku utuh, selalu seluruh. Dulu aku rela melalui perjalanan pengab, berdesakan, merusak rapihnya baju yang telah disetrika, segarnya wajah karena usapan bedak dan pelembab -- demi melihat sesuatu yang baru, demi menjangkau pusat rimba -- tak ada kata "hilang" bagi orang yang tidak berumah.
Aku masihlah anak kecil yang selalu menghadapkan badan ke jendela sepanjang perjalanan, dengan mata berbinar seolah sedang melalui dunia dalam dongeng. Ingatan itu membuatku menarik nafas dalam, menghembuskannya panjang. Begitu dalamnya tarikan nafas itu dapat kurasakan saat oksigen meluncur ke tenggorokan lalu mengisi ruang tubuh, dan meninggalkannya lagi. Nafas ini menyadarkanku akan keberadaan kosmik, dari sebuah kata Yunani kosmos yang punya banyak arti, namun diantaranya adalah "menyiapkan barisan (untuk perang)" dan "alam raya". Oksigen yang masuk mengisi ruang tubuhku kemudian pergi, dan terus demikian membuatku berimajinasi, dan semakin percaya bahwa aku sendiri adalah sebuah alam raya. Tubuhku layaknya mikro-kosmos bagi kesadaranku yang merupakan makro-kosmos. Lalu aku dan kesadaranku bersamaan, adalah mikrokosmos bagi alam raya ini!
Itulah mengapa aku selalu suka memperhatikan orang, terutama saat mereka diam, saat mereka sendirian. Apakah mereka juga bergumul dan ngelantur seperti aku? Ataukah mereka hanya diam, memang benar-benar diam? Aku tidak percaya -- mata tak bisa berbohong. Sekalipun seseorang memejamkan mata dan bersandar, aku tetap berpikir ia sedang bergumul dengan pikirannya. Aku merasa seperti sebuah planet, dan Kopaja 20 ini berisi planet-planet. Berpuluh tahun aku berjalan mengelilingi planetku sendiri, belum juga selesai dijelajahi...
Seorang penumpang wanita naik dan berjalan melewatiku. Tubuhnya kurus, mengenakan pakaian kerja. Wajahnya tirus dan tampak lelah, namun matanya seperti sedang jatuh cinta. Ah, itu mungkin hanya pendapatku. Aku sering membuat-buat cerita dari orang-orang yang tak kukenal, berjalan melewatiku begitu saja; orang-orang yang kutemui di perjalanan. Aku tidak pernah melihat kaki sekurus itu, dengan mata telanjang, dari jarak dekat. Tidak, wanita ini tidak menyeramkan, namun tampak seperti barang pecah belah. Kulitnya putih, rambutnya pendek, lurus, dengan poni yang malas-malasan menggantung di atas kedua matanya yang lebar. Dia memegang handphone dengan jemari-jemari kurusnya, merekam suaranya, mungkin ia hendak mengirimkan pesan suara yang begitu diusahakannya agar akan selalu teringat oleh penerimanya. Seluruh tubuh kurusnya itu tampak sedang tersenyum saat sedang merekam pesan itu.
Aku tidak pernah sekurus dia, aku mungkin pernah tampak ringkih, namun aku belum pernah jatuh cinta hingga merekam suaraku dengan ekspresi seindah itu. Aku belum pernah jatuh cinta pada seseorang hingga setiap helai rambutnya tampak sedang berbicara pada handphone itu. Sungguh sebuah planet asing. Bagaimanakah rasanya hidup di planetnya? Pasti suhu tubuhnya dingin karena kurang daging dan lemak. Kini wanita itu berjalan, hendak turun dari bus. Ia melewatiku dan kulit kakinya menyentuh kakiku. Kakinya bersandar lama pada kakiku. Mungkin ia tidak menyadarinya. Kulitnya hangat! Mungkinkah Mars itu planet yang sedang jatuh cinta?
Ah, abaikanlah ceritaku, aku memang selalu begitu!
menggulirkan kalimat-kalimat yang entah datang dari mana. Dari kepala, hati, ataukah mimpi?
Kemarin aku naik Kopaja 20, ber-AC, kursinya disusun berhadapan dengan jarak yang cukup lengang, rapi sekali. Deck kemudi supir juga bersih dan tampak berteknologi tinggi, ada tiga panel pintu, tiga panel lampu, dan radio.Aku duduk di baris kiri, kursi paling depan, agar bisa melihat jalan. Entahlah sore itu, bahkan sekedar badan bus pun membawa melankoli. Ada rasa haru dalam kenyataan bahwa aku bagian dari sebuah evolusi bus kota. Dulu bahuku bersandar pada besi berkarat, lantainya terlihat seperti seng yang teramat keropos sehingga kau bisa melihat aspal di bawahnya. Bus tidak membawamu ke tempat tujuan dengan ketenangan seperti ini. Setiap beberapa menit supir akan menarik rem dengan kuat dan tiba-tiba, kamu juga akan terbiasa dengan sensasi melompat dari kursimu karena bus tidak melambatkan lajunya ketika melewati jalan yang bergelombang. Pernah aku memberanikan mengeluarkan kamera pocketku, dengan resiko menarik perhatian pencopet, untuk memotret mesin kemudi yang bukan sekedar rusak, tapi hancur. Tinggal kabel-kabel yang terlihat renta, dan botol Aqua supir yang sudah terpapar sinar matahari seharian, siap membunuh peminumnya, dengan karsinogen. Bus rusak dengan supir yang tidak mengerti apapun selain target setoran -- itulah yang menjadi konsumsi warga Jakarta yang tidak punya kendaraan pribadi, setiap hari. Ah, begitu lamakah aku tinggal di kota ini sehingga mengalami perubahan dramatis ini? Perasaanku yang begitu melankoli pada Jakarta dikarenakan aku masih merasa sebagai pendatang. Aku tidak pernah merasa menjadi bagian dari kota ini, namun kehadiranku utuh, selalu seluruh. Dulu aku rela melalui perjalanan pengab, berdesakan, merusak rapihnya baju yang telah disetrika, segarnya wajah karena usapan bedak dan pelembab -- demi melihat sesuatu yang baru, demi menjangkau pusat rimba -- tak ada kata "hilang" bagi orang yang tidak berumah.
Aku masihlah anak kecil yang selalu menghadapkan badan ke jendela sepanjang perjalanan, dengan mata berbinar seolah sedang melalui dunia dalam dongeng. Ingatan itu membuatku menarik nafas dalam, menghembuskannya panjang. Begitu dalamnya tarikan nafas itu dapat kurasakan saat oksigen meluncur ke tenggorokan lalu mengisi ruang tubuh, dan meninggalkannya lagi. Nafas ini menyadarkanku akan keberadaan kosmik, dari sebuah kata Yunani kosmos yang punya banyak arti, namun diantaranya adalah "menyiapkan barisan (untuk perang)" dan "alam raya". Oksigen yang masuk mengisi ruang tubuhku kemudian pergi, dan terus demikian membuatku berimajinasi, dan semakin percaya bahwa aku sendiri adalah sebuah alam raya. Tubuhku layaknya mikro-kosmos bagi kesadaranku yang merupakan makro-kosmos. Lalu aku dan kesadaranku bersamaan, adalah mikrokosmos bagi alam raya ini!
Itulah mengapa aku selalu suka memperhatikan orang, terutama saat mereka diam, saat mereka sendirian. Apakah mereka juga bergumul dan ngelantur seperti aku? Ataukah mereka hanya diam, memang benar-benar diam? Aku tidak percaya -- mata tak bisa berbohong. Sekalipun seseorang memejamkan mata dan bersandar, aku tetap berpikir ia sedang bergumul dengan pikirannya. Aku merasa seperti sebuah planet, dan Kopaja 20 ini berisi planet-planet. Berpuluh tahun aku berjalan mengelilingi planetku sendiri, belum juga selesai dijelajahi...
Seorang penumpang wanita naik dan berjalan melewatiku. Tubuhnya kurus, mengenakan pakaian kerja. Wajahnya tirus dan tampak lelah, namun matanya seperti sedang jatuh cinta. Ah, itu mungkin hanya pendapatku. Aku sering membuat-buat cerita dari orang-orang yang tak kukenal, berjalan melewatiku begitu saja; orang-orang yang kutemui di perjalanan. Aku tidak pernah melihat kaki sekurus itu, dengan mata telanjang, dari jarak dekat. Tidak, wanita ini tidak menyeramkan, namun tampak seperti barang pecah belah. Kulitnya putih, rambutnya pendek, lurus, dengan poni yang malas-malasan menggantung di atas kedua matanya yang lebar. Dia memegang handphone dengan jemari-jemari kurusnya, merekam suaranya, mungkin ia hendak mengirimkan pesan suara yang begitu diusahakannya agar akan selalu teringat oleh penerimanya. Seluruh tubuh kurusnya itu tampak sedang tersenyum saat sedang merekam pesan itu.
Aku tidak pernah sekurus dia, aku mungkin pernah tampak ringkih, namun aku belum pernah jatuh cinta hingga merekam suaraku dengan ekspresi seindah itu. Aku belum pernah jatuh cinta pada seseorang hingga setiap helai rambutnya tampak sedang berbicara pada handphone itu. Sungguh sebuah planet asing. Bagaimanakah rasanya hidup di planetnya? Pasti suhu tubuhnya dingin karena kurang daging dan lemak. Kini wanita itu berjalan, hendak turun dari bus. Ia melewatiku dan kulit kakinya menyentuh kakiku. Kakinya bersandar lama pada kakiku. Mungkin ia tidak menyadarinya. Kulitnya hangat! Mungkinkah Mars itu planet yang sedang jatuh cinta?
Ah, abaikanlah ceritaku, aku memang selalu begitu!
Comments